Desa Itu
Kolom

Desa Itu

Persawahan Mbeling dengan model terasering memberikan kesan tersendiri bagi turis Belgia yang melakukan wisata ekologi kawasan Mbeling, Kecamatan Borong, Manggarai Timur,Flores, NTT, Senin (14/8/) | Foto: Kompas/Markus Makur

Oleh: Jodhi Yudono

Desa diperbincangkan melalui diskusi, seminar, sampai obrolan santai di warung kopi. Desa menjadi topik yang selalu seksi untuk digelar di berbagai ruang dan waktu. Sebagian memang berharap desa menjadi ruang hidup yang terus bertunbuh dan bermartabat, sebagian lainnya berharap mendapatkan berkah “proyek” dari memperbincangkan desa.

Pagi ini saya berada di auditorium Gedung Makarti Bakti Nagari lantai 2 Lembaga Administrasi Negara, Pejompongan Jakarta Pusat, juga memperbincangkan desa. Temanya, Penguatan Desa dengan policy paper: Sinergi Penguatan Desa Melalui Peningkatan kapasitas dan Pendayagunaan Sumberdaya. Matra pun digelar melalui kebijakan, strategi dan program sinergi pengelolaan, pendayagunaan sumberdaya, dan peningkatan kapasitas SDM.

Terus terang, saya kurang tertarik atas diskusi ini. Saya malah asyik melamun, mengenangkan masa lalu saya saat hidup di desa. Bagi saya, membayangkan desa adalah mengenangkan masa kanak-kanak, saat saya hidup dan tumbuh di desa. Sebuah pengalaman yang kini harus saya syukuri karena saya pernah melintasi kehidupan di sana, di desa. Sehingga saya merasa memiliki akar tradisi yang menguatkan kehidupan saya ketika menegakkan hidup di usia dewasa.

Di desa saya mengenal dengan baik hidup yang saling menghargai, hormat terhadap yang tua dan mengasihi pada yang muda. Tak cuma itu, kondisi alam dan ketiadaan sarana transportasi kala saya masih kecil, justru menguatkan fisik dan rokhani saya. Otot-otot kaki saya kuat karena terbiasa berjalan berkil-kilo meter yang kadang diwarnai terik matahari, hujan dan debu. Rokhani saya kuat karena sedari kecil sudah terlatih menggembala kambing yang pasti memerlukan kesabaran dan ketabahan.

Demikianlah, desa jadi semacam kawah candradimuka bagi anak-anak. Dari situasi inilah, kita jadi mafhun jika hampir semua pemimpin negeri ini lahir dari desa dan melewati masa kanak-kanaknya di desa. Jiwa dan raga mereka sudah terlatih dengan baik dan siap hidup dan menghidupi ruang dan waktu kapan dan di mana saja.

Jadi, bagi saya, membangun desa bukanlah mengubah wajah desa menjadi kota kecil, lengkap dengan sarana-sarana khas perkotaan mulai dari transportasi sampai sarana belanja yang berkilau. Bagi saya, membangun desa adalah membangun kesejahteraan dan kebahagiaan warga desa dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan potensi yang sudah ada dalam bidang kerajinan tangan, pertanian, kesenian hingga acara-acara tradisi yang bisa mendatangkan tetamu yang berarti juga penghasilan tambahan buat penduduk desa.

Selebihnya, biarlah desa menjadi desa sebagaimana yang kita kenal selama ini. Jauh dari bising kendaraan, udara segar, terjaganya nilai-nilai gotong-royong, dan pergaulan yang memulyakan manusia dengan menjunjung tatakrama dan etika.

Membangun desa harus tetap berpijak pada penjagaan nilai-nilai, pada local wisdom. Kita bisa berguru kepada orang Baduy yang masih tetap menjaga nilai-nilai tradisi, suku kajang dan suku-suku terasing lainnya. Mereka tetap menjaga kampung mereka tetap tak tersentuh mesin kendaraan, sehingga udara Desa Kanekes tempat suku Baduy bermukim tetap bersih dan segar. Membagun dan merawat nilai-nilai kebajikan adalah juga pembangunan yang tak kalah pentingnya.

Membicarakan desa dari dulu hingga kini, rasanya tak pernah beranjak dari urusan perut dan fisik. Ya, perut warga desa juga perut para pembicaranya yang banyak menjadikan tema “desa” sebagai proyek bahasannya. Konon, warga miskin di pedasaan hingga hari ini mencapai 64 persen. Bisa jadi, kemiskinan yang terjadi karena mereka memang sedikit dipikirkan, tapi juga karena adanya unsur kesengajaan dari para tengkulak dan lintah darat yang sampai sekarang masih gentayangan dengan cara ijon, intimidasi kepemilikan tanah, sampai praktik-praktik rentenir yang mencekik leher. Walhasil, semua ukuran pembangunan harus berujud, berfisik, dan juga urusan perut yang terkesan sebagai proyek belas kasihan berujud sumbangan bahan makanan.

Tidak kah terpikir bahwa warga desa sebetulnya lebih membutuhkan stimulus berupa contoh dan tauladan yang langsung bersentuhan dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari secara intens? Guru ngaji, seniman, atau siapapun yang rela menjadi tenaga voulentir dengan bekal ketulusan dan oengabdian, barangkali lebih bermanfaat buat orang desa daripada mereka yang datang dengan segepok teori dan peralatan canggih.

Ya, ya…tugas orang kota atau orang pinter adalah menjadi virus kebaikan bagi orang-orang desa untuk membangkitkan dan memberdayakan mereka. Sardono W Kusumo dan Deddy Luthan (alm), keduanya koreografer, adalah contoh dari virus kebaikan. Keduanya rela menjadi virus kebaikan dan hidup bersama orang desa selama berbulan-bulan. Sardono tinggal di sebuah desa di Bali, sementara Deddy Luthan hidup di pedalaman Kalimantan. Keduanya hidup dan menjadi orang desa sambil menularkan pengetahuan mereka sebagai koreografer dan orang pintar dari kota. Setahun kemudian, para pencinta tari dunia pun bisa menikmati komposisi tari luar biasa berjudul “Dongeng dari Dirah” karya Sardono W Kusumo dan “Ketika Anggrek Hitam Berbunga” (2002) karya Deddy Luthan. Karya mereka dikelilingkan di berbagai kota dan negara, menjadi manfaat bagi bangsa dan menjadi pemantik kreatif bagi warga desa. (Jodhi Yudono menulis esai di media sejak tahun 1989. Kini, selain menulis berita dan kolom di kompas.com, kelahiran 16 Mei ini juga dikenal sebagai musisi yang menyanyikan puisi-puisi karya sendiri maupun karya penyair-penyair besar semacam WS Rendra, Chairil Anwar, Darmanto Jatman, dan lain-lain)

Sumber: Kompas Kolom

Post Comment