Ojek Lintas Negara Tanpa Rem di Merauke

Ojek Lintas Negara Tanpa Rem di Merauke

How Are You, saudaraku dari Papua Nugini? | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Metro Merauke – Negara seluas 1.904.569 km persegi ini dibatasi patok beton sederhana saja. Tingginya sebetis, agak terkikis, dicat putih. Di seberang sana sudah Papua Nugini. Batas teritori ini tak menyurutkan aktivitas hidup dan persaudaraan masyarakat setempat.

Tapal batas itu berada di Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, berbatasan dengan Weam, Western Province, Papua Nugini. Tim detikcom menyambangi Sota pada Rabu (10/6) sore. Personel Koramil 1707-16 /Sota, yakni Serka Yunus Kiaf (51) memandu kami.

Tentara ini memandu orang yang datang berkunjung. Dia banyak menerangkan soal Sota. Mulai dari bomi musamus (rumah semut Merauke) hingga soal tapal batas dia bisa jelaskan.

Usai berjalan sampai tepian Indonesia, kami menemui sejumlah orang datang berjalan dari arah Papua Nugini. Ada pria dewasa dan dua perempuan beserta tiga anak kecil. Dua anak diantaranya digendong. Perawakan pria dan wanita yang melintas di sini rata-rata cukup semampai. Namun yang khas, dan ini tak hanya terdapat pada satu orang saja, mereka murah senyum.

“How are you?” sapa Serka Yunus Kiaf ditambahi kata-kata yang saya sendiri tak paham bagaimana menirukannya. Agaknya kata-kata tambahan itu adalah bahasa setempat. Perempuan dewasa yang menggendong balita menjawab santai, “Fine.”

“To home,” kata pria yang menggendong anak kecil di pundaknya, menjawab pertanyaan saya. Mereka ini adalah keluarga dari Papua Nugini yang berkunjung ke Indonesia. Mereka bisa berbicara Bahasa Inggris.

“Mereka kalau Inggris Amerika tidak nyambung, Inggris pijin boleh,” kata Serka Yunus kepada saya.

‘Pijin’ atau ‘pidjin’ adalah istilah sosio-linguistik yang merujuk pada bahasa kontak antar-masyarakat berbeda bahasa. Bentuknya sederhana saja. Jadi kalau Bahasa Inggris pijin, ya Bahasa Inggris sederhana sekadar untuk berkomunikasi praktis.

Pemandangan dari Sota, di seberang situ sudah Papua Nugini | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Orang-orang di Sota dan di Papua Nugini bersaudara. Mereka satu suku besar Malind Anim, spesifiknya yakni Suku Kanum. Kampung Kali Torasi di Indonesia dan Kampung Weriaber di Papua Nugini adalah tempat hidup Suku Kanum, termasuk para pelintas batas sekeluarga yang kami sapa itu tadi.

Tak lama berselang, ada keluarga lain lagi yang melintas, terdiri dari pria dan perempuan dewasa beserta sejumlah anak-anak. Mereka adalah keluarga Kotai Daraba (42) dari Weriaber, Papua Nugini.

Sambil menggendong anaknya, Kotai menjelaskan bahwa dia sekeluarga sudah berjalan sejauh 15 kilometer sejak pagi tadi. Di jalan kawasan Papua Nugini, mereka bertemu saham (kanguru Papua), kasuari, dan rusa. Perjalanan ini mereka lakukan demi melayat sanak famili di Indonesia.

“Kami ke sini karena kakak saya meninggal di Merauke. Anaknya meninggal di Sota,” kata Kotai, lancar berbahasa Indonesia.

Kotai Daraba dan Keluarganya, dari Papua Nugini ke Indonesia via Sota | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Sanak famili yang meninggal itu adalah ibu dan anak. Ibu sudah meninggal pada Maret lalu di sebuah Puskesmas di Kota Merauke. Pria yang hidup dari beretani dan berkebun ini berencana beberapa hari tinggal di Indonesia.

“Di sini satu minggu, bali lagi,” kata Kotai.

Dari belakang, terdengar suara mesin meraung cempreng. Tak salah lagi, ini pasti suara motor pria dekade ’90-an bermesin dua tak. Ternyata benar, motor itu mendekat.

Di atas motor, ada Samuel Huby (31) dan Absalom (33). Mereka bukan orang Papua Nugini, melainkan orang Sota Indonesia. Hanya saja, mereka kerja sebagai tukang ojek.

