Jurnalis Jayapura Berniat Investigasi Sejumlah Masalah di Papua

Jurnalis Jayapura Berniat Investigasi Sejumlah Masalah di Papua

Suasana Pelatihan Jurnalisme Investigasi yang Digelar PT. Jujur Bicara bersama Tempo Tempo Institute, 8-9 Juli 2017 di Salah Satu Hotel di Kota Jayapura, Papua

Metro Merauke – Beberapa jurnalis di Jayapura, Papua berniat melakukan reportase investigasi sejumlah dugaan masalah di Papua yang menjadi keluhan masyarakat selama ini.

Usulan itu disampaikan para jurnalis ketika mengikuti pelatihan reportase investigasi, kerjasama PT Jujur Bicara (Koran Jubi dan tabloidjubi.com) dengan Tempo Institute (Majalah Tempo, Koran Tempo dan tempo.co), 8-9 Juli 2017 di salah satu hotel di Kota Jayapura.

Baca Juga: Kolaborasi Reportase Investigasi, Strategi Membongkar Masalah

Beberapa isu yang diusulkan yakni polemik perusahaan tambang memperebutkan area penambang emas di Nifasi, Kabupaten Nabire yang menyebabkan gesekan di masyarakat dan dugaan keterlibatan oknum-oknum aparat keamanan dari institusi tertentu.

Usulan lainnya mengenai kesehatan di Papua, terkait angka kematian pasien, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat dan persedian darah di rumah sakit pemerintah, hingga Kartu Papua Sehat (KPS).

Ada juga usulan reportase investigasi pembangunan rumah layak huni untuk orang asli Papua, dugaan perdagangan perempuan di wilayah tambang emas Degeuwo, Kabupaten Paniai dan masalah sampah di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura.

Redaktur eksekutif Majalah Tempo, Wahyu Dhyatmika yang hadir sebagai pemateri menyarankan para jurnalis mengirim proposal ke Tempo, terkait berbagai isu yang diusulkan. Setiap isu akan diseleksi bersama proposal isu dari daerah lain di Indonesia. Jika dianggap memenuhi kriteria dan didukung data awal, tidak menutup kemungkinan akan ditindaklanjuti bersama.

Baca Juga: Pentingnya Reportase Investigasi Dimasa Kini 

Ia mengingatkan, laporan investigasi harus bisa mengungkap adanya kesalahan, isunya baru dan tidak hanya satu masalah, tapi masalah yang sama terjadi di daerah lain.

“Reportase investigasi harus lebih dalam, reportase investigasi berawal dari tuduh. Ada pelanggaran yang harus dibuktikan. Membongkar pelanggaran atau tuduhan itu,” katanya, Minggu (9/7).

Namun ia menyatakan, jurnalisme investigasi memang sulit berkembang. Tidak hanya di Papua, namun di seluruh Indonesia. Ini disebabkan karena beberapa hal diantaranya resiko, pembiayaan dan keterampilan.

“Tidak mudah mencari dokumen, mencari narasumber yang tepat serta merayu orang meminta dokumen dan data. Selain itu, ada dua syarat informasi bisa dimuat di media, pertama verifikasi dan kedua konfirmasi,” ujarnya.

Katanya dalam verifikasi, setiap kalimat yang ditulis harus ada bukti lebih dari satu. Bukan hanya berdasarkan satu sumber, sedangkan dalam tahap konfirmasi, setiap menulis harus ada jawaban dari orang yang dituduh.

Selain itu, dalam penyampaian laporan investigasi, jurnalis dituntut menyederhanakan kompleksitas masalah, mendudukkan semua aktor yang terlibat dan perannya, menjawab tuntas semua pertanyaan yang muncul.

“Penting, sedari awal menjelaskan apa pentingnya liputan ini untuk publik, dan mengapa Anda melakukannya,” imbuhnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam reportase investigasi yaitu basebuilding, yakni mencari dokumen pendukung untuk menguatkan bukti pelanggaran, bertemu narasumber yang bisa memastikan terjadi pelanggaran.

Dikatakan, dalam memilih topik, harus mencari satu isu menarik, diuji dengan tiga indikator yakni apakah ada pelanggaran, ada upaya menyembunyikan/isu itu ditutup-tutupi, dan ada kepentingan publik.

“Lakukan feasibility study untuk menentukan apakah isu itu bisa diinvestigasi atau tidak. Jika bisa, lanjutkan ke tahap basebuilding,” ucapnya.

Tahap ini lanjut dia, butuh waktu menemukan bahan awal berupa dokumen yang relevan. Menemukan whistle blower yang mau bicara memang tidak mudah. Tapi ini tidak datang dari surga. Go out there! Knock on closed doors! Temui sumber-sumber yang relevan.

Selain itu harus merumuskan hipotesis. Setelah proses feasibility dan basebuilding, sudah ada gambaran lebih jelas mengenai topik yang akan diinvestigasi.

Namun harus diingat, investigasi adalah peliputan yang berangkat dengan tuduhan. Tugas jurnalis membuktikan tuduhan itu. Tapi, harus dipastikan, jurnalis punya dasar yang kuat untuk menuduh.

“Ingat, itulah tujuan tahap feasibility study dan basebuilding. Kalau tidak, berarti investigasi kita ngawur. Setelah yakin, kita masuk pada tahap planning,” katanya. (Arjuna)

Advertisement