Senjakala Perenungan Manusia

Senjakala Perenungan Manusia

Ilustrasi | Foto: Juanjodda

Oleh: Ren Muhammad

“Hidup yang tiada direnungkan, tak laik dijalani,” begitu pesan agung Socrates (469 SM – 399 SM) pada para sahabat dan muridnya saat ia masih hidup sebagai filosof di Athena, Yunani.

Ternyata kalimat yang begitu sederhana itu, juga berguna bagi umat manusia setelahnya, hingga kini.

“Bila ada enam milyar manusia menghuni planet ini, maka akan ada enam milyar jenis pikiran, kepribadian, dan watak yang berbeda. Karena kondisi psikologis, karakter, dan kepribadian tiap manusia berbeda-beda. Semua manusia itu unik.”

Demikian yang ditulis psikolog berkebangsaan Amerika, Gordon Exner, saat membuka disertasinya yang terkenal pada 1952.

Tapi sebelum wafat, Gordon mengubah pernyataan itu dan mengakhirinya dengan kalimat berikut, “Pada kenyataannya, semua itu hanyalah enam miliar pengejawantahan berbeda dari (satu orang).”

Sejarah manusia menyebutnya Adam. Dari dalam dirinya lah (tulang sulbi) Tuhan mengeluarkan Hawa (keinginan) yang sebelumnya tersembunyi. Sejatinya, Adam hanya sedang melihat dirinya belaka pada ibu Hawa, yang adalah perwujudan sisi feminin dari dalam dirinya.

Dari Adam pula kita berutang pengetahuan tentang jati diri. Sebelum kita mengada, ia telah menyimpan segala potensi manusia yang lahir kemudian. “Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam namanama (bendabenda) seluruhnya…” (al-Baqarah [2]: 31-33).

Nama Adam, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, berarti ciptaan (yang tercipta dari ketiadaan). Begitulah kodrat semua kita. Dicipta untuk mengada dan hanya untuk kembali tiada.

Pengetahuan yang kita miliki tak pernah melampaui khazanah ketiadaan itu. Seluas dan setinggi apa pun pengetahuan kita, hanya berkutat dan berujung pada kekosongan belaka. Sekadar menumbuhkan kesadaran ikhwal ketidaktahuan yang hakiki. Misterius. Sulit dimafhumi.

Uniknya, ketiadaan yang jadi kodrat kita ini, bisa dimaknai sebagai keberadaan. Eksistensi. Sebagai manusia, jangan sampai kita abai pada urusan kedirian masing-masing.

Sekolah Kehidupan harus menumbuhkam kesadaran terkait apa yang ada pada diri kita. Terlalu banyak kesia-siaan di jagat manusia. Terlampau berlimpah kata-kata tak berguna yang meluncur begitu saja. Tak lagi ada pikiran terbarukan.

Sulit mencari dan menengarai siapa di antara kita yang sanggup mengerti rahasia besar panggung sandiwara semesta ini. Padahal nun jauh di belakang sejarah, pernah ada masa ketika Sekolah Misteri berhasil mengajari para muridnya cara kembali menuju keasalian manusia.

Sejak Paulo Freire (1921-1997) mengenalkan filsafat pendidikan pada masyarakat modern, tampaknya perubahan tak terlalu kentara di dunia ketiga. Negara berkembang kerap jadi bulan-bulanan Amerika dan anteknya di Eropa.

Kolonialisme Abad ke-17 terus disalin rupa jadi liberalisme ekonomi. Kini kita mengenalnya dengan sebutan yang agak keren: pasar bebas! Di titik inilah petaka pendidikan manusia di dunia, bermuara.

Sekolah tak lagi berdaya guna bagi para siswanya. Universitas hanya sekadar kamuflase menjaring kelas pekerja. Mahasiswa berpredikat summa cum laude dari fakultas eksak sekali pun, kadang bernasib lebih tragis tinimbang rekan seangkatannya yang indeks prestasinya di bawah angka dua.

Sebagian mahasiswa cerdas ini mati bunuh diri, frustrasi dengan dirinya yang jadi anomali di masyarakat. Bahkan sudah jadi pemahaman umum, jika seorang sarjana tak tahu cara menerapkan ilmunya dalam kehidupan. Mereka kehilangan arah sedari dalam diri sendiri.

Mencari makna hidup
Manusia terlahir ke dunia dengan membawa rasa ingin tahu dalam dirinya. Ketika masih kecil, rasa penasaran kerap kali menggelayuti benak kita, kapan dan di mana saja.

Segala apa kita tanya, termasuk siapakah Tuhan dan di mana Dia berada.

