Banjir, Kendala Petani OAP di Kampung Sabon

Banjir, Kendala Petani OAP di Kampung Sabon

Soter Kamiawi (kiri) bersama beberapa warga di DPRD Merauke, Papua

Metro Merauke – Tokoh Masyarakat Kampung Sabon, Distrik Waan, Kabupaten Merauke, Papua, Soter Kamiawi mengungkapkan, dari tahun ke tahun, tanaman padi petani orang asli Papua (OAP) di kampung itu sebagian besar mati akibat tegenang air ketika banjir, lantaran tak ada saluran air di area persawahan.

Menurutnya, struktur tanah di Kampung Sabon sangat mendukung. Namun, masalahnya belum ada irigasi, sehingga ketika datang banjir, tanaman padi petani akan terendam air hingga beberapa pekan lamanya.

“Saya berterimakasih kepada Pak Romanus Mbaraka, karena ketika masih menjabat Bupati Merauke lima tahun silam, beliau mengunjungi masyarakat di Sabon sekaligus memanen padi di atas lahan 80 hektar,” katanya kepada Metro Merauke, Senin (10/7).

Katanya, empat tahun silam, masyarakat setempat membuka lahan hingga seluas 80 hektar. Namun dalam dua tahun tekahir, mereka tak mampu membuka lahan dalam skala luas.

“Kalau warga memaksakan diri membuka lahan lebih luas, dipastikan tanaman padi akan mati, karena terendam banjir. Jadi, hanya beberapa hektar, itupun secara perorangan. Tidak dalam bentuk kelompok,” ujarnya.

Namun ia mengatakan, ada bantuan berupa mesin penggilingan padi untuk warga setempat. Mesin itu untuk menggiling gabah menjadi beras, usai padi dipanen dan dijemur. “Sampai hari ini, mesinnya masih baik dan tetap beroperasi sebagaimana biasa,” tuturnya. (LKF/Arjuna)

Advertisement