Jenazah Korban Insiden Deiyai akan “Dimakamkan di Halaman Polsek”

Jenazah Korban Insiden Deiyai akan “Dimakamkan di Halaman Polsek”

Jenazah Yulianus Pigai yang diletakkan di depan teras Mapolsek Tigi sebagai bukti protes atas kinerja polisi dan Brimob, Rabu, (2/8/2017) – Jubi/Abeth You

Metro Merauke – Keluarga Yulianus Pigai, salah satu korban penembakan yang meninggal dunia ketika kejadian di Tigi, Kabupaten Deiyai, Papua, Selasa (1/8), mengancam akan memakamkan jenazah Yulianus di halaman Polsek Tigi jika tak ada pertanggungjawaban dari pelaku.

Salah satu keluarga Yulianus Pigai, Elisa Pakage mengatakan, jika tak ada pertanggungjawaban, pihaknya sepakat menguburkan jenazah Pigai di halaman Polsek Tigi, sebagai bukti aparat bukannya melindungi masyarakat tapi membunuh dengan brutal.

“Kami sudah sepakat. Biarkan mayat ini busuk di sini saja. Atau, kalau mau kita kuburkan saja di halaman Polsek ini. Itu sudah komitmen,” katanya seperti dikutip dari tabloidjubi.com.

Pada, Rabu (2/8) pagi, masyarakat Tigi meletakkan jenazah Yulianus Pigai, di teras Mapolsek Tigi. Aksi ini sebagai bentuk protes, dan meminta pertanggungjawaban pelaku yang diduga anggota polisi dan Brimob.

Elias Pakage mengatakan, jenazah tersebut tidak akan dikebumikan apabila tidak ada tanggapan serius dari kepolisian dan Brimob, serta PT. Putra Dewa Paniai yang mengundang aparat untuk membubarkan warga.

“Kami akan tinggalkan jenazah Yulianus di sini saja. Tidak mau dikuburkan, biar mereka (aparat) makan sudah. Mereka bunuh karena mereka mau makan dia,” ujar Elias.

Asisten I Setda Deiyai, Simon Mote mengatakan, untuk menyelesaikan persoalan itu pihaknya telah mengundang keluarga korban dan aparat untuk mencari solusi agar jenazah itu dikebumikan.

“Kami mediasi dengan keluarga korban dulu. Tidak baik kan kasih biarkan jenazah ini membusuk di depan Polsek. Jadi, kita bicarakan baik-baik lalu kasih kuburkan dia,” ungkap Simon Mote.

“Jadi, kami minta kepada semua masyarakat Deiyai agar tetap tenang dan mencari solusi apakah kita kuburkan di rumah atau pekuburan umum atau di mana. Yang terpenting adalah selamatkan ruh dan jasad dari almarhum ini, biar dia tenang,” katanya.

Kepala suku besar Deiyai, Frans Mote mengatakan, diletakkannya mayat itu agar ada pemahaman terhadap kepolisian bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, yang tidak boleh dibunuh sembarangan.

“Kita sama-sama manusia, yang diciptakan oleh Tuhan. Kenapa ada penembakan sampai tewaskan korban lagi. Ini masalah, sehingga masyarakat taruh mayat di depan Polsek. Kita segera cari solusi. Yang jelas pelaku adalah polisi dan Brimob di bawah pimpinan Kapolsek Tigi,” tegasnya. (Sumber: tabloidjubi.com) 

Advertisement