Spirit Berbagi Gol A Gong

Spirit Berbagi Gol A Gong

Ilustrasi | Foto: Rumah Dunia

Oleh: Jodhi Yudono

Saya mengenalnya sudah lama, di awal tahun 1990. Gol A Gong, begitu dia menyebut nama. Tentu saja saya bahagia berkenalan dengan orang yang sudah terkenal di dunia kepenulisan yang rendah hati dan sopan. Nama aslinya Heri Hendrayana Harris, lahir di Purwakarta, Jawa Barat, 15 Agustus 1963.

Waktu itu kami sama-sama bekerja di grup Majalah Gramedia. Saya di Tabloid Citra Musik, Gong bekerja di Tabloid Warta Pramuka. Beberapa kali saya diminta untuk menulis cerita pendek untuk tabloid yang dikelolanya. Selang berapa bulan, Gong pamitan kepada saya. Katanya, dia mau keliling wilayah ASEAN dengan berkendara sepeda. Saya ternganga, kaget campur takjub. Keliling ASEAN berkendara sepeda hanya dengan tangan sebelah?

Tapi saya percaya Gong bisa melakukannya, sebagaimana dia mampu mengguncang dunia kepenulisan Indonesia dengan Novel Balada Si Roy yang ditulisnya. Cerita di balik tangannya yang diamputasi terjadi saat dia berusia 11 tahun. Gol A Gong (dulu ditulis Gola Gong) kehilangan tangan kirinya. Itu terjadi saat dia dan teman-temannya bermain di dekat alun-alun Kota Serang. Saat itu sedang ada tentara latihan terjun payung. Kepada kawan-kawannya dia menantang untuk adu keberanian seperti seorang penerjun payung. Uji nyali itu dilakukan dengan cara loncat dari pohon di pinggir alun-alun. Siapa yang berani meloncat paling tinggi, dialah yang berhak menjadi pemimpin di antara mereka. Kecelakaan yang menyebabkan tangan kirinya harus diamputasi itu tidak membuatnya sedih. Bapaknya menegaskan kepadanya: “Kamu harus banyak membaca dan kamu akan menjadi seseorang dan lupa bahwa diri kamu itu cacat”.

Begitulah, semenjak dia berkelana dengan bersepeda, tiada lagi kabar darinya. Saat itu belum ada media sosial atau telepun seluler yang memudahkan manusia untuk berkomunikasi. Tapi kemudian saya tahu, perjalanannya ke beberapa negara ASEAN itu menghasilkan sebuah buku berjudul “Balada Si Roy buku ke Traveler” (Gramedia, 1993).

Baru pada awal tahun 200an, komunikasi kami tersambung kembali. Sudah ada telepon seluler dan perkawanan kami semakin luas dan mirip jaring laba-laba yang saling berkait. Gong sempat bekerja di stasiun televisi, tapi kemudian panggilan dunia literasi lebih menarik hatinya.

Gong mendirikan komunitas literasi Rumah Dunia, impian yang dibangun sejak remaja untuk memiliki semacam gelanggang remaja terwujud dengan didirikannya komunitas kesenian Rumah Dunia pada tahun 1998. Sejak tahun 2000, Komunitas ini berada di atas tanah 1000 m2 di belakang rumahnya di Komplek Hegar Alam, Ciloang Serang, Banten. Komunitas semacam ini adalah impiannya beserta temannya Toto ST Radik, dan (alm) Rys Revolta. Pada tahun 2008, Gol A Gong mengajak orang-orang di seluruh dunia yang peduli literasi untuk membebaskan lahan seluas 3000 m2. Pada 2012, lahan itu berhasil dibebaskan dan di atasnya Gelanggang Remaja Rumah Dunia berdiri dengan megah.

Beberapa kali saya diundang sebagai narasumber tentang penulisan atau menyanyikan puisi di Rumah Dunia. Komunikasi terus berlanjut. Gong selalu mengabarkan kegiatan yang sedang dilakukannya, baik yang berlangsung di Rumah Dunia maupun di luar. Tentu saja, kegiatan Gong selalu berurusan dengan dunia literasi. Kiprahnya bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Seperti kali ini, dia berkirim kabar dari Jawa Timur. Katanya, “Hari Puisi Indonesia 2017 dirayakan setiap 26 Juli, persis di hari kelahiran Chairil Anwar, si binatang jalang yang ingin hidup 1000 tahun lagi. Saya, Tias Tatanka dan keempat anak–Nabila Nurkhalishah, Gabriel Gee, Jordy Alghifari, dan Natasha Azka dengan label “Tur Gempa Literasi Jawa Bersama Jaguar” merayakannya sambil mudik di beberapa kota di Jawa. Seperti halnya di setiap episode “Balada Si Roy” saya buka dengan puisi, di Juli Puisi ini, kami mengenalkan puisi ke masyarakat “bawah”, yang dalam kesehariannya tidak berkubang dengan puisi.”

