Cegah Depresi Berujung Bunuh Diri Dengan Tips Dari Psikolog Ini Ladies

Cegah Depresi Berujung Bunuh Diri Dengan Tips Dari Psikolog Ini Ladies

Foto: Thinkstockphotos

Metro Merauke – Kasus bunuh diri di Indonesia semakin memprihatinkan, ini bisa dilihat dari banyaknya pemberitaan yang menyebar. Seperti baru-baru ini, berita bunuh diri yang dilakukan dua wanita di Bandung yang menyelesaikan hidupnya dengan terjun dari lantai apartemen, atau seorang pria gantung diri di Waduk Pluit, Jakarta. Sangat miris bukan? Bunuh diri memang banyak dikaitkan dengan seseorang yang sedang depresi. Lalu apakah hal tersebut benar?

Menurut Ayoe Sutomo, M.Psi, Psikolog Citra Ardhita Psychological Services, depresi sebenarnya tidak selalu berujung pada keinginan bunuh diri. Ada beberapa tahapan depresi yang bisa dialami, hingga seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Bahkan butuh waktu dua minggu sampai tiga bulan, kata psikolog Ayoe untuk seseorang memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Untuk itu, sebenarnya dalam waktu tersebut orang terdekatlah yang bisa menyelamatkan hidup seseorang yang sudah putus asa.

Dalam waktu tersebut, sebenarnya kita dapat melihat orang terdekat kita bila terjadi perubahan yang mengarah pada depresi seperti yang tadinya senang makan jadi tidak nafsu makan, selalu tidur dan mengurung diri di kamar atau rumah. Atau sebaliknya jadi makan melulu, tidak tidur, bahkan sampai tidak mau pergi kemana-mana. Jika melihat teman, keluarga, atau pasangan berperilaku seperti itu, bisa saja mereka sedang depresi.

“Jadi saat depresi nggak langsung mutusin untuk bunuh diri, tapi ada tahapannya, jika sudah dua minggu, depresi sudah berat, baru seseorang memutuskan untuk bunuh diri,” ujar Psikolog Ayoe saat dihubungi tim Vemale.com.

Sebagai orang terdekat bila melihat ciri-ciri depresi pada keluarga, teman, dan pasangan sebaiknya berikan empati dan mau mendengarkan curahan hatinya. Dengan begitu, orang depresi akan menurunkan emosi negatifnya dan mengurungkan niat bunuh diri.

“Sebaiknya kita dengarkan curhatan mereka, tanyalah apa yang bisa kita bantu, jadilah orang yang lebih terbuka mendengarkan keluh kesahnya dan selalu mendampinginya. Jangan justru kita menghakimi dan menggurui mereka, sebab apapun nasehat yang kita berikan tidak akan mereka dengarkan,” tambahnya.

Namun, kata Ayoe jika sudah terlalu lama depresi dan tidak sanggup lagi kita tangani. Barulah ajak mereka bertemu psikolog agar diberikan terapi atau psikiater yang akan memberikan obat-obatan.

“Peran psikolog atau psikiater bukan membuat ketergantungan pada pasien melainkan memberikan mindset positif bagi orang yang depresi, lalu apa yang harus dibenahi, sebenarnya lingkungan terdekatnya yang dapat pertama kali membantu mereka,” tuturnya.

Lalu apa yang membuat seseorang tersebut menjadi depresi? Psikolog menjelaskan sebenarnya tidak ada faktor yang benar-benar menyebabkan depresi. Namun, biasanya terjadi karena genetik, kondisi-kondisi tertentu yang mengakibatkan stres berkepanjangan, masalah kecil tidak terselesaikan hingga hilang nafsu makan, kelebihan tidur, melamun, sampai hilangnya gairah hidup hingga tidak tahu harus berbuat apa.

“Itulah mengapa kita harus lebih peka terhadap lingkungan sekitar, agar tidak terjadi kasus bunuh diri pada orang terdekat kita. Perhatikan ketika seseorang putus cinta, dipecat dari pekerja, perceraian apakah ada ciri-ciri mereka terkena depresi,” tutupnya.

Semoga informasi ini bermanfaat ya Ladies. (vem/asp/ivy)

Sumber: Vemale

Advertisement