Anak-anak yang Melawan Tradisi Kawin Lari

Anak-anak yang Melawan Tradisi Kawin Lari

Kelompok belajar bahasa Inggris di Desa Jagaraga Indah, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat | KOMPAS/KAHFI DIRGA CAHYA

Metro Merauke – Anak-anak muda ini berusaha mewujudkan mimpinya, meski itu berarti mereka melawan ‘tradisi’.

Lulu (13) nampak antusias berada di sekeliling teman-temannya dalam sebuah ruang tamu rumah. Dia bersama teman-temannya secara seksama mengulangi percakapan yang diminta oleh pengajarnya, Hamdi.

“I study english for success in the future,” kata Lulu dan kawan-kawannya yang mengulangi ucapan Hamdi.

Kata-kata tersebut untuk memantik semangat para anak-anak di Desa Jagaraga Indah, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Menggelorakan semangat untuk masa depan yang lebih baik ini sekaligus untuk mengentaskan persoalan pernikahan usia anak di Lombok Barat.

Persoalan ini menjadi pelik karena masyarakat Lombok Barat yang sebagian besar berasal dari Suku Sasak memiliki tradisi pernikahan yang ‘mendukung’.

Tradisi itu disebut merarik kodek atau kawin lari. Tak sedikit anak-anak perempuan dibawa lari oleh pasangan prianya untuk menikah. Bila itu terjadi, maka akan sulit dipisahkan dan digagalkan.

“Aku menolak nikah usia anak,” kata Lulu kepada Kompas.com di Desa Jagaraga Indah, Lombok Barat, NTB, baru-baru ini.

Lulu yang bersekolah di pondok pesantren berpendapat bahwa menikah di usia anak berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi. Pengetahuan ini didapat dari sekolah pun teman-teman yang tergabung dalam aliansi “Yes I Do” bentukan Plan Internasional Indonesia bersama Rutgers WPF Indonesia dan Aliansi Remaja Independen (ARI).

Penanaman pemikiran pertentangan pernikahan usia anak dianggap sebagai bagian dari mengubah pola pikir. Sebab, pernikahan usia anak ini juga bagian dari merusak generasi penerus.

Lulu yang masih tergolong dalam usia anak ini melihat bahwa pernikahan dini bisa memutus masa depan. Dia bercita-cita sebagai pramugari.

Bukan cuma menolak pernikahan dini dan ingin terus bersekolah, Lulu juga turut serta dalam kegiatan “English Club” untuk menambah pengetahuan. Selain itu, ia juga melakukan aktivitas lain dengan berdagang sosis goreng untuk membantu orangtuanya.

Ide berdagang ini berasal dari dia sendiri. Bahkan, proses membeli bahan baku hingga masak pun dilakukan oleh Lulu sendiri, dan sesekali dibantu oleh orangtua. “Buat bantu ibu dan ayah yang bekerja saja,” ucapnya.

Serupa dengan Lulu, Muhammad Khairul Hupli (15) juga turut serta menentang pernikahan usia anak. Salah satu cara dia untuk melawan adalah dengan pendidikan. Khairul pun turut serta dalam kelompok belajar bahasa Inggris yang diadakan di desanya.

Belajar bahasa asing menurut Muhammad sangat penting untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Selepas sekolah dia ingin bekerja di bisnis perhotelan. “Saya ingin bekerja di dunia perhotelan, makanya terus belajar bahasa Inggris,” kata Muhammad yang terinspirasi oleh rekan-rekannya yang lebih dulu bekerja di bisnis tersebut.

Hamdi, pengajar dalam kelompok bahasa Inggris ini mengatakan tujuan dari kegiatan belajar ini memang untuk memutus mata rantai pernikahan usia anak. Kegelisahan dia soal pernikahan usia anak menggerakkan hatinya untuk mengabdi dan memberikan ilmu kepada anak-anak.

“Kami mau memutus pernikahan di bawah umur dan yang muda-muda (anak-anak) ini mandiri,” kata Hamdi.

Salah satu metode pembelajaran di sini adalah dengan latihan di tempat kerja. Mereka diberikan kesempatan untuk mengetahui dunia kerja secara langsung. “Kelompok pertama sudah tiga bulan dan alhamdulillah 10 orang sudah bekerja di Gili Trawangan,” ujar Hamdi. (Kahfi Dirga Cahya)

Sumber: Kompas

Advertisement