Sitti Letsoin, Wanita Peduli Pendidikan di Kali Weda

Sitti Letsoin, Wanita Peduli Pendidikan di Kali Weda

Warga belajar di PKBM Weda Agletok Say antusias belajar

Metro Merauke – Merauke merupakan kabupaten induk di wilayah selatan Papua. Dari Kabupaten inilah lahir Kabupaten Mappi, Asmat dan Boven Digoel.

Tanah Anim Ha (sebutan lain Merauke), juga merupakan pusat pendidikan di wilayah selatan Bumi Cenderawasih. Namun jumlah anak putus sekolah dan tidak bersekolah di Kota Merauke terus meningkat.

Berbagai faktor disebut sebagai penyebabnya. Selain keterbatasan ekonomi, tuntutan mencari nafkah membuat masyarakat mengabaikan pentingnya pendidikan untuk generasi muda.

Tidak hanya di kampung-kampung, daerah yang aksesnya sulit, namun di wilayah kota masih banyak anak putus sekolah dan tidak bersekolah. Misalnya di Jalan Kali Weda, Kelurahan Samkai, Distrik Merauke.

Meski berada di wilayah kota, namun tidak sedikit anak yang ada di daerah itu yang tidak mengenyam pendidikan.
Kondisi ini menggugah hati Sitti Habiba Letsoin (45).

Kekhawatirannya akan nasib dan masa depan generasi bangsa ketika masyarakat telah mengabaikan pendidikan mendorongnya untuk segera bertindak.

Bersama beberapa rekannya, ibu dua anak tersebut mengajak puluhan anak yang tidak mendapat pendidikan itu belajar di rumahnya, sejak 2015 lalu.

“Mereka tinggalnya tidak jauh dari rumah saya, di Jalan Kali Weda. Setiap hari anak-anak usia sekolah tidak ke sekolah. Ada yang bermain, menjaga adiknya bahkan ada yang mencari kaleng di jalan,” kata Sitti Habiba Letsoin, Sabtu (19/8).

Apa yang dilakukannya ini karena ingin melihat anak-anak Papua memiliki masa depan yang lebih baik. “Dengan belajar dan sekolah pasti nantinya bisa merubah kehidupan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Berbekal pengalaman pernah menjadi pendidik tidak tetap di salah satu sekolah di Kota Merauke, ia bertekad mengajar anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.

Apa yang dilakukan istri seorang prajurit TNI Angkatan Laut ini mendapat dukungan dari pemerhati pendidikan di Merauke, Sergius Womsiwor.

Ia kemudian membentuk Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) yang diberi nama Weda Agletok Say dan kini sedang menuju tahapan terakreditasi.

PKBM Weda Agletok Say telah mempunyai 50 lebih siswa binaan, mulai dari anak usia dini hingga paket C. PKBM Weda Agletok Say dibantu lima orang tutor. Mereka tidak mendapat upah bulanan. Meski begitu, tidak ada pungutan biaya.

Habibah dan suaminya merelakan rumahnya dijadikan tempat belajar itu, sebagai ruang kelas dan arena kegiatan para siswa. Sejak PKBM itu didirikan, sudah ada sejumlah warga binaannya yang telah lulus ujian paket.

Siswa PKBM Weda Agletok Say tidak hanya dilatih menulis, membaca dan berhitung, juga mendapatkan edukasi sanitasi dan belajar beribadah setiap hari.

”Semua peralatan belajar yang kami gunakan sangat sederhana dan terbatas. Tapi semuannya tetap semangat untuk belajar.”

Untuk biaya operasional PKBM sehari-hari, menggunakan dana pribadi. Pihaknya berharap pemerintah tidak menutup mata dan konsen dalam peningkatan SDM orang asli Papua.

“Sudah pernah PKBM ini dikunjungi anggota dewan, tapi hanya sekedar tinjauan saja. Padahal masih banyak anak-anak kita yang butuh perhatian,” ucapnya.

Pemerintah, legislatif dan instansi terkait kata dia, perlu serius memotivasi anak-anak Merauke menjadi generasi muda yang cerdas, sehat dan berbudi pekerti. (Nuryani/Arjuna)

Advertisement