Lantas dengan nada yang provokatif, dia pun melanjutkan kata-katanya, “Ayo, rayakan mudikmu selain dengan ketupat, opor ayam, juga puisi. Insya Allah, dengan puisi hati kita jadi lembut, tidak akan rasis, primordial, tapi akan lebih tolerans dan menghargai keberagaman.”

Gong sekeluarga memulai perjalanan sejak 30 Juni 2017 dari kota dirinya bermukim bersama keluarga, Serang. Kemudian menuju Cirebon, Tegal, Pekalongan, Solo, Ngawi, Jombang, Surabaya, Lamongan, Bojonegoro, dan saat tulisan ini dibuat Gong mengaku sedang menuju Rembang (19//7), dilanjutkan ke Jepara (22/7), Semarang (23/7), Ungaran (24/7), Wonosobo (29/7), Purwokerto (31/7 sd 2/8), Ciamis (4-5/8), Bandung (6/8), pulang ke Serang. “Alhamdulillah, lancar…. setiap kota maksimal 3 titik kegiatan; pelatihan, seminar literasi, perayaan puisi,” kata Gong saat ditanya perjalanannya yang lumayan panjang itu.

Pada sepanjang perjalanannya itu, Gong sekeluarga melakukan banyak kegiatan. Misalnya, menyerahkan buku karya Gol A Gong ke Perpustakaan kota atau kabupaten yang dilewati, menggelar pertunjukkan seni berupa pembacaan puisi dari buku “Kutanam Matahari di Halaman Rumah Kita” karya Gol A Gong, Writing Motivation dengan tema “Literasi yang Sehat Dimulai Dari Rumah”, “Jadi Kreatif di Abu Dhabi”, hingga bazaar buku karya Gol A Gong.

Gong mengaku, acara jalan-jalan sambil berbagi ini hasil kerjasama Komunitas Rumah Dunia, RumahBelajar Mep Jombang, Forum TBM, Perpus Seru. Sayang dalam perjalanan ini, si sulung Nabila Nurkhalisah tidak ikut serta, sebab sedang kuliah di China. Mereka berlima, Gong dan sang istri Tias Tatanka, dan tiga anak: Gabriel Firmansyah (Abi), Jordi Alghifari (Odi), dan Natasha Azka Nursyamsa (Kaka). Tias meuturkan, mobil yang mereka kendarai masih stabil hingga perjalanan sampai Bojonegoro. “Sudah menghabiskan Rp 830.00 untuk bahan bakar pertamax,” ujar Tias yang sefsng mrnjadfi navigatior bagi suaminya yang sedang menyopir.

Ya..ya, selalu saja cerita kegiatan Gong sekeluarga ini menggetarkan hati saya. Gong, lelaki hebat itu sudah sanggup mendirikan kehidupan keluarganya sesuai dengan yang dia harapkan. Anak-anak bersekolah dengan baik dengan minat yang diasah secara maksimal. Seperti anak ketiga mereka Gabriel yang bersekolah di Abu Dhabi, selain mengasah bakatnya menulis, dia juga musisi rap berbakat.

Gol A Gong adalah sebuah pribadi sederhana dengan cita-cita yang tidak sederhana. Hanya dengan semangat dan keikhlasannya berbagi, dia telah sanggup menunjukkan kepada dunia betapa kasih sayangnya kepada sesama mampu menggerakkan hati banyak orang untuk bergotongroyong membangun sebuah Gelanggang Remaja di Kampung Ciloang, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten; yang megah. (Jodhi Yudono menulis esai di media sejak tahun 1989. Kini, selain menulis berita dan kolom di kompas.com, kelahiran 16 Mei ini juga dikenal sebagai musisi yang menyanyikan puisi-puisi karya sendiri maupun karya penyair-penyair besar semacam WS Rendra, Chairil Anwar, Darmanto Jatman, dan lain-lain)

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement