Syeikh Khalid Kunjungi Santri Papua di Pesantren Nuur Waar, Ini Pesannya

Syeikh Khalid Kunjungi Santri Papua di Pesantren Nuur Waar, Ini Pesannya

Ketua Yayasan al-Manarah al-Islamiyah Syeikh Khalid al-Hamudi (tengah) dan Ketua AFKN Fadlan Garamatan (dua dari kiri) di Pesantren Papua Nuu Waar, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. | Foto: Zulkarnain/ Hidayatullah.Com

Metro Merauke – Sebelum memberikan nasehat, Syeikh Khalid membimbing seorang wanita paruh baya non-Muslim bersama anaknya untuk bersyahadat.

Penasihat Lembaga Islam Internasional untuk Pendidikan dari Arab Saudi, Syeikh Khalid al-Hamudi, mengunjungi Ma’had Tahfidz Al-Qur’an dan Al-Hadits Nuur Waar di Kampung Bunut, Desa Tamansari, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (27/7).

Pesantren Nuur Waar merupakan salah satu sarana dakwah Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), yang fokus dalam pengembangan generasi Muslim Nuu Waar (Irian Jaya). Pesantren Nuur Waar menampung kurang lebih 500 santri putra-putri asal Papua.

Kunjungan Ketua Yayasan al-Manarah al-Islamiyah itu disambut meriah dengan iringan shalawat para santri, tenaga pengajar, pengurus AFKN dan Ketua AFKN Ustadz Fadlan Garamatan.

Pantauan hidayatullah.com, setibanya di pesantren, Syeikh Khalid disambut dengan tradisi khas Papua dalam menghormati tamu, yaitu dengan mengarak Syeikh di atas kursi oleh para santri.

Dalam sambutannya di aula pesantren, Syeikh Khalid memberikan untaian nasihat dan semangat kepada para santri yang mayoritas berasal dari Indonesia Timur itu tentang keutamaan al-Qur’an.
“Ketahuilah dengan membaca al-Qur’an, (dzikir) kepada Allah, akan menenteramkan hati,” ucapnya mengutip intisari Surat Ar-Ra’d ayat 28.

Syeikh Khalid pun mewasiatkan kepada para santri yang menuntut ilmu agar berusaha menjaga pintu surga yang Allah titipkan kepada ayah dan ibu mereka, juga agar berbakti kepada kedua orangtua.

Para santri juga dipesankan agar senantiasa menanamkan tiga perkara dalam kehidupan mereka. “(Pertama), penuntut ilmu hendaknya memperbaiki niat ikhlas hanya berharap ridha Allah Subhanahu Wata’ala,” pesannya.

“Kedua, agar menghiasi ilmunya dengan kesabaran, karena seorang penuntut ilmu yang tidak memiliki kesabaran diibaratkan jasad tanpa ruh,” tambahnya.

“Dan terakhir, berlaku lemah lembutlah dalam mengajarkan ilmu yang kita miliki. Khususnya kepada sesama umat Islam,” tutur Syeikh Khalid di akhir wasiatnya.

Sebelum memberikan nasehat, Syeikh Khalid membimbing seorang wanita paruh baya non-Muslim bersama anaknya untuk bersyahadat.

Wanita itu bernama Grace Ekasetiani dan anaknya Lady Kristiani Noviani. Syeikh pun menggantikan nama Grace dengan Asma dan nama Lady dengan Sumayyah.

Syeikh Khalid beserta pengurus santri dan pengurus Pesantren Nuur Waar berdoa kepada Allah untuk kebaikan kedua mualaf tersebut. (Zulkarnain)

Sumber: hidayatullah.com

 

Advertisement