Kita sungguh benar ingin mengerti dalam keterbatasan. Nyaris tak satu pun yang melintas dalam pikiran, kita biarkan berlalu tanpa didahului pertanyaan dan tentu jawaban.

Sayangnya, kecenderungan ini segera memudar ketika kita mengaku telah dewasa. Kita merasa sudah banyak tahu, padahal tidak jelas duduk perkara dan akar pengetahuannya.

Cara kita menganggit pengetahuan hari ini, berbeda jauh dengan para pendahulu. Hidup yang serba mudah, membuat kita sulit memahami bahwa segala sesuatu ada maksud dan tujuannya. Anak-anak manusia yang lahir, jelas membutuhkan bekal ilmu bagi hidup mereka.

Tak semua kita bakal jadi pemimpin. Tak semua kita harus jadi insinyur. Tak semua. Hidup yang pusparagam begini, tak bisa didekati dengan pola dan pendekatan seragam.

Sekolah, harusnya menggunakan pemahaman begini dalam proses belajar-mengajarnya agar menghasilkan manusia pembelajar. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri. Utuh menyeluruh.

Alexander Graham Bell, sang penemu ulung itu, dibesarkan pada era ketika universitas lebih banyak melahirkan sarjana tinimbang ilmuwan, apalagi begawan.

Sementara kita, hidup dalam zaman manakala sekolah dan perguruan tinggi lebih senang melahirkan golongan buruh.

Sudah hampir setengah abad kondisi ini berlangsung sejak perseteruan sengit mazhab Wina dan Frankfurt, namun kita tak jua sadar betapa sekolah hari ini di banyak negara hanya dijadikan penopang industri.

Abad materialisme sungguh benar menggerus kemanusiaan kita. Dalam banyak sendi kehidupan, kita melulu terjebak pada formalitas belaka. Tak pernah menjeluk ke ranah makna.

Sejatinya, pendidikan adalah harapan. Adalah perjuangan. Perlawanan, pada ketidaktahuan kita akan kondisi nyata kehidupan.

Jika kita tahu apa yang sejatinya diketahui, maka hasilnya adalah pengetahuan. Belajar itu menembus batas. Bahkan tak berhenti sampai liang lahat.

Semua kita tumbuh secara usia, kejiwaan, logika berpikir, keyakinan, dan spiritualitas. Pertumbuhan usia, kejiwaan, dan logika berpikir, akan memunculkan watak manusia yang sangat khas. Sulit didedah. Bahkan dengan metodologi penelitian paling rigid sekali pun.

Kita bisa mengerti segala tingkah laku orang per orang hanya dengan mengamati mereka. Namun, jelas itu menghabiskan waktu dan usia.

Semakin kita mengamati, kian nyata terlihat betapa tidak masuk akal pengamatan tersebut. Sementara saat bersamaan, kita tak jua paham dengan diri sendiri.

Saya pernah diajak diskusi oleh seorang kawan asal Jerman. Ia mengakui dirinya agnostik sejak lahir. Pun dengan orangtua dan keluarga besarnya.

Ia tak sepenuhnya menyatakan bahwa Tuhan dan agama hanya omong kosong belaka. Sebaliknya, ia meyakini bahwa pengetahuan yang dimilikinya terkait hal itu, jauh dari memadai.

Buah dari pohon keyakinannya membawa ia pada pencarian sejati tentang kebenaran dan jalan lurus yang sebelumnya telah ditempuh para Nabi dan Rasul Tuhan. Ranah inilah yang disebut spiritualitas.

Andai sebagian besar umat beragama mau bertungkus lumus dalam soal ini, klaim tunggal pemegang kebenaran takkan pernah jadi prahara.

Suatu hari, Lao Tze (600-531 SM) pernah berkata, “Kebaikan dalam perkataan menciptakan keyakinan. Kebaikan dalam pikiran membuahkan kedalaman. Kebaikan dalam memberi menciptakan kasih sayang.”

Setiap manusia pasti melewati masa peralihan pada tingkat keyakinan. Percaya atau tidak pada Zat yang adikodrati, keyakinannya itu bakal menghunjam di kedalaman hidup kita, dan mencuatkan rasa kasih sayang.

Di puncak pencapaian spiritual itulah, kita akan mengerti untuk apa semua ini diadakan Tuhan. (Penulis adalah Pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain membidani kelahiran buku-buku, juga turut membesut Yayasan Pendidikan Islam Terpadu al-Amin di Pelabuhan Ratu, sebagai Direktur Eksekutif)

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement