Makan Dukun hingga Darah, Ini 5 Ritual Balas Dendam di Masa Lalu

Makan Dukun hingga Darah, Ini 5 Ritual Balas Dendam di Masa Lalu

Ilustrasi seseorang yang kerasukan voodoo | Foto: Voodoopossesion.wordpress.com

Metro Merauke – Pembalasan dendam menjadi bagian besar dalam pengalaman kemanusiaan kita.

Sepanjang sejarah, bahkan hingga sekarang ini, berlaku praktik-praktik yang dilandasi pada prinsip bahwa ketidakadilan harus dibalas.

Seperti dikutip dari listverse.com pada Senin (28/8), tindakan pembalasan dendam dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang biasa-biasa hingga yang paling aneh.

Berikut adalah 5 praktik balas dendam yang aneh tapi nyata:

Membinasakan Setan, India

Ilustrasi Sarva Buddha Dakini | Foto: Sumber Wikimedia Commons

Yang disebut churel adalah setan dalam kalangan masyarakat Asia Selatan, terutama yang ada dalam hikayat rakyat India. Asal-usulnya bisa dikatakan bersifat misgoni karena churel disebut-sebut sebagai arwah seorang wanita yang meninggal saat kehamilan atau dalam masa nifas 40 hari.

Bukannya dikenang secara simpatik, wanita yang meninggal itu ditakuti dan difitnah.

Churel dipercaya terobsesi dengan dendam terhadap mereka yang menjahatinya. Secara relatif, tidak dikenal adanya penyesalan karena telah melakukan kesalahan.

Kebanyakan energi kaum pria sengaja dikerahkan saat ritual untuk mencegah pembalasan oleh setan wanita itu.

Dalam tradisi Hindu dikenal pembakaran jasad wanita. Tapi, untuk mereka yang berisiko tinggi menjadi calon churel, penguburan dianggap menjadi pilihan yang lebih aman.

Satu metode populer untuk pembalasan terhadap churel adalah dengan menguburkan wanita terduga dalam makam yang dipenuhi duri dan tutup petinya ditimpa batu berat.

Dengan demikian, churel yang pendendam tidak bisa kabur dan dipaksa tidak bergerak-gerak agar tidak sakit terkena duri selamanya.

Teknik pemakaman churel di Gurdaspur bahkan melibatkan dipakunya jari-jari jasad wanita. Jempol kaki dan tangan pun diikat bersama menggunakan cincin-cincin besi. Lalu, biji jintan ditebarkan sekigtar kuburan karena wanginya dianggap dapat menenangkan si churel.

Menggantung Comblang, Lithuania

Ilustrasi tradisi pernikahan Lithuania | Foto: Credomagazine.nl

Dalam banyak budaya, alkohol menjadi bagian besar beberapa budaya. Tapi, menurut sejarah, pesta-pesta pernikahan di Lithuania sedikit berbeda daripada sekadar pesati wine dan koktail yang biasa-biasa saja.

Maksudnya, alkohol memiliki peran yang lebih besar dan merasuk dalam upacara itu sendiri sehingga bahkan setiap tamu yang secara tradisional tergolong santun pun akan kelabakan.

Sepanjang hari, para tamu berteriak, “Pahit!” untuk menandakan saatnya semua pasangan menenggak satui seloki vodka. Kemudian pasangan-pasangan itu bermesraan sehingga manisnya ciuman mengusir kepahitan dari minuman.

Kepahitan juga menjadi tema ritual paling aneh dalam pernikahan. Menurut narasi upacara, seorang comblang (matchmaker) yang biasanya lelaki diperkenalkan sebagai seorang pembohong ulung.

Ia disebut-sebut merekayasa tipuan tentang kekayaan pengantin wanita. Si wanita dihina sebagai seorang yang miskin dan sekarang semua orang pun mengetahuinya.

Pembalasan harus dilaksanakan dan keadilan pembalasan dendam diangkap setimpal dalam bentuk hukuman gantung. Terdengar ekstrem, tapi ingat mereka sedang mabuk vodka.

Sebelum comblang itu benar-benar digantung, pengantin wanita datang menyelamatkannya dan yang digantung kemudian hanyalah patung yang mirip.

