Presiden Diminta Batalkan Hasil Pemilihan Rektor Unmus

Presiden Diminta Batalkan Hasil Pemilihan Rektor Unmus

Dosen dan staf tim peduli Unmus Merauke, Papua nyatakan sikap menolak hasil pemilihan Rektor Unmus

Metro Merauke – Terpilihnya kembali Philipus Betaubun sebagai Rektor Universitas Negeri Musamus (Unmus) Merauke, Papua, Senin (11/7), ditolak sejumlah dosen dan staf yang tergabung dalam tim peduli Unmus melalui konferensi pers, Jumat (14/7).

Dosen fakultas ekonomi, Hendrikus L. DEA menyatakan, alasan penolakan pihaknya karena menilai ada ketidak beresan dalam sistem tata kelola Unmus. Selain itu, pelaksanaan pemilihan dilangsungkan secara mendadak dan digelar tertutup.

Hal senada dikatakan dosen tetap Fakultas Fisip Unmus Merauke, Antonius Ng Cambu. Menurutnya ada kejanggalan dalam pemilihan pimpinan Unmus Merauke.

“Kami melihat ada kejanggalan karena tidak sesuai amanat pendidikan tinggi yang sebenarnya,” ujarnya.

Para dosen ini membacakan pernyataan sikap sebagai bentuk penolakan. Ada tiga poin penting dalam pernyataan sikap itu yakni memohon kepada Presiden RI membatalkan hasil pemilihan rektor.

Poin lainnya, meminta pertanggungjawaban Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi terhadap perpanjangan masa jabatan Rektor Plt Unmus sebanyak tiga kali untuk tetap mencalonkan diri, dan meminta lembaga tinggi negara menindaklanjuti, mengusut tuntas penyimpangan serta pelanggaran yang terjadi di Unmus.

Dosen dan sejumlah staf berharap, kali ini Presiden RI benar-benar dapat memperhatikan dan merespon laporan dari para dosen serta staf tim peduli Unmus.

“Kami minta presiden untuk melihat kami di perbatasan Merauke, kami harus diperhatikan.Sebagai anak asli Marind kami menolak keputusan tersebut,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Basilius R Werang menambahkan, sikap pihaknya mungkin akan berbeda kalau saja proses pemilihan rektor dilakukan sesuai mekanisme.

“Kami sendiri kaget, Senin (11/7) ada spanduk dan pemilihan rektor, sementara mahasiswa diliburkan pada hari Jumat. Harusnya akademisi transparan, akademisi dan mahasiswa harus tahu ada pemilihan yang dilakukan secara terbuka,” kata Werang.

Terlebih lanjut dia, komposisi senat tidak berubah. Sebagai akademisi ia menilai, ini tidak masuk akal dan mempertanyakannya kepada menteri.

“Meski dirasakan ada kekeliruan, sejumlah dosen tetap melakukan tanggungjawabnya mendidik mahasiswa, karena kami bekerja bukan untuk rektor tapi untuk tanah ini. Walaupun ada hal-hal keliru, kami tetap melakukan kewajiban mendidik anak-anak negeri,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua Panitia, Dirwan Muklis saat dikonfirmasi Metro Merauke menjelaskan, pelaksanaan pemilihan Rektor Unmus telah mengacu pada mekanisme dan aturan Menteri Ristek. Pemilihan diikuti tiga kandidat yaitu Rasyid Asba, Irwansyah dan Philipus Betaubun.

“Sebelumnya dibuka pendaftaran lewat internet. Ada kandidat dari luar daerah yang ikut mendaftar dan dalam penjaringan tersisa dua kandidat dari luar daerah. Sesuai aturan, pemilihan rektor sifatnya digelar dalam rapat senat tertutup yang juga dihadiri utusan menteri,” jelasnya.

Meski pemilihan telah digelar lanjut dia, pelantikan Rektor Unmus masih menunggu keputusan di tingkat pusat. “Belum diketahui kapan jadwal pelantikannya, karena hasil pemilihan ini harus dikirim ke kementerian,” ucapnya. (Nuryani/Arjuna)

Advertisement