Keuskupan Merauke akan Tangani Anak Aibon

Keuskupan Merauke akan Tangani Anak Aibon

Ketua Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Papua Anna Mahuze

Metro Merauke – Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Papua, akan menangani anak-anak aibon atau anak jalanan di wilayah itu.

Langkah ini diambil lantaran Keuskupan Merauke menilai, dalam penanganan anak aibon, instansi terkait berjalan sendiri-sendiri, belum padu.

Pada peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia, 31 Mei mendatang, akan dilakukan diskusi sehari terkait penanganan anak aibon di Kabupaten Merauke.

Ketua Komisi kesehatan Keuskupan Agung Merauke, Anna Mahuze mengatakan, jika tidak ditangani sejak kini, anak-anak ini akan bertumbuh menjadi generasi perusak bangsa.

“Kami melihat betapa pentingnya anak-anak ini harus diatasi sesegera mungkin. Tidak bisa hanya dilihat sebagian orang, namun semua lintas sektor perlu bekerja sama,” katanya, Kamis (18/5).

Hasil penelusuran Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Merauke, sebagian anak aibon, memilih hidup di jalanan karena lahir dari hubungan diluar nikah, ditinggal ayah atau ibunya.

Ada juga diantara mereka yang hidup di jalanan lantaran masalah keluarga. Kedua orang tua mereka mencari nafkah, bahkan mempunyai pasangan baru.

“Sekitar 20 keluarga atau orang tua anak didatangi, mencari tahu apa sebabnya, sehingga anak tidak diperhatikan keluarga,” ujarnya.

Katanya, anak-anak ini bertumbuh dan berjuang sendiri mempertahankan hidup. Ada diantara mereka yang minta-minta untuk kebutuhan di rumah, karena ayahnya tidak menafkahi keluarga.

“Sebagian lagi dari keluarga baik-baik, tetapi karena rendahnya SDM orang tua dan tidak dibekali keterampilan, sehingga tidak mampu menafkahi anaknya,” katanya.

Data Komisi Kesehatan Keuskupan menyebut, kebanyakan orang tua dan anak, ada yang tidak tamat SD, bahkan ada yang tidak bersekolah sama sekali. Faktor SDM inilah yang membuat orang tua tidak tahu cara mencari nafkah keluarga.

“Anak dimanfaatkan untuk mencari uang di jalanan. Meminta-minta di pintu masuk toko dan kios di Merauke,” imbuhnya.

Di jalanan, anak-anak itu juga mendapat tekanan dari sesama rekannya yang usianya lebih tua, disaat mendapatkan uang lebih, harus diberikan juga kepada mereka.

Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Merauke, Moses Kaibu, mengatakan, menyikapi masalah anak aibon di Merauke, legislatif setempat sedang mendorong peraturan daerah tentang anak jalanan, yang kini sedang dirancang. (Getrudis/Arjuna)

Advertisement