Puluhan Tahun Pasutri Lansia Ini Menjadi Pemulung di Merauke

Puluhan Tahun Pasutri Lansia Ini Menjadi Pemulung di Merauke

Pasutri Yunus Harianto-Sawati yang Menjalani Profesi Sebagai Pemulung di Kabupaten Merauke, Papua.

Metro Merauke – Sudah puluhan tahun pasangan suami-istri (pasutri), Yunus Harianto-Sawati berprofesi sebagai pemulung di Kabupaten Merauke, Papua.

Meski kini sudah lanjut usia (lansia), namun pekerjaan sebagai pemulung sambil mendorong gerobak dan keliling di tempat-tempat penumpukan sampah mencari kaleng bekas maupun botol air mineral, menjadi rutinitas keseharian mereka.

Saat ditemui Metro Merauke, Senin (5/6), Yunus yang didampingi isterinya menuturkan, pekerjaan sebagai pemulung sudah ditekuni sejak 1993.

“Kami ikut program transmigrasi dan ditempatkan di Bupul,Distrik Elikobel, Kabupaten Boven Digoel,” katanya.

Namun, dua tahun di lokasi transmigrasi, pasutri ini memilih hengkang dan tinggal di Kota Merauke. Dari sinilah awal ia dan isterinya menekuni profesi pemulung hingga kini.

Hasil keringat bersama isterinya setiap hari hanya mencukupi untuk membeli beras. Dalam sehari, hanya mendapat rupiah dari menjual botol air mineral dengan kisaran Rp25 hingga Rp30 ribu.

“Untuk kaleng, satu kilogram kami dapat uang Rp8.000. Sedangkan botol air mineral Rp500. Meski pendapatan sangat minim, namun kami tetap mensyukurinya,” ujarnya.

Meskipun telah lansia, namun pasutri itu tetap bekerja keras setiap hari dengan mendorong gerobak berkeliling kota. Mereka memiliki anak angkat yang dirawatnya sejak kecil, namun telah kembali ke pulau Jawa.

“Ya, mau bagaimana lagi, kami harus kerja tiap hari. Berjalan keliling kota agar bisa mendapatkan uang untuk membeli beras,” katanya. (LKF/Arjuna)

Advertisement