Maju Mundur Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya, Seberapa Pentingkah?

Maju Mundur Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya, Seberapa Pentingkah?

Kereta cepat China terparkir di stasiun Guangzhou, Rabu (17/2) | KOMPAS/Bambang PJ

Oleh: Harun Alrasyid Lubis

Seberapa pentingkah proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya? Bahkan bila dibandingkan dengan proyek pelabuhan di seluruh Indonesia?

Menurut saya, semua penting dan perlu dikaji prioritas dan urgensinya masing-masing. Khusus rencana Kereta Cepat Jakarta-Surabaya, sudah ada dalam Rencana Induk Pekeretaapian Nasional 2030 ( RIPNAS).

Bila dua kota terbesar di Indonesia ini bisa ditempuh dalam waktu hanya 3 jam, maka lalu lintas penerbangan domestik yang semakin padat, waktu antrean mendarat pesawat yang terus meningkat, antrean panjang saat check in dan macet menuju bandara, akan bisa dicegah sebelum darurat dan membawa bahaya pada masa depan.

Sudah barang tentu banyak penghematan lain yang diperoleh. Terutama hemat penggunaan energi jangka panjang, karena moda kereta cepat lebih efisien dengan daya angkut massal.

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai pemegangang konsesi memang baru mendapat lisensi sampai Bandung, dan tentu skala jarak, penting dilanjutkan sampai Surabaya.

Pertanyaannya kemudian, mengapa pemerintah lebih memilih kerjasama dengan China dibandingkan Jepang? Apakah dari sisi teknologi atau politik semata?

Saya berpendapat, lebih banyak komitmen bisnis dan keuntungan ekonomi bagi Indonesia dengan menggandeng China, ketimbang Jepang. Namun demikikan, kesepakatan business to business antar-BUMN kedua negara masih tetap mememerlukan pendampingan pemerintah dalam urusan pembebasan lahan. Pembebasan lahan itu menjadi prasyarat sebelum dana pinjaman yang dijanjiKan cair.

Jepang sendiri menawarkan hutang bilateral, sementara China menawarkan investasi 40 persen dari total modal sendiri perusahaan sebanyak 25 persen dari total investasi. Sisanya 60 persen merupakan konsorsium BUMN nasional.

Selain itu, China juga memfasilitasi dana pinjaman sebesar 75 persen dengan persyaratan-persyaratan, salah satunya kemajuan pembebasan lahan. Faktor lainnya, tentu saja rencana KCIC yang akan membagun industri Kereta Cepat di Tanah Air pada masa mendatang.

Porsi 10:90 kurangi risiko
Terkait keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengubah porsi Indonesia-China sebesar 10:90 untuk mengurangi risiko, perlu konsistensi.

Sebagai korporasi, sudah setahun lebih KCIC beroperasi dengan kerangka kesepakatan bisnis yang sudah disepakati. Namun begitu, KCIC masih terseok urusan internal konsorsium menyangkut pembebasan lahan.

Sementara di sisi lain, ketersediaan dana dan target-target fiskal pemerintah semakin terbatas, kompetitif dan ketat untuk mengeksekusi sejumlah program infrastruktur massif, khususnya lewat penunjukkan langsung BUMN seperti light rail transit (LRT) atau Kereta Cepat Jakarta-Surabaya.

Sebagian BUMN yang mendapat penugasan sangat mendesak seperti LRT sebagian telah mendapat suntikan dana melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).

Sejak awal, pemerintah sudah memutuskan tak akan menyuntik dana PMN untuk KCIC. Hal ini tentu saja membuat sibuk membuat konsorsium BUMN Nasional dalam upaya pembebasan lahan, dengan waktu yang terus berjalan.

Perubahan porsi 10:90 berpotensi membuat semua rencana menjadi mentah kembali, walau pun bisa jadi China menginginkan, karena mereka berpikir futuristik sebagai bagian agenda diplomasi industri dan pemasaran teknologi tinggi kereta cepat.

Konsistensi bisnis sesuai kesepakatan awal harus tetap dijaga, kalau tidak ingin disebut salah satu pihak inkonsisten.

Paralel dengan KCIC sekarang ada inisiatif lain walau pun masih tahapan studi awal untuk meningkatkan kinerja operasi kereta cepat Jakarta-Surabaya agar dapat beroperasi dengan kecepatan 150 kilometer per jam.

Inisiatif ini kemudian dikenal dengan istilah kereta kecepatan medium, sepanjang Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa, dan tidak melewati Bandung.

Sambil menunggu KCIC, mengapa pemerintah tidak fokus pada kereta cepat Jakarta-Surabaya, kemudian memulai lelang rute dari Surabaya mengarah ke Semarang. Tentu saja lelang berlangsung melalui kompetisi dengan syarat infrastrukturnya kompatibel dan minimal sama dengan spesifikasi KCIC.

Dengan begitu, secara bertahap kereta cepat Jakarta-Surabaya akan tersambung dengan KCIC lewat jalur Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan. Perpindahan penumpang pesawat ke moda kereta cepat nanti akan menjadi lebih maksimal. (Harun berpengalaman sebagai profesional di bidang akademik, kegiatan penelitian, dan konsultasi selama tiga belas tahun. Tercatat pernah bekerja sebagai konsultan di PT LAPI ITB, dan perusahaan milik negara, Asian Development Bank (ADB), INDII dan Bank Dunia di bidang transportasi kebijakan, perencanaan, operasi, keuangan dan institusi, mencakup transportasi perkotaan dan nasional. Saat ini Harun menjabat ketua umum Masyarakat Infrastruktur Indonesia (MII))

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement

1 komentar

  1. Nyonya Isabel Francisco Saya seorang janda dan saya kehilangan suami saya 4 tahun yang lalu dan saya merawat anak-anak, tiba saatnya saya mencari uang untuk membayar uang sewa dan beberapa hutang tapi saya tidak mempunyai uang untuk membayar, tapi kakak saya bercerita tentang pinjaman pinjaman ini yang menawarinya pinjaman sebelum saya harus mengambil darinya bahwa dia orang baik, jadi saya mengajukan pinjaman sebesar 50000 dolar, jadi setelah proses pinjaman dipindahkan ke rekening saya dan Hari ini saya memiliki sebuah toko apakah saya menjalankan bisnis saya dan hari ini saya telah melunasi hutang saya dan semua tagihan saya, Tuan Gregory Eduardo adalah orang pemberi pinjaman yang baik baik tentang dia menghubungi dia di email gregoryeduardocompany@gmail.com untuk informasi tentang bagaimana mendapatkan sebuah pinjaman

    balas