Puluhan Film Dokumenter Tanah Papua akan Bersaing di Merauke

Puluhan Film Dokumenter Tanah Papua akan Bersaing di Merauke

Cuplikan film dokumenter yang akan bersaing dalam Festival Film Papua (FFP) perdana yang digelar Papuan Voices di Vertente Sai, Kompleks Keuskupan Agung Merauke, Jalan Raya Mandala, Kota Merauke, 7-9 Agustus 2017 - IST

Metro Merauke – Sebanyak 25 film dokumenter dari berbagai wilayah di Tanah Papua (Papua dan Papua Barat) akan bersaing menjadi yang berbaik di “Kota Rusa” Merauke, 7-9 Agustus mendatang.

Festival Film Papua (FFP) perdana yang digelar Papuan Voices ini akan diselenggarakan di Vertente Sai, Kompleks Keuskupan Agung Merauke, Jalan Raya Mandala, Kota Merauke.

Koordinator Papuan Voices, Max Binur dalam rilis persnya kepada Metro Merauke, Senin (24/7) malam mengatakan, empat juri akan menyeleksi puluhan film dari berbagai daerah di tanah Papua itu. Mereka adalah Alia Damaihati, Maria Kaize, Wens Fatubun dan Yerri Borang.

“Pengumuman sepuluh film terbaik akan dilakukan, 30 Juli 2017, setelah melewati seleksi empat juri. Sedangkan pengumuman tiga film terbaik dilakukan saat pembukaan FFP, 7 Agustus, dan pemenang diumumkan pada penutupan FFP, 9 Agustus,” katanya.

Menurutnya, sebenarnya ada 27 film dokumenter yang datang dari berbagai wilayah di Papua misalnya, Kota Jayapura, Kabupaten Merauke, Kabupaten Jayapura, Mimika, Keerom, Biak, Wamena, Nabire, Sorong dan Raja Ampat. Namun hanya 25 film yang dinyatakan memenuhi syarat dan kini dalam proses penilaian juri.

“Dari sebelas kota tersebut, cerita-cerita yang disampaikan cukup beragam menyangkut tema kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik dan keamanan, perempuan, budaya, alam, hingga sejarah,” ujarnya.

Katanya, FFP akan menjadi tolak ukur pergerakan perfilman di Papua terutama dokumenter, memicu semangat para filmmaker muda Papua terus berkarya dan menggerakkan nonton film dokumenter di masyarakat terutama di masyarakat adat Papua dalam upaya membangun kesadaran kritis masyarakat adat terhadap beragam fenomena masa lalu dan masa kini yang terjadi sebagai proses dialektika.

“Terutama dalam upaya pemenuhan hak-hak Sipol dan Ekosob Masyarakat Adat Papua dan kelestarian lingkungan untuk generasi masa depan. Festival Film Papua bertujuan memperkenalkan Papua lewat film-film dokumenter ke masyarakat luas baik di Papua, Nasional maupun Internasional,” katanya.

Dengan demikian diharapkan ada perspektif baru yang menempatkan Papua sebagai subjek dalam dalam melihat dan “menentukan” masa depannya sendiri dan berkontribusi mengakhiri ketidakadilan di Tanah Papua.

Tema Festival Film Papua Tahun 2017 adalah Bomi Zai Anim-Ha atau rumah bersama manusia sejati yang menghidupi identitas dan ingatan kolektif masyarakat adat Papua yang berhubungan erat dengan alam dan membangun Bomi Zai Tanah Papua.

Papuan Voices merupakan komunitas filmmaker Papua yang fokus memproduksi dokumenter berdurasi pendek tentang manusia dan Tanah Papua.

Papuan Voices terbentuk, 2011 ketika Engage Media, Justice Peace and Integration of Creation (JPIC) MSC Indonesia dan Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Franciscan Papua (FP) bekerjasama dan mulai melatih para filmmaker baru di Papua.

Papuan Voices sudah memproduksi beragaman jenis film dokumenter serta menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk melahirkan para filmmaker di Tanah Papua.

Kini Papuan Voices tersebar di lima daerah di Tanah Papua, yakni Jayapura, Keerom, Wamena, Merauke dan Sorong dan Raja Ampat.

25 film dokumenter yang masuk nominasi Festival Film Papua (FFP) yakni, Sota-Etalase NKRI Ujung Timur; Selamatkan Wati dan Jaga Siri Pinang Tetap Ada di Tanah (Merauke).

Salon Papua; SaPu Cerita; Untuk Novalinda dan Andrias; Tete Manam; dan Anak Papua Belajar (Kota Jayapura), Danauku Hidupku, Budayaku Hidupku dan Sang Pendamping (Sentani/Kabupaten Jayapura).

Kehidupan di Hutan Mobak dan SASI, Konservasi Raja Ampat (Raja Ampat), Kerasnya Hidup di Surga Kecil dan Mama Amamapare (Mimika), Pencurian SDA dan Pelanggaran HAM Papua (Fokus Kelapa sawit/Nabire).

Truck Monce (Keerom), Kokoda (Sorong), Pulau Numfor dan Perjuangan Tanpa Batas (Biak), Sekolah Tepi Sungai (Korowai), Maximum Impact, Melawan Stigma, Sa butuh ko pu cinta, Nagosa (Mama), Aku adalah Bapak dan Mama (Wamena). (Arjun)

Advertisement