Suara dari Pelosok Merauke: Tolong Perbaiki Jalan, Alirkan Listrik 24 Jam

Suara dari Pelosok Merauke: Tolong Perbaiki Jalan, Alirkan Listrik 24 Jam

Jalan di Merauke | Foto: Achmad Rouzni Noor II/detikINET

Metro Merauke – Sudut Kampung Erambu ini terasa sunyi, jauh dari Kota Merauke yang jaraknya sekitar 120 km di sebelah selatan. Di tepian Kali Wanggo, aktivitas penduduk jelas terlihat.

Terlihat tongkat-tongkat kayu terpancang dengan ikan bergelantungan. Pemandangan tersebut dilihat detikcom di Jalan Trans Papua dekat sungai ini, Selasa (14/6). Ikan-ikan itu dijual kepada siapa saja yang ingin membelinya.

Lokasi ini bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat, lurus terus saja dari arah Merauke. Dari Tugu Kembaran Sabang-Merauke, terus saja ke utara sampai sekitar 40 km. Jalan rusak berlumpur harus ditempuh. Bila musim hujan, risiko kendaraan terjebak lumpur bakal lebih besar ketimbang saat musim kemarau.

Silvester Kabujay | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Seorang warga Kampung Erambu bernama Meki (27) mengeluhkan kondisi jalan di sekitar kampungnya itu. Bila kondisi jalan baik, aktivitas hilir mudik orang kampung ke kota jadi lebih lancar. Keuntungan menjual ikan, hasil buruan, dan hasil hutan lain bisa lebih baik bila dijual ke kota ketimbang hanya dijual di pinggir jalan.

“Harus diperbaiki lagi jalan raya itu. Kendaraan sering ada yang macet di situ,” kata Meki sambil menunjuk ke arah jalan berlumpur di seberang sungai sana.

Sebenarnya, saat musim kemarau, saat jalan tak berubah jadi kubangan lumpur, penduduk Erambu sering membawa barang jualan ke Kota Merauke. Namun, bila hujan turun, perjalanan itu tidak mudah dilakukan.

“Gara-gara itu kita tidak bisa membawa hasil ke Merauke, ya karena jalanan. Biasanya bawa ikan, daging, jualan di pasar di Merauke. Di sana, harga di atas sedikit daripada di sini,” kata Meki, yang duduk di atas perahu kecil.

Barang jualan mereka adalah ikan gabus, mujair, hingga ikan kaloso (arwana). Ada pula daging saham (kanguru Merauke), rusa, dan babi, kadang-kadang juga kasuari. Ikan mujair kecil-kecil dijual Rp 15 ribu, sedangkan yang besar Rp 20 ribu. Harga daging kanguru bervariasi, tergantung ukuran, dari Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu. Daging rusa seharga Rp 25 ribu per kilogram. Babi hidup dihargai Rp 300 ribu.

Saudara sepupu Meki, Silvester Kabujay (40), menyatakan hal serupa. “Jalan harus diperbaiki,” ucap Silvester.

Kanguru Papua yang disebut dengan nama ‘saham’ | Foto: Afif Farhan/detikcom

Selain itu, hasil tumbuhan berupa gambir menjadi komoditas penyambung hidup. Silvester sehari-hari menjajakan jasa pengantaran gambir dari kawasan Kampung Erambu ke Kampung Toray. Rp 25 ribu sekali jalan. Gambir dimuat menggunakan ketinting, yakni kapal kecil berbentuk setengah silinder, dibuat dari satu kayu pohon, kemudian diberi motor penggerak di belakangnya.

Listrik juga jadi kendala di sini. Listrik hanya menyala dari pukul 18.00 sampai 00.00 WIT. Bila listrik menyala penuh, tentu itu bakal menunjang hidup warga kampung.

“Listrik tidak sampai pagi. Perlu listrik sampai pagi, siang, dan malam. Karena kalau ada freezer penyimpan es, kita bisa menyimpan ikan dan daging. Tapi di sini listriknya terbatas sampai jam dua belas malam,” tutur Silvester.

Bila ada lemari pendingin, ikan dan daging hasil buruan bisa lebih awet sehingga tak perlu buru-buru harus dijual di pinggir jalan, malah bisa juga dikirim ke tempat lain. Tapi lemari pendingin membutuhkan listrik.

David Kabujay | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Silvester kadang dibantu anaknya, David (12), yang masih bersekolah di SMP Negeri Erambu. Tentu listrik juga menjadi faktor penunjang aktivitas belajar dan mengajar di sekolah. Di SMP Negeri Erambu, ada sel surya yang bisa menyimpan tenaga listrik, tapi itu juga tidak cukup besar, hanya 500 watt.

Tenaga sel surya itu dipakai untuk menghidupkan menara Wi-Fi satelit yang didirikan pada 2016. Selebihnya, listrik dari tenaga surya digunakan untuk mengisi ulang baterai ponsel saja. Listrik dari tenaga surya tidak kuat dipakai untuk kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Instalasi sel surya di SMP Negeri Erambu, Sota | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Kepala SMP Negeri Erambu Budi Setyo Wahono (52) menjelaskan pihaknya masih membutuhkan belasan papan sel surya lagi untuk menunjang kegiatan sekolah.

“Kita butuh solar cell 12 papan, supaya bisa kita pakai untuk kegiatan pembelajaran. Sampai sekarang, ruang kelas belum dipasang jaringan listrik,” tutur Budi.

Jangkauan Wi-Fi untuk internet itu pun tak jauh. Mentok-mentok sampai depan lapangan sekolah saja. Wi-Fi inilah yang digunakan untuk mengakses internet atau berkomunikasi dengan dunia luar lewat aplikasi pesan tertulis atau video call.

Instalasi sel surya dan sistem Wi-Fi satelit di SMP Negeri Erambu, Sota | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Jangan tanya soal sinyal GSM. Di sini, sinyal tak terdeteksi. Terakhir, ponsel saya mendeteksi sinyal GSM saat di pos perbatasan Sota, yang sering jadi tujuan wisatawan tapal batas, sekitar 40 km jauhnya dari Erambu.

Soal Jalan Trans Papua, proyek itu menjadi salah satu perhatian pemerintah pusat. Di Merauke, kondisinya memang masih berlumpur. Pembangunan jalan ini ditargetkan menembus sempurna melintasi Bumi Cenderawasih pada 2019. (dnu/tor)

Sumber: Detik

Advertisement