Penanganan Anak Aibon di Merauke Didiskusikan

Penanganan Anak Aibon di Merauke Didiskusikan

Diskusi Lintas Elemen yang Digelar Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Sabtu (17/6)

Metro Merauke – Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke menyelenggarakan diskusi sehari. Diskusi yang melibatkan lintas elemen dengan tema penyalahgunaan lem aibon pada kalangan anak di Kota Merauke digelar, Sabtu (17/6).

Diskusi ini digagas Komisi Keuskupan Agung Merauke dalam program kerja tahunan, lantaran prihatin dengan kondisi anak aibon. Diskusi diharapkan menghasilkan satu keputusan tindaklanjut dari semua elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera menyelamatkan generasi bangsa.

Ketua Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Anna Mahuze dalam pemaparannya mengatakan, kebiasaan menghirup lem aibon di Kota Merauke pertama kali dilakukan seorang anak pindahan dari Timika, Kabupaten Mimika, 2001 lalu. Di kota asalnya, anak itu suka menghirup bau bensin.

Kebiasaan ini terbawa sampai ke Merauke dan menjadi trend anak jalanan di “Kota Rusa”, karena sudah kecanduan, mereka sulit menghentikan kebiasaan buruk itu. Selain harganya yang murah, lem aibon gampang didapat.

Dampak menghirup lem aibon terhadap kesehatan kata dia, kerusakan sel-sel saraf pusat otak, kerusakan organ paru-paru, jantung, ginjal, hati, gangguan jiwa dan menyebabkan kematian.

“Dampak sosial, anak terisolasi dari dunia anak, terjadi keresahan, ketakutan orang tua, dan masyarakat. Menjadi pengancam, pencuri, pemerkosa bahkan pembunuh,” katanya.

Faktor penyebab dominan, karena bergaul dengan teman sesama pengguna, tidak nyaman di rumah, dan menjadi trend anak jalanan serta belum ada peraturan yang tepat, baik terhadap anak, orang tua maupun penjual lem aibon.

“Berdasarkan data yang kami miliki, anak aibon laki-laki sebanyak 44 orang dan perempuan tiga orang. Status orang tua anak yang sudah menikah 23 kepala keluarga, belum menikah 24 dan sisanya tidak jelas. Tidak tamat SD 32, tidak tamat SMP delapan orang  dan tidak tamat SMA tujuh orang,” ujarnya.

Jumlah mereka diprediksi akan terus bertambah jika tidak segera direspon, ditindaklanjuti, dan kesepakatan atau keputusan yang dibuat mulai dari pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan dinas terkait serta TNI/Polri.

Sementara Sekda Merauke, Daniel Pauta mewakili pemerintah daerah mengatakan, untuk menyelesaikan semua masalah yang ada, pemerintah butuh dukungan dari semua elemen masyarakat.

“Hari ini diskusi kita harus ada hasil tidak hanya habis didiskusi. Diskusi untuk merumuskan suatu yang bermanfaat guna menekan dan menyelamatkan anak aibon di Merauke,” katanya.

Untuk Dinas Sosial kata Pauta, segera memprogramkan dan menganggarkannya dalam anggaran APBD 2018 atau memaskukkan anggarannya dalam APBD perubahaan 2017.

Diskusi sehari itu menghasilkan kesepakatan pembentukan forum peduli penyalahgunaan lem aibon di Merauke. Forum ini bertugas menindaklanjuti masalah penyalahgunaan lem aibon. (Getrudis/Arjuna)

Advertisement