Ini Kronologis Polisi Indonesia Tembak Mati Satu Warga dan Lukai Enam Warga Sipil

Ini Kronologis Polisi Indonesia Tembak Mati Satu Warga dan Lukai Enam Warga Sipil

Peluru aparat yang digunakan tembak warga sipil di kampung Oneibo, Deiyai. | Foto: Dok Ones Madai

Metro Merauke – Seorang warga sipil di Wagete, Deiyai Papua melaporkan, pada Rabu (2/8) aparat kepolisian Indonesiad dari satuan brimob telah menembak mati seorang warga sipil atas namaYulianus Pigai. Pigai meninggal sekitar pukul 07.00 pagi. Ia kena tembakan peluru tajam brimob di kedua paha dan kemaluan. Sedangkan enam orang lainnya kena luka-luka tembak.

Berikut kronologis versi saksi mata yang berada di tempat kejadian saat terjadi peristiwa penembakan tersebut. Tujuh orang warga Sipil di Deiyai ditembak aparat kepolisian dan Brimob sekitar pukul 17.45, Selasa di kampung Oneibo, Tigi Selatan, Deiyai, Papua.

Sekitar pukul 16.30 sore, meneyelamatkan seorang warga atas nama Ravianus Douw (24), tenggelam di kali Oneibo setelah mencari ikan. Setelah menyelamatkan Douw yang tenggelam dan masih ada nafas dan kritis, maka warga meminta tolong kepada karyawan PT. Dewa Kresna yang sedang mengerjakan jembatan kali Oneib untuk antar korba yang tenggelam itu ke RSUD Madi, Paniai namun tidak dibantu.

Karena tidak dibantu, maka seorang warga lari menuju ke Wagete. Jarak antara kampung Oneibo dan Wagete cukup jauh, kata saksi. Diperkirakan 9-10 km.

Setelah menunggu agak lama dan jemputan mobil datang, Ravianus dilarikan ke RSUD Madi, tapi nyawa korban tidak tertolong. Setelah kembali dari perjalanan menuju ke RS Madi, warga emosi dan marah kepada pihak perusahaan yang tidak mau membantu.

Menurut warga, jika pihak perusahaan membantu cepat dan bawa korban yang tenggelam itu ke RS Madi, nyawa korban dapat diselamatkan dengan bantuan medis. Sehingga, kata saksi, karena tidak adanya niat membantu dari pihak perusahaan membuat warga marah mengamuk dan membongkar kem Perusahaan.

Beberapa waktu kemudian, sekitar pukul 17.45, pasukan bersenjata lengkap dari satuan Brimob Polres Paniai, turun ke lokasi dan membubarkan paksa warga sekitarnya dengan tembakan. Akibatnya, tujuh orang warga kena tembakan. Satu diantaranya telah meninggal dunia pada Rabu (2/8) pagi.

Nama-nama korbannya adalah Yohanes Pakage kena tembak dan patah tulang paha, Esebius Pakage kena tembak di telapak kaki, Delian Pekei kena tembak di betis, paha, bagian rusuk dan rahang, Penias Pakage kena tembak di tagan kanan, Amos Pakage kena tembak di kaki kiri, Marinus Dogopia kena tembak di bokong sebela kiri, Demian Pekei dan Melkian Pakage.

Yulius Pigai kena tembak di paha. Kedua paha pata dan kena di kemaluan lalu meninggal sekitar pukul 07.00 pagi waktu papua dari rumah sakit pratam Deiyai, Papua.

Dikutip dari Jubi, kepala Distrik Tigi Barat, Frans Bobii kepada Jubi membenarkan insiden penembakan tersebut. Ia mengaku sudah datang ke lokasi penembakan. Menurutnya, lima orang korban lainnya sedang dirawat secara intensif dan Bupati Deiyai pun sudah memberikan perhatian terhadap kasus ini.

Sementara Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) A.M. Kamal ketika dikonfirmasi Jubi Selasa malam menyebutkan, Selasa sore, sekitar pukul 14.30, ada masyarakat yang keluarganya sakit datang ke pekerja proyek jembatan untuk meminta bantuan kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit, tapi pekerja di situ tidak dapat membantu.

“Kemudian mereka berupaya untuk ke rumah sakit, namun dalam perjalanan keluarga masyarakat yang sakit itu meninggal dunia. Mungkin karena kecewa, keluarga korban mendatangi tempat pekerjaan proyek dan marah-marah kemudian memukul salah satu pekerja proyek dan merusakan di sekitar lokasi,” kata Kombes Pol Kamal.

Masih kata dia, pihak perusahaan kemudian menelepon Brimob, sekitar satu kilo dari lokasi. Komandan Brimob bersama anggota Polsek setempat, sekitar sembilan orang pun menuju lokasi dan memeriksa semua pekerja.

“Ada salah satu pekerja tidak ditemukan karena mungkin dia takut sehingga lari, tapi sekarang dia sudah ditemukan,” katanya.

Ia mengakui, anggota sudah berupaya melakukan pendekatan persuasif dan bernegosiasi dengan warga, tapi mereka dilempari batu.

“Warga menyerang balik anggota mungkin karena mengira akan membela-bela perusahaan. Anggota brimob dan polisi mundur sambil melepaskan tembakan peringatan ke udara. Karena masyarakat tetap melempari anggota brimob dan anggota polsek, kemudian menembak ke tanah dan ada peluru rekoset atau memantul dan mengenai empat warga. Tidak ada yang meninggal terkena peluru rekoset. Hanya korban luka,” katanya.

Menurut dia, hingga kini Kapolres Paniai masih berada di polsek, tempat peristiwa ini terjadi, bersama para pekerja perusahaan.

“Besok (2/8/) rencana akan dilakukan pertemuan masyarakat dengan para muspida. Ini memang harus diluruskan informasinya agar tidak simpang siur dan terkesan provokasi demi keamanan dan kenyamanan masyarakat, ini laporan yang saya terima dari Polres Paniai,” katanya. (Arnold Belau)

Sumber: Suarapapua

 

Advertisement