JK: Wajar Kalau Warga Perbatasan Beli Gula di Malaysia

JK: Wajar Kalau Warga Perbatasan Beli Gula di Malaysia

Foto: Muhammad Idris/detikFinance

Metro Merauke – Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK), menilai pembangunan perbatasan terus dilakukan. Setelah gerbang perbatasan dipermak, pekerjaan rumah pemerintah saat ini yakni fokus pada pembangunan ekonomi, seperti kesenjangan harga.

“Pada saat harga gula di Indonesia lebih mahal, maka orang mengambilnya dari Serawak. Karena kalau dia harus beli di Jawa, berapa ongkosnya sampai ke perbatasan. Kita tidak bisa seperti itu, harus memahami juga apabila masyarakat kita dipaksa beli barang di negeri sendiri,” kata JK di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (11/7).

Jika pemerintah memperketat arus barang yang masuk dari Malaysia, di sisi lain harga barang dari Jawa mahal, maka hal tersebut malah berdampak buruk pada daya beli masyarakat perbatasan.

“Maka harga akan mahal, artinya tingkat pendapatan menurun, dan daya beli menurun. Akan tetapi ini harus diatur dengan baik. Masyarakat perbatasan belerja di daerah perbatasan memberikan pendapatan yang lebih tinggi itu biasa terjadi sejak dulu, dan ini harus dibuat aturan-aturannya,” jelas JK.

“Kalau orang di Kalimantan Utara untuk mendatangkan sesuatu dari Jawa tentu sangat mahal. Tapi lebih dekat dengan Serawak, kadang-kadang perlu,” tambahnya.

Menurut JK, tren masyarakat di perbatasan yang lebih menyukai membeli barang dari negara tetangga adalah suatu hal yang wajar. Di Papua, banyak pula warga Papua Nugini yang berbelanja ke Indonesia.

“Orang Kalimantan dan Sulawesi apabila ingin beli barang-barang yang pada waktu itu dianggap mewah itu biasanya datang ke Tawau. Hal ini sekarang sudah banyak yang terbalik. Di mana seperti orang Papua Nugini untuk membeli barang di perbatasan di Papua,” pungkasnya. (idr/wdl)

Sumber: Detik

Advertisement