Yavet Dapat Traktor Berkat Sapi

Yavet Dapat Traktor Berkat Sapi

Mentan hadir di Kelurahan Malawili, Distrik Aimas, Kabupaten Sorongdalam rangka meresmikan Gerakan Tanam Padi dan Inseminasi Buatan Sapi, Selasa (20/6) | eh ismail/republika

Metro Merauke – Yavet Blesiah langsung mengambil tas punggung yang dibawanya dan bergegas menuju barisan hand tractor yang berada di pinggir sawah. Senyum gembira tak lepas dari wajahnya. Yavet baru saja menerima sebuah kunci traktor tangan dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Pada Selasa (20/6), Mentan hadir di Kelurahan Malawili, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat, dalam rangka melakukan kunjungan kerja sekaligus meresmikan Gerakan Tanam Padi dan Inseminasi Buatan Sapi di kabupaten itu.

Yavet adalah peternak sapi warga Kelurahan Makotyamsa, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Pria 40 tahun ini merupakan penanya terakhir saat acara dialog pada kegiatan kunjungan kerja Mentan. Pria 40 tahun itu beruntung langsung mendapatkan sebuah traktor tangan yang semula dialokasikan untuk bantuan alat mesin pertanian kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat.

Mentan terkesan dengan Yavet yang menceritakan kerja kerasnya mengembangkan dua ekor sapi yang dimilikinya menjadi 50 ekor sapi. Apalagi, peternakan yang dirintis Yavet belum pernah mendapatkan sentuhan bantuan dari pemerintah. Hal itu terlihat berbeda dari para petani lain yang berkesempatan berdialog langsung dengan Mentan yang umumnya menceritakan masalah dan meminta bantuan pemerintah.

“Ini saya senang. Kita perlu, Indonesia perlu orang-orang dengan semangat kerja seperti Pak Yavet. Berikan dulu satu traktor. Mana kuncinya, langsung berikan. Nanti bantuan yang untuk pemda saya ganti. Ini pesan langsung dari bapak presiden, kita harus hadir di tengah orang-orang seperti Pak Yavet,” kata Mentan.

Mentan bercerita, saat kecil, dia dan keluarga yang hidup kekurangan memiliki dua ekor sapi. Dengan kegigihan dan kerja keras, dua orang ekor sapi itu kemudian berkembang menjadi 48 ekor. Karena itu, cerita Yavet hampir sama dengan cerita kehidupan Amran membuat Mentan terkesan. Bahkan, Yavet disebutnya lebih hebat dari dirinya.

“Kalau saya dari dua sapi bisa 48 ekor, Pak Yavet bisa 50. Ini lebih hebat. Semoga anak cucu Pak Yavet bisa jadi menteri. Bisa jadi presiden,” ujar Mentan.

Saat ingin membawa pulang traktor pemberian Mentan, Yavet bercerita. Semula, dia hanya memiliki dua ekor sapi pada 2002 silam. Dia punya keinginan memberikan pendidikan kepada anak-anaknya sampai jenjang pendidikan tinggi. Karena itu, dia bertekad mengembangkan sapi yang dimilikinya itu.

Dengan kondisi alam Sorong yang bagus, Yavet rajin memberi makan dan memeriksakan kesuburan sapinya. Lambat laun, sapinya beranak pinak. Sapi betina dipeliharanya terus, sedangkan sapi jantan dijual satu per satu manakala anak-anaknya ingin bayar sekolah. Hasilnya, keempat anak Yavet berhasil kuliah. Anak keempatnya Kiki duduk di sekolah menengah atas.

Yavet pun berterima kasih kepada pemerintah yang sudah baik hati memberikan bantuan kepadanya. Dia berjanji akan memanfaatkan bantuan yang diterima dan terus mengembangkan sapi-sapi yang dimilikinya.

“Sekarang itu yang ada 50. Kalau sejak dulu dengan yang dijual-jual sudah ratusan,” ujar Yavet seraya mengatakan beternak sapi bisa menjadi sumber kesejahteraan petani di Sorong.

Menurut Mentan, cerita kesuksesan Yavet seharusnya bisa menjadi contoh sekaligus faktor yang mampu membangkitkan semangat para petani Sorong. Sebab, masa depan pertanian Indonesia ada di wilayah timur Indonesia. “Salah satunya adalah Papua Barat, khususnya Kabupaten Sorong.”

Tanah Papua Barat yang luas dan subur dengan penduduk yang relatif sedikit, kata Mentan, seharusnya bisa mensejahterakan rakyatnya. Dengan syarat, lahan-lahan yang tidur dan belum diolah harus ditanami dan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. (EH Ismail)

Sumber: Republika

Advertisement