Radiasi hingga Kloning, Ini 9 Mitos Sains ala Hollywood

Radiasi hingga Kloning, Ini 9 Mitos Sains ala Hollywood

Ilustrasi film fiksi ilmiah | Foto: Pixabay/Artturi_Mantysaari untuk ranah publik via Creative Commons

Metro Merauke – Film seru buatan Hollywood biasa berisi aksi-aksi mengagumkan dan hal-hal berbau ilmiah sehingga memukau penonton. Tak jarang, mereka menikmatinya berulang-ulang kali.

Tapi, tidak semua aksi menarik dan ilmu pengetahuan yang seru buatan para pembuat film itu terjadi seperti dalam kenyataan. Bisa jadi, hanya sekedar menjadi bumbu cerita yang kerap dilebih-lebihkan.

Seperti dikutip pada Rabu (31/5) dari grunge.com, berikut ini adalah sejumlah bumbu cerita berbau ilmiah dalam film, tapi jelas menyimpang dari dunia nyata:

Ledakan Tubuh Musuh

Ilustrasi shotgun yang dipakai oleh militer Amerika Serikat | Foto: Wikipedia/U.S. Department of Defense/Eric A. Clement

Puas rasanya melihat seorang penjahat dalam film terlihat tercabik-cabik di balik pintu atau jendela akibat tembakan sepucuk shotgun. Tapi, bukan demikian halnya dalam dunia nyata.

Hukum mekanika ke-3 Newton menyatakan bahwa untuk setiap aksi akan ada reaksi yang setara dan berlawanan arah.

Jadi, jika si penjahat itu terjerembab ke belakang akibat tembakan, maka hentakan balik senjata itu akan juga mendorong si orang baik dalam jarak yang sama tapi dengan arah yang berlawanan.

Pendar Radioaktif

Bahan nuklir Plutonium 238 yang berpendar | Foto: US Department of Energy untuk ranah publik

Kalau kita berjalan melintasi reaktor nuklir yang sudah rusak, kita mengira bahwa diri kita akan berpendar sesudah kejadian itu. Bukan begitu.

Ternyata zat radioaktif akan berpendar kalau zat itu bersentuhan dengan fosfor. Jadi, kalau kita terjatuh ke dalam tumpukan debu fosfor setelah kita ‘tersiram’ zat lain yang lengket dan bersifat radioaktif, maka barulah kita mungkin berpendar.

Suara Ledakan di Angkasa

Misi baru NASA mengirimkan pesawat luar angkasa ke atmosfer matahari | Foto: Doc: NASA

Setiap kali suatu wahana angkasa meledak, kita mendengar dentumannya. Kita mendengar suara meram laser ketika mengarah ke starfigher yang melintas.

Atau kita juga mendengar suara menderu ketika mesin raksasa sebuah pesawat angkasa mulai menyala.

Ternyata, satu-satunya saat kita mendengar ledakan pesawat angkasa adalah kita berada di dalamnya dan itu pun hanya sejenak karena langsung senyap atau setelah semua udara bocor ke luar.

Suara adalah suatu getaran di udara yang menggerakkan gendang telinga. Jadi, kalau tidak ada udara seperti di luar angkasa, maka tidak ada suara, walaupun suaranya bisa terdengar dramatis dalam film.

Penampakan Sinar Laser

Star Wars: Force Awakens | Foto: starwars.com

Kalau kita pernah menggunakan penunjuk laser atau mengganggu kucing kita dengan pena laser, maka kita mengetahui bahwa laser baru terlihat setelah mengenai sesuatu semisal dinding.

Jadi, waktu pesawat tempur angkasa menembakkan senjata kita melihat kilatannya, maka hal itu tidak benar. Atau ketika seorang jagoan menembakkan meriam laser dan mengeluarkan cahaya menyilaukan, itu juga salah.

Satu-satunya keadaan yang memungkinkan orang melihat jejas laser adalah kalau ada partikel-partikel kecil yang mengambang di lintasan laser itu menyebarkan sebagian cahaya, misalnya jika sinar laser itu melintasi bagian dalam pesawat yang penuh asap.

Cepatnya Ilmu Pengetahuan

Petugas forensik mengumpulkan bukti di lokasi penembakan di kawasan Champs Elysees, Paris, Kamis (20/4). Prancis sendiri sudah dalam status darurat sejak 2015 lalu, setelah serangkaian serangan teror oleh kalangan garis keras | Foto: AP/Thibault Camus

Dalam film, tidak peduli betapa rumitnya persoalan yang dihadapi, maka ilmuwan dalam film selalu saja mendapatkan solusi secara cepat sehingga film itu seru walaupun tidak realistis.