Dendam Darah Suku Chickasaw, Amerika Utara

Ilustrasi kaum pria suku Chickasaw | Foto: Chickasaw.net

Suku Chickasaw adalah penduduk pribumi kawasan Southeastern Woodlands. Teritori mereka mencakup wilayah yang sekarang menjadi negara bagian Tennessee, Alabama, dan Mississippi.

Pada masa lalu, dendam darah merupakan bagian penting dalam budaya mereka. Jika ada orang yang dibunuh, maka si pembunuh juga harus mati agar roh korban pembunuhan bisa beristirahat dengan tenang.

Selain itu, pembalasan dimaksudkan agar arwah korban tidak lagi menguntit pelaku demi melampiaskan dendam.

Keengganan mengejar pelaku dipandang sebagai tindakan pengecut. Suku Chickasaw percaya bahwa arwah korban mengetahui hal itu dan sangat tidak menyukainya.

Jangan heran kalau ada yang mati lagi. Jika kerabat dekat korban tidak bisa membalaskan dendam sepenuhnya pada si pembunuh karena alasan tertentu, maka warga Chickasaw akan meminta ganti salah satu satu anggota keluarga si pembunuh.

Tapi sungguh tidak terhormat jika tidak mengajukan diri untuk dihukum mati karena arwah yang demikian akan bernasib sial. Dengan demikian, ritual eksekusi dendam biasanya berlangsung tanpa susah-payah.

Boneka Voodoo, Inggris

Boneka voodoo di Museum of Witchcraft | Foto: Wikimedia Commons

Boneka voodoo mungkin menjadi benda supernatural paling dikenal untuk urusan pembalasan dendam. Secara alamiah, kita menduga boneka-boneka itu berasal dari praktik voodoo.

Ternyata tidak demikian. Patung-patung lilin yang dilumat dengan maksud membawa kutuk kepada korban dipakai di banyak tempat di masa lalu, termasuk Persia dan Mesir.

Di Inggris, boneka berbahan benang yang disebut poppets cukup lazim pada masanya. Selama berabad-adab, boneka-boneka itu dipakai dalam kegiatan sihir.

Kadang-kadang bonekanya ditempatkan dalam cerobong perapian agar korban merasa kepanasan.

Film-film di masa lalu membantu menciptakan miskonsepsi tentang boneka voodoo dan tempat asalnya. Salah satu miniatur boneka voodoo dalam film mirip yang dipakai kaum licik di Inggris.

Warga saat itu menusuk boneka itu untuk melawan dugaan serangan ilmu hitam. Pelaku juga diketahui memakai “botol sihir” untuk membantu mengirim kutukan.

Ramuan dalam botol biasanya berisi cairan tubuh, guntingan kuku, dan rambut korban sasarannya. Diduga, praktik licik itu ikut andil pada gambaran masa kini tentang benda-benda yang diperlukan dalam produksi boneka voodoo.

Menyantap Khakhua, Papua Nugini

Suku Fore di Papua Nugini yang melakukan praktik kanibalisme di masa lalu | Foto: Ancient Origins

Suku Korowai di Papua Nugini diketahui menyantap sesamanya, tapi mereka tidak menganggap dirinya kanibal. Bahkan jasad seseorang yang disantap tidak dianggap sebagai jasad manusia.

Mereka percaya ada jenis dukun tertentu – dinamai khakhua – yang boleh menyantap isi tubuh ketika korban sedang tidur dan mengganti organ dalamnya dengan debu. Khakhua kemudian membunuh korban dengan menancapkan panah gaib pada jantung korban.

Penyihir-peyihir berbahaya itu hidup di kalangan warga suku dalam bentuk manusia. Warga Korowai mengetahui keberadaan khakhua di antara mereka ketika, sesaat sebelum korban meninggal, korban mendapatkan terawangan tentang pelaku pembunuh dirinya.

Warga Korowai pun segera melakukan pembalasan. Warga yang dicurigai sebagai khakhua pun dibunuh dan dimakan. Hal itu dilakukan agar membinasakan arwah si jahat demi melindungi kesucian suku.

Ketika ditanyai oleh seorang jurnalis yang berkunjung tentang tindakan kanibalisme karena alasan-alasan lain, seorang warga Korowai menjawab, “Tentu tidak. Kami tidak menyantap manusia, kami hanya menyantap khakhuai.” (Alexander Lumbantobing)

Sumber: Liputan6

Advertisement