PPMB-BBI Hasilkan Langkah Strategis untuk Pendidikan di Papua

PPMB-BBI Hasilkan Langkah Strategis untuk Pendidikan di Papua

Lokakarya Akhir Pendidikan Multi Bahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMB-BBI-ACDP-023A), Kamis, 20 April 2017

Metro Merauke – Program percontohan implementasi penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar dalam kelas yakni Pendidikan Multi-Bahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMB-BBI), kepada siswa-siswi PAUD dan kelas awal sekolah dasar (Kelas 1 hingga kelas III), di sejumlah sekolah pilihan di Papua merupakan langkah strategis meningkatkan kualitas pendidikan di Bumi Cenderawasih.

Kepala Dinas Pendidikan Papua, Elias Wonda mengatakan, inovasi dimulai dengan perubahan renstra pendidikan Papua, November 2015. Proyek percontohan dipusatkan di Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, sejak Juni 2016, berbasis survei dasar dan penilaian sampel perbandingan di wilayah Balingga.

Menurutnya, survei penilaian membaca di kelas-kelas awal yang dilakukan di Lanny Jaya mengungkap, literasi siswa Papua berkisar 25 persen. Dibawah rata-rata nasional Indonesia.

“Di Lanny Jaya, bahasa Lani adalah bahasa pertama dan utama. Bahasa ini digunakan hampir semua anak. Dari 184 siswa kelas II dan kelas III, 75 persen menganggap bahasa Indonesia sulit, 88 persen mengakui bahasa Lani mudah,” kata Elias Wonda, Kamis (20/4).

Katanya, bukti di berbagai negara menunjukan, anak-anak yang diperkenankan menggunakan bahasa ibu dalam belajar, mampu mengembangkan kemampuan bahasa yang lebih baik dalam bahasa ibu maupun bahasa nasional.

Sementara Dr. Joost Pikker, perwakilan Summer Institute of Linguistic (SIL) Internasional Indonesia yang juga Ketua Tim Studi ACDP 023-A mengatakan, PMB-BBI dapat membantu meningkatkan partisipasi siswa.

Selain itu, menekan angka putus sekolah, meningkatkan pembelajaran seluruh mata pelajaran dan kurikulum, meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis, sehingga mendorong efisiensi pendidikan, disamping mencegah punahnya keanekaragaman bahasa dan budaya di Papua.

“Bahasa Indonesia kemudian diperkenalkan secara bertahap kepada para murid diatas kelas III. Kemudian diposisikan sebagai bahasa resmi pengantar di sekolah,” kata Joost dalam Lokakarya Akhir Pendidikan Multi Bahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMB-BBI-ACDP-023A) di salah satu hotel di Kota Jayapura, Kamis (20/4).

Menurutnya, proyek percontohan PMB-BBI menghasilkan sejumlah keluaran penting diantaranya, tool kit atau manual PMB-BBI, dari kebijakan pemerintah keimplementasi–manual pelaksanaan. Menjelaskan langkah-langkah yang diperlukan untuk implementasi program PMB-BBI dikalangan sekelompok penutur bahasa tertentu.

Lead Advisor for Education Reserad and Knowledge Managemen, Dr David Harding mewakili Kemitraan pengembangan kapasitas dan analisis sektor pendidikan ACDP, yang mendukung inisiatif ini sejak awal menambahkan, secara khusus tim juga menyusun buku seri pendidikan multi bahasa berbasis bahasa Lani. Ditujukan bagi guru, murid dan untuk keperluan tes pembelajaran murid. (Arj)

Advertisement