Hidup Itu Merdeka!
Kolom

Hidup Itu Merdeka!

Sejumlah warga mengikuti lomba panjat pinang kolosal di Pantai Carnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (17/8). Dalam perlombaan panjat pinang kolosal itu disiapkan 172 batang pohon pinang dengan aneka macam hadiah sekaligus memeriahkan perayaan HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia. | Foto: KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG

Oleh: Ren Muhammad

“SEKARANG tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah-air dalam genggaman tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.”

Begitu sebuah nukilan pidato Bung Karno pada peringatan kemerdekaan Indonesia, 72 tahun silam.

Pidato singkat itu dibacakan persis sebelum Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan kita.

Ratusan orang yang hadir pada momen luarbiasa tersebut, larut dalam gejolak perasaan tak terperi. Ratusan tahun berjuang akhirnya berbuah juga.

Jumat pagi itu, pejuang kemerdekaan–baik secara fisik maupun bangsawan pikiran, meletupkan energi besar yang sulit dibendung Belanda atau Jepang. Kita merdeka dengan tabularasa.

Sejujurnya, saya masih kesulitan mencerap suasana di Pegangsaan, dulu.

Tak hanya Bung Karno dan Bung Hatta yang diterjang lelah teramat sangat. Semua yang hadir kala itu, juga berada dalam kondisi yang sama.

Meski begitu, secara khidmat dan takzim yang tinggi, kemerdekaan kita tetap dikerek naik ke langit. Seiring lagu Indonesia Raya gubahan WR Supratman dikumandangkan, dan airmata peserta upacara pun berderaian.

Menjadi Bangsa Mandiri
Senarai memori dari tujuh dekade silam itu memang tinggal cerita dan telah jadi catatan sejarah belaka.

Tak semua kita sanggup menautkannya dengan kehidupan hari ini.

Lebih parahnya lagi, sedikit sekali dari kita yang sanggup menalar rentetan kejadian nun di hadapan buku sejarah kemerdekaan Indonesia itu.

Memang bukan kita yang tampil sebagai penentu bandul pendulum perjuangan Indonesia merdeka. Namun, di pundak kita lah kini, bakti pada negeri tercipta dititipkan. Lantas kita mau apa?

Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, politisi senior PAN Amien Rais, hingga Dewan Pendiri Yayasan Pendidikan Soekatno, Rachmawati Soekarnoputri mengikuti upacara kemerdekaan di Universitas Bung Karno, Jakarta, Kamis (17/8) | Foto: KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA

Presiden sudah berganti tujuh kali. Kabinet dibongkar pasang tak kenal jeri. Kebijakan negara sudah dijalankan setengah abad lebih lamanya.
Tapi kenapa kita tak jua lelah bertengkar? Kita sibuk berbalahan. Saling tikai. Salah menyalahkan.

Bung Karno pernah menulis surat kepada Jenderal Sudirman yang sebaris isinya berbunyi begini: “Ibaratnya, hatiku ini adalah kitab yang terbuka di hadapan Dinda. Politik pun Kanda satu buku yang terbuka bagi Dinda.”

Bahkan Jenderal Sudirman yang jelas berseberangan dengan Bung Karno dalam pola perjuangan, akhirnya luluh pada perintah presiden yang ia sanjung sedemikian rupa.

Kini, perilaku seperti itu sulit kita temui dalam kancah politik tingkat tinggi di negeri ini.

“Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”

Begitu yang kerap kali diingatkan Bung Karno dalam setiap pidatonya–pascakemerdekaan.

Meski begitu, sebagai pendiri bangsa, selaku manusia Indonesia pertama, Bung Karno pun kewalahan melihat “bayi” negara yang ia idamkan tumbuh begitu cepat.
Partai Nasional Indonesia yang ia dirikan, bubar jalan. Lalu tumbuh menjamur partai-partai lain yang kelak unjuk gigi pada 1955 dalam Pemilu perdana.

Semua partai berdiri di atas kaki kepentingan. Bukan atas nama rakyat.

Bung Karno menyadari kecenderungan ini. Ia bubarkan konstituante dan memimpin langsung negara dengan dekritnya–dibantu Jenderal AH Nasution.

Demokrasi ideal yang ia agendakan terpaksa gigit jari. Pengaruh asing kadung beranak pinak dalam tubuh negara muda Indonesia. Sialnya, jejak kebanalan politik praktis waktu itu, masih kita rasakan hingga hari ini.

Orde kekuasaan telah bergonta-ganti hingga tiga kali. Ongkos politik melambung tinggi, membiayai kedegilan para politisi karbitan tak tahu diri.

Kemerdekaan kita dari penjajahan bangsa asing, tak sungguh benar raib dari ibu pertiwi.

Imperialisme kini bersalin rupa jadi liberalisme ekonomi.

Korporasi global tak pernah berhenti menjaring manusia modern masuk dalam lembah kemiskinan–tanpa kecuali.

Jika dulu nenek moyang kita berurusan dengan VoC, hari ini kita berhadapan dengan Google.

Presiden Joko Widodo berfoto bersama presiden terdahulu yakni Presiden ketiga RI BJ Habibie, Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, dan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Kamis (17/8) | Foto: Prresidential Palace/AGUS SUPARTO

Beruntungnya, dua tahun belakangan, negara kita mulai sibuk bekerja keras lagi. Membangun kekuatan dari segala lini.
Warga dunia tercengang melihat kinerja Kabinet Kerja Jokowi. Kendati jauh dari memuaskan, namun setidaknya kita masih bertahan dari gempuran zaman.

Demokrasi yang dipilih tetua bangsa kita, sejatinya sangat tak memadai dijadikan soko guru sebuah negara sebesar Indonesia.

Kita tidak bisa terus menerus menghujat dan mencaci pemerintah. Negara ini milik kita. Bangsa Indonesia adalah kita jua.

Bung Karno menyadari betul keunggulan kita sebagai sebuah negara-bangsa.

Ia berhasil memeras saripati yang merekatkan bangsa Nusantara sampai melahirkan Indonesia raya.

Sebagai seorang Muslim, ia jadikan al-Quran tuk pedoman membangun kehidupan umat manusia di dunia–termasuk kita, agar gemah rimah loh jinawi.

Sekadar catatan, di antara para pemimpin dunia saat itu yang cekatan mengutip ayat al-Quran dan juga menerapkannya, ya Sang Proklamator Indonesia.

Dalam buku Bung Karno Menerjemahkan al-Quran (Mizan, 2017), karya Mochamad Nur Arifin, saya menemukan pikiran Bung Karno berikut ini;

“Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan–tuhannya sendiri. Bagi yang Kristen menyembah tuhan menurut petunjuk Isa al-Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadahnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi, marilah kita semua bertuhan. Hendaklah Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah tuhannya dengan cara leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ‘egoisme-agama.’ Dan hendaknya negara Indonesia satu negara yang bertuhan. Marilah kita amalkan, jalannya agama, baik Islam maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.”

Beberapa tahun ini, kita seperti kesulitan menjalankan laku hidup yang demikian. Seolah membuktikan nubuat Isa al-Masih dua milenia silam, “Sedikit sekali manusia yang menemukan gerbang sempit menuju kehidupan.” (Penulis adalah Pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain membidani kelahiran buku-buku, juga turut membesut Yayasan Pendidikan Islam Terpadu al-Amin di Pelabuhan Ratu, sebagai Direktur Eksekutif)

Sumber: Kompas Kolom

 

Post Comment