Headphone Seharga Mobil Laku Dibeli Orang Indonesia

Headphone Seharga Mobil Laku Dibeli Orang Indonesia

Sennheiser HE 1 | Foto: Fatimah Kartini Bohang

Metro Merauke – Sennheiser baru saja menjual sistem headphone super mewah HE 1 di Indonesia pada awal bulan lalu. Harganya sendiri dijamin bisa membuat geleng-geleng kepala, yakni Rp 792 juta.

Pertanyaan besarnya, apakah ada yang mau membeli headphone seharga mobil, bahkan rumah, terutama di Indonesia? Ternyata ada.

Menurut informasi dari Martin Low, Managing Director Sennheiser Asia, setidaknya sudah ada satu orang di Indonesia yang memesan produk itu. Sayangnya, Sennheiser tidak mau membeberkan identitas pembeli tersebut.

“Di Asia Tenggara, Sennheiser HE 1 sudah terjual lima unit. Di Indonesia sendiri, sudah terjual satu dan beberapa orang lagi yang mengaku tertarik,” tutur Low kepada KompasTekno dalam sebuah sesi jajal eksklusif Sennheiser HE 1 di Jakarta, Rabu (3/5).

Merasakan sensasi menjajal headphone Sennheiser HE 1, Kamis (30/6/2016) lalu di Marina Bay Sands, Singapura | Foto: Maverick

Berminat untuk mendapatkan produk Sennheiser HE 1 ini? Jika iya, Anda harus bersabar. Pasalnya, waktu tunggu untuk mendapatkan produk dengan harga selangit itu bisa mencapai tiga bulan. Produksi perangkat tersebut sangat lama karena semua perangkat dirakit menggunakan tangan manusia alias handmade. “Sennheiser hanya bisa memproduksi satu unit HE 1 per hari. Dalam satu tahun, kami hanya bisa produksi 250 unit,” kata Low.

Generasi kedua
HE 1 sendiri merupakan generasi kedua dari headphone ikonik Orpheus HE 90 keluaran 1991. Ciri khas Orpheus HE 90 masih dipertahankan, yakni hadir sepaket dengan amplifier.

Bedanya, Sennheiser kini menggabungkan keunggulan amplifier tabung dan amplifier transistor dalam satu desain sirkuit yang telah dipatenkan.

Inovasi itu menghasilkan respons frekuensi antara 8 Hz hingga 100 kHz. Kisaran tersebut melampaui kemampuan pendengaran manusia yang rentangnya hanya 20 Hz sampai 20 kHz. Hasilnya, pengguna bisa mendengar komponen suara yang lebih kaya dan detil.

“Hanya gajah yang bisa mendengar suara di rentang 8 Hz. Sementara itu, hanya kelelawar yang bisa mendengar suara di frekuensi 100 kHz. Butuh gabungan antara gajah dan kelelawar untuk bisa mendengar semua rentang suara melalui HE 1,” canda Low.

Selain itu, tiap-tiap tabung bertugas menurunkan distorsi hingga ke titik terendah dalam sistem reproduksi audio, yakni mencapai 0,01 persen di 1 kHz dengan tekanan suara 100 dB.

Spesifikasi itu diklaim mampu menghasilkan audio super jernih dan hangat, dengan kualitas serupa mendengar suara asli atau kerap disebut high fidelity.

Meski begitu, amplifier tabung memiliki kekurangan yakni rentan terhadap kebisingan udara dan sensitif pada getaran. Sennheiser pun menanggulanginya dengan mendudukkan tabung pada landasan berbahan marmer Carrara.

Jenis batu alam itu mampu meredam kebisingan yang merambat pada tubuhnya. Sebelumnya, Carrara dikenal sebagai material utama pada patung-patung buatan pemahat sohor Michaelangelo.

Secara keseluruhan, ada 6.000 komponen pada HE 1 yang disusun untuk menghasilkan pengalaman mendengar audio yang mumpuni.

Pada komponen dalam, Sennheiser mematrikan elektroda keramik berbalut emas dan diafragma berlapis platinum. Material itu dianggap pas untuk menjamin kinerja bunyi akustik. (Deliusno)

Sumber: Kompas Tekno

Advertisement