Mensos Ingatkan Keberagaman Bukan Alasan Pemecah Belah Bangsa

Mensos Ingatkan Keberagaman Bukan Alasan Pemecah Belah Bangsa

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa | Foto: KOMPAS.com/ACHMAD FAIZAL

Metro Merauke – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, perlu adanya keikhlasan semua pihak dalam menghadapi persoalan bangsa dan perbedaan pendapat yang belakangan mengemuka.

Dengan demikian, terbentuk toleransi antar warga Indonesia agar tidak terjadi perpecahan. Ia mengingatkan bahwa keberagaman itu bukanlah alasan pemecah persatuan bangsa.

“Perjalanan sejarah bangsa mencatat bahwa bangsa ini berdiri di atas keberagaman, dan kita dapat hidup berdampingan secara damai,” kata Khofifah melalui siaran pers, Minggu kemarin.

Khofifah mengatakan, Indonesia menjadi bangsa yang besar justru karena kebinekaannya. Sampai saat ini, kata dia, perbedaan itu menjadi bagian dari kekayaan kearifan bangsa.

Suku, agama, warna kulit, tradisi, bahasa dan perbedaan pendapat satu kelompok dengan yang lain dapat berjalan secara harmoni. Ia menyebut adanya perbedaan pandangan menjelang Ramadan mengenai salat tarawih.

Di satu masjid salat tarawih 8 rakaat, di masjid lainnya 20 rakaat. Perbedaan semacam ini, kata dia, hendaknya disikapi dengan bijak dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Contoh lainnya yakni pengucapan salam di setiap daerah yang berbeda-beda. Misalnya, warga Jawa Barat menyapa dengan “sampurasun”, kemudian dijawab “rampes”.

Di Nias, mereka menyapa dengan mengucap “ya ahowu”. Di Batak, sapaan khas mereka adalah “horas”. Di Pegunungan tengah Papua, sebagian besar mereka bersalam dengan berucap “wah wah wah wah wah”, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kata Khofifah, jika ada perbedaan paham atau pendapat, maka hendaknya semua pihak dapat menahan diri dan tidak mudah terprovokasi yang nantinya akan merugikan bangsa.

Khofifah mengakui banyak tantangan dan ancaman yang menginginkan Indonesia terpecah-belah. Tantangan ini tidak hanya dihadapi Indonesia, namun juga negara-negara lain, seperti Afrika, Timur Tengah, Pakistan, dan Afganistan.

“Tentu kita harus menjaga jangan sampai terjadi konflik yang berdampak pada perpecahan,” kata Khofifah.

Khofifah mengimbau warga Indonesia untuk memperkuat persaudaraan kebangsaan serta persaudaraan sesama warga bangsa.

“Jangan mudah terprovokasi lantas mudah marah dan tersinggung. Jangan sampai khusnudzon (prasangka baik) tergeser menjadi suudzon (prasangka buruk),” kata dia.

Khofifah juga mengajak semua pihak untuk menyatukan langkah membangun negeri dan menjaga NKRI.

Bagi umat Islam, kata dia, perbanyak shalawat kepada nabi agar hati tentram dan mampu berpikir jernih menghadapi setiap perbedaan dan persoalan.

Jika bangsa ini aman dan damai, masyarakat dapat tenang beribadah, nyaman beraktivitas, dan bisa bekerja dengan baik.

“Bangsa ini tidak bisa disebut Indonesia jika tidak ada NTT, Bali, Papua, Jawa Timur dan sebagainya. Itulah persaudaraan yang kita bangun. Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini, yang telah memberikan banyak hal kepada kita,” kata Khofifah. (Ambaranie Nadia Kemala Movanita)

Sumber: Kompas

Advertisement