Merauke Kota Layak Anak, Penanganan Anak Belum Maksimal

Merauke Kota Layak Anak, Penanganan Anak Belum Maksimal

Kepala Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Papua, Anna Mahuze

Metro Merauke – Kabupaten Merauke, Papua dicanangkan sebagai kota kayak anak (KLA) sejak 2014. Namun hingga kini masih tadk ada kemajuan signifikan penanganan masalah anak di kabupaten itu. Belum ada sentuhan merata untuk menuju kota layak anak.

Kepala Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Anna Mahuze mengatakan, perhatian terhadap anak tidak hanya fokus kepada mereka yang bersekolah, tetapi juga kepada anak yang tidak sekolah. Misalnya anak jalanan, anak aibon dan peminta-minta.

“Kalau kota layak anak, semua harus diperhatikan, bukan hanya anak-anak bersekolah. Masih banyak anak yang tidak layak berkeliaran. Mereka tidak terurus, tidak sekolah, dan bertahan hidup dalam kekerasan setiap hari,” katanya, Selasa (13/6).

Menurutnya, setelah dicanangkan sebagai KLA, perlu dipertanyakan, sudah sejauh mana Merauke layak disebut sebagai kota layak anak. Semua anak harus disentuh tanpa melihat suku, agama, dan perbedaan lainnya.

“Semua anak Indonesai harus mendapat hak yang sama, yaitu perhatian untuk memperoleh hidup yang lebih baik,” ujarnya.

Katanya, penanganan terhadap anak-anak jalanan dan aibon di Merauke, bukan diawali dengan saling menyalahkan dan tuduh, melainkan kerja sama yang baik semua pihak dengan Pemkab Merauke, mencari solusi terbaik penanganannya.

“Harus punya data yang jelas, dan ada komitmen bersama memutuskan apa yang harus dilakukan. Mulai pemerintah, instansi terkait, semua tokoh dan pemimpin agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat, LSM, DPRD, Kepolisian, dan Satpol PP,” katanya. (Getrudis/Arjuna)

Advertisement