Legislator Sayangkan Minimnya Jatah Pupuk untuk Merauke

Legislator Sayangkan Minimnya Jatah Pupuk untuk Merauke

Anggota Komisi DPR RI, H Sulaeman L Hamzah bersama Pengurus DPD NasDem Merauke saat panen raya di Kampung Waninggap Sai

Metro Merauke – Anggota Komisi IV DPR RI, H. Sulaeman L Hamzah menyayangkan minimnya jatah pupuk bersubsidi untuk kebutuhan petani di Kabupaten Merauke, Papua.

Betapa tidak, daerah yang telah dicanangkan Presiden RI, Jokowi sebagai kawasan sentra lumbung pangan, tidak mendapat perhatian serius dalam memajukan pertaniannya.

Hampir disetiap musim tanam, petani setempat kekurangan pupuk, belum lagi irigasi pertanian yang tidak memadai.

“Ini jelas tidak nyambung, pencanangan sudah dilakukan presiden tapi tidak ditunjang kebutuhan pertanian yang cukup,” kata Sulaeman saat melakukan panen raya di Kampung Waninggap Sai, Distrik Tanah Miring, Jumat (10/8).

Menurutnya, dipilihnya Merauke sebagai kawasan lumbung pangan, sangat tepat. Untuk itu, ia berharap, Kementerian Perdagangan dan Pertanian serius memajukan pertanian di Kabupaten Merauke, utamanya melakukan pemenuhan kebutuhan pertanian seperti stok pupuk dan irigasi memadai.

“Padahal sudah berkali-kali permasalahan itu disampaikan hingga ke pusat, tapi belum juga ada realisasinya. Kebutuhan pokok saja tidak diselesaikan apa lagi yang lainnya, dan tentu ini sangat menyedihkan,” ujarnya.

Sebagai perwakilan masyarakat Papua di Senayan, Sulaeman mengaku tidak tinggal diam dengan masalah seperti ini. Legislator Partai NasDem menyatakan sekembalinya dari reses kali ini, akan kembali menyuarakan masalah pertanian hingga kebutuhan petani, kepada mereka yang ada ditingkat pusat, sehingga tidak terdengar teriakan masyarakat untuk persoalan yang sama.

Sebelumnya plt. Kepala Dinas Pertanian Merauke, Edy Susanto menyatakan pupuk bersubsidi di kabupaten itu langkah. Luasan area yang ditanami padi tidak diimbangi kebutuhan pupuk yang cukup.

“Untuk satu tahun dibutuhkan 34 ribu ton lebih pupuk, namun realisasinya kuota untuk Merauke hanya 7.900 ton. Ini jauh dari kata cukup,” katanya. (Nuryani/Arjuna) 

Advertisement

1 komentar