Ojek bukan sembarang ojek, tapi ojek antarnegara. Mereka biasa lalu-lalang Indonesia-Papua Nugini atau sebaliknya. Samuel menjelaskannya dengan ramah.

“Ini dari Wariaber, sekitar delapan km. Perjalanan hampir satu jam karena jalanannya tanah. Kampung saya di Sota, tapi saya kerja ojek,” kata Samuel.

Samuel Huby dan Absalom, tukang ojek Sota transnegara | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Baik orang atau barang mereka bisa angkut. Sering mereka mengangkut sembako, gula, kopi, hingga rokok. Biaya untuk angkutan transnegara yang ringan berkisar dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Namun bila bobot barang yang dibawa berat, ongkos bisa mencapai Rp 200 ribu. Sehari bisa tiga kali pulang balik dan mengantongi rata-rata Rp 300 ribu per hari. Namun penghasilan dari pekerjaan seperti ini tak pasti pendapatannya.

Usut punya usut setelah mengamati, tak ada cakram rem atau tuas yang menempel di bagian bawah sepeda motor. Benar, motor ini tak punya rem. Namun mereka berani-berani saja. Absalom mengenakan sepatu boots karet.

“Ini remnya pakai kaki,” ujarnya.

Yunus kemudian menyahut dengan jenaka, menjelaskan bahwa dua pemuda ojek ini bukannya sengaja mencopot rem, melainkan hanya terlalu malas saja memperbaiki motornya.

Samuel mengatakan motor dua tak seperti ini cocok untuk medan jalanan yang tak sempurna. Dia tidak menggunakan motor jenis lain karena bisa berasap bila dipakai di kondisi jalanan yang buruk seperti di pelosok ini.

“Motor begini memang lebih cocok,” kata dia. Memang saat melihat jalanan Merauke, motor model begini sering terlihat.

Tete (Kakek) Daud Dimar dan Anggreknya | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Terakhir, ada Tete (Kakek) Daud Dimar. Pria sepuh ini mengenakan topi bertuliskan ‘Lintas Batas, RI-PNG’. Bibirnya merah karena sirih. Tangan kiri memegang golog, tangan kanan menyunggi kulit kayu berisikan anggrek yang dicarinya di hutan. Anggrek nenas dan anggrek bawang sebutan tumbuhan itu.

“Ini saya bawa anggrek, ambil pohon, panjat. Ngambil tak sampai satu jam,” kata Daud.

Anggrek itu bakal dia rangkai menjadi sejumlah bagian lebih kecil. Satu kepala anggrek nantinya dihargai Rp 50 ribu. Selain mencari anggrek, dia juga bisa berburu babi. Keahliannya adalah berburu babi tanpa tombak dan panah, melainkan dengan tangan kosong.

“Daripada berburu sulit, ini saja (cari anggrek) yang gampang,” tuturnya.

Soal kehidupan berburu dan meramu, memang begitulah cara hidup yang dijalankan warga di sini. Namun karena satwa buruan sudah berkurang, banyak warga yang mencari sampai teritori Papua Nugini. Serka Yunus mengingat, dulu banyak satwa bisa ditemui, mulai dari burung pombo hingga rusa.

“2006 saya masih sempat lihat rusa, 2009 masih lihat. 2010 No way. Burung Pombo sekarang sudah tidak ada. Dulu suka bunyi burung-burung,” kenang Yunus yang asli Merauke ini.

Tapal Batas Indonesia-Papua Nugini di Sota, Merauke | Foto: Danu Damarjati/detikcom

Soal masalah perbatasan di Sota, Yunus menyatakan tak masalah serius sejak 11 tahun lalu. Tak ada perlintasan narkoba di sini. “Tak ada pelanggaran di sini. Sifat kekeluargaan ini sangat luar biasa,” tutur Yunus.

Yang pernah jadi masalah adalah warga negara Indonesia ditahan dan dimintai keterangan oleh aparat Papua Nugini. Soalnya warga Indonesia mencari hewan buruan masuk Papua Nugini dan saat yang sama, satwa di teritori Indonesia sudah sulit didapat. Maka lebih baik berburu di kawasan Papua Nugini saja. Masalah seperti ini terjadi beberapa kali.

“Kalau perlintasan narkoba, sampai sekarang tidak ada,” kata Yunus. (dnu/tor)

Sumber: Detik

Advertisement