Mal Sepi, Daya Beli Turun?

Mal Sepi, Daya Beli Turun?

Salah satu hatchback Toyota, Agya, jadi perhatian pengunjung mal Metropolitan, Bekasi. Foto: Febri Ardani

Metro Merauke – Rata-rata tingkat kekosongan pusat perbelanjaan mal di Jakarta naik ke angka 10,8 persen. Begitu data yang disampaikan lembaga konsultan properti Savills belum lama ini. Apa itu tandanya daya beli masyarakat mengalami penurunan?

Direktur Statistik Harga BPS Yunita Rusanti menuturkan, daya beli masyarakat justru masih normal tidak ada penurunan.

“Orang melihat kok pasar sepi yah. Apakah di daerah merata? Menurut saya Jakarta di beberapa mal agak turun karena ada (perdagangan) online. Orang beli (secara) online,” ujarnya di Kantor BPS, Jakarta, Selasa (1/8).

BPS lebih melihat adanya perubahan pola belanja masyarakat ketimbang penurunan daya beli. Sebab data hunian hotel yang dimiliki BPS justru menunjukan adanya peningkatan selama musim liburan anak sekolah Juli 2017 lalu.

Selain itu, BPS menduga sepinya mal di Jakarta juga disebabkan kondisi lalu lintas. Saat ini, Jakarta sedang melakukan banyak pembangunan yang menyebabkan kemacetan semakin parah.

“Orang cenderung malas ke luar jadi pada beli online. Jadi bukan daya beli, daya beli masih normal,” kata Yunita.

Sementara itu Kepala BPS Suharyanto menilai prediksi penurunan penjualan sepeda motor di semester I 2017 bisa jadi bukan indikasi penurunan daya beli namun lantaran masyarakat menahan belanja.

“Kemungkinan besar konsumsi rumah tangga di PDB masih akan menguat karena adanya Lebaran dan Ramadhan, walaupun tidak akan setinggi yang diekspektasikan sebelumnya,” ucapnya. (Yoga Sukmana)

Sumber: Kompas Ekonomi

 

Advertisement