Hindari Mendikte Siswa

Hindari Mendikte Siswa

Siswa SDN Wonorejo Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menjemur berkas yang basah karena hujan di sekolahnya | Foto: KOMPAS.com/M.Agus Fauzul Hakim

Metro Merauke – Pendidikan di sekolah saatnya meninggalkan pola mendikte siswa agar kebenaran tidak melulu bersumber dari guru. Tirani satu jawaban benar versi guru sudah tidak relevan dengan praktik pendidikan yang memerdekakan anak. Keberagaman gagasan adalah keniscayaan.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Totok Suprayitno dalam pembukaan Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan 2017, Selasa (23/5), di Jakarta.

Seminar digelar terkait Hari Pendidikan Nasional 2017 dan Hari Ulang Tahun Ke-50 ASEAN.

“Para siswa hendaknya dibiasakan menerima keberagaman dalam gagasan, ide, dan pikiran supaya mereka terbiasa dengan perbedaan pikiran, pandangan, atau pendapat. Mereka juga jadi tahu bahwa keberagaman bukan hanya soal suku, agama, ras, dan antargolongan,” kata Totok.

Salah satunya, ujar Totok, dengan mereformasi penilaian terhadap siswa. Meski ujian nasional masih memberikan tes dengan model pilihan berganda, guru dan sekolah diminta menghidupkan lagi pembelajaran dan penilaian yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk berbeda pendapat dengan alasan logis.

Berpikir kritis
Di salah satu sesi dibahas bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai peradaban masa lalu sebagai identitas bangsa dalam menghadapi tantangan global.

Salah seorang pembicara, peneliti arkeologi yang juga Kepala French School for Asian Studies (EFEO) Veronique Degroot mengatakan, pendidikan sejarah di sekolah bukan hanya diajarkan sebagai pengetahuan.

Pendidikan sejarah juga harus dapat diarahkan untuk digunakan dalam kehidupan masa kini dengan pemikiran yang kritis.

“Sejarah memperlihatkan Indonesia terbuka dengan pertukaran budaya yang menakjubkan sejak dulu. Indonesia sudah menjalani globalisasi di masa lalu sebelum orang bicara globalisasi. Jadi, sejarah harus diajarkan secara kritis agar digunakan untuk membangun masyarakat dan negara yang semakin maju. Ajarkan siswa untuk terbiasa menguji teks sejarah, sejauh mana dapat dipercaya,” ujar Veronique.

Sementara itu, Ahli Peneliti Utama Pusat Arkeologi Nasional Bagyo Prasetyo mengatakan, sejarah mengandung nilai-nilai kearifan bangsa yang dapat memperkuat kebangsaan Indonesia di masa kini.

“Negeri kita sudah jadi tujuan migrasi dari negara lain sejak dulu. Jadi, kita sudah biasa bercampur menjadi negara multikultural. Jangan ragukan keberagaman yang kita miliki karena itu sudah terjadi sejak zaman purbakala. Justru di masa kini kita harus terus perkuat dengan hidup dalam keberagaman melalui toleransi,” kata Bagyo.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Awaluddin Tjalla menjelaskan, reformasi dalam pembelajaran dilakukan dengan mengimplementasikan Kurikulum 2013. Semua sekolah pada tahun ajaran 2018/2019 menerapkan kurikulum ini.

“Pembelajaran yang disampaikan kepada siswa harus bermakna berhubungan dengan kecakapan abad ke-21, model pembelajaran yang mendukung, serta buku teks berkualitas,” ujar Awaluddin. (ELN)

Sumber: Kompas

Advertisement