Dalam dunia nyata, para ilmuwan bisa memerlukan waktu bertahun-tahun hanya untuk secuil temuan yang diraih oleh ilmuwan dalam film tersebut.

Ingat temuan ilmuwan forensik polisi yang menemukan jawaban hanya dalam sehari? Dalam dunia nyata, temuan dari secuil bukti baru bisa diraih dalam beberapa minggu.

Radiasi Pemberi Kekuatan

Ilustrasi superhero dengan kekuatan radiasi | Foto: Flickr/JD Hancock

Satu hal yang jelas, radiasi bisa menyebabkan mutasi genetik. Mutasi itu mungkin diwariskan dan mungkin bisa saja memberikan manfaat kecil bagi generasi mendatang.

Tapi, masih hanya sekadar kemungkinan dan itupun terjadi beberapa generasi mendatang. Dalam jangka pendek, kemungkinan besar kita malah mendapatkan kanker akibat mutasi genetik, bukannya kekuatan.

Kloning Dinosaurus

Kerangka dinosaurus berjenis alosaurus dipajang dalam posisi tengah berlari di rumah lelang Lyon Brotteaux Aguttes, Prancis, 5 Desember 2016. Susunan tulang-belulang tersebut terjual kepada seorang pembeli yang tidak diketahui namanya | Foto: JEFF PACHOUD/AFP

Kloning telah berhasil dilakukan pada domba. Sementara itu, DNA dinosaurus seringkali baru ditemukan pada sisa-sisa dinosaurus yang terawetkan secara baik.

Tapi temuan DNA itu tidak pernah dalam kondisi yang layak untuk kloning. DNA meluruh seiring berjalannya waktu walaupun mungkin meluruhnya dalam jutaan tahun.

Percuma melakukan kloning lama sesudah DNA itu meluruh. Padahal, kebanyakan dinosaurus teranyar hidup menjelajah Bumi sekitar 65 juta tahun lalu.

Langsung Pingsan oleh Kloroform

Ilustrasi temuan kloroform | Foto: Wikimedia Commons/Wellcome Images untuk ranah publik via Creative Commons

Dalam film, ada penggunaan kloroform yang berulang kali dilakukan, yaitu dengan menggunakan sehelai kain yang dibekapkan pada korban hingga kehilangan kesadaran.

Dalam kenyataannya, bukan begitu kejadiannya. Sebenarnya, kloroform memerlukan waktu beberapa menit hingga seseorang kehilangan kesadarannya. Tapi, itupun harus dengan bekapan terus-menerus.

Tentu saja korban seharusnya sempat melawan dan mungkin hal itu tidak menyenangkan dari segi cerita. Dengan demikian, kloroform digambarkan berdampak segera.

Lain halnya kalau ada orang yang sudah menciptakan obat yang memang menciptakan zat pembius lain.

Peredam Suara Tembakan

Produk baru buatan Pindad dipamerkan di Kemenhan, Kamis (9/6). Senjata baru tersebut Senapan Serbu SS3, Senapan Serbu SS2 subsonic 5,66mm, Sub Machine Gun PM3 dan Pistol G2 Premium | Foto: Liputan6.com/Angga Yuniar

Bagi mereka yang mengetahui soal senjata, maka mereka bisa menjelaskan bahwa suatu peredam suara tidak benar-benar menyingkirkan bunyi dari sebuah senjata yang ditembakkan.

Ketika senjata api ditembakkan, ada 3 sumber bunyi, yaitu suara letusan karena gas yang mengembang secara cepat ketika keluar dari selongsong, lalu suara mekanis dari sistem mekanis senjata, dan derak supersonik ketika peluru melesat di udara.

Satu-satunya yang diredam adalah letusan dari gas yang mendadak mengembang ketika keluar dari selongsong karena adanya ruang tambahan bagi gas itu untuk mengembang dan melambat sebelum meninggalkan selongsong.

Suaranya memang jauh berkurang, tapi bukan senyap sama sekali. Kegunaan utama peredam suara tembakan adalah untuk mengurangi kerusakan pendengaran si penembak, selain untuk mengurangi hentakan balik dan memperbaiki ketepatan. (Alexander Lumbantobing)

Sumber: Liputan6

Advertisement