Kapan Waktu yang Tepat untuk “Resign”?

Kapan Waktu yang Tepat untuk “Resign”?

Ilustrasi mengundurkan diri | Shutterstock

Oleh: Dedy Dahlan

Kata resign terbukti sebagai salah satu kata populer di kalangan pekerja. Saking populernya, saat dahulu saya memuat artikel “Bagaimana menemukan Passion tanpa resign” di situs saya, situs saya sampai crash karena banyaknya pembaca yang datang berombongan pada saat yang sama. Ada kemiripan antara orang resign dan putus cinta. Sama- sama melepaskan yang lama, menyambut yang baru, dengan diselingi ‘galau’ di tengah- tengahnya. Mungkin bedanya, kalau orang resign alasannya ingin mencari yang lebih baik, kalau putus cinta alasannya karena, ehm… “kamu terlalu baik”.

Tapi seriusnya nih. Walaupun saya pernah memberi tips tentang cara menemukan passion tanpa harus resign, dan saya merasa bahwa langkah untuk resign harus dipertimbangkan matang- matang, ternyata ada kalanya, resign perlu dilakukan, bahkan menjadi solusi hidup yang tepat.

Ada kalanya, Anda harus mempertimbangkan serius, “Apa ini saat yang tepat untuk resign?”

Kali ini, saya ingin membagi sedikit tanda- tanda yang menunjukkan, bahwa ini mungkin saat yang tepat untuk Anda berdiri dari kursi Anda, masuk kantor bos Anda, dan menempelkan surat resign di mejanya.

Alasan untuk resign
Tidak ada alasan yang ‘tepat’ dan ‘baik’ untuk resign, yang sama untuk semua orang. Setiap orang berbeda- beda, dengan nilai hidup dan prioritas yang berbeda- beda pula.

Jadi pertama- tama, yang harus kita sadari saat mempertimbangkan untuk resign, adalah kita perlu menggunakan standar nilai- nilai kita sendiri, bukan berdasarkan nilai- nilai ‘umum’ orang lain, nilai tetangga, nilai sepupu, apalagi nilai- nilai komentator di TV itu. Beberapa orang bisa resign karena masalah uang. Beberapa orang, tidak mempermasalahkan uang, namun resign karena masalah harga diri. Beberapa orang lain, resign dari pekerjaan dengan uang besar, karena kurangnya kebebasan. Banyak alasan untuk resign, sebanyak jumlah anjing Dalmatian di film 101 Dalmatian.

Beberapa alasan paling umum untuk seseorang resign dari pekerjaannya, antara lain:
1. Hubungan yang kurang baik dengan boss dan rekan kerja.

2. Uang atau gaji yang dianggap kurang.

3. Jenjang karir yang kurang jelas.

4. Kurang tantangan, atau terlalu banyak tantangan.

5. Tidak suka dengan yang dikerjakan, dan tidak sesuai skill atau minat.

6. Tidak mendapatkan makna atau value dari yang dikerjakan atau perusahaan.

Jadi, apa nilai dan alasan Anda?
Sebelum memutuskan untuk resign, dari pekerjaan Anda, pastikan Anda memahami alasan jelas Anda sendiri. Mungkin karena adanya nilai yang tidak sesuai dengan nilai hidup atau mimpi Anda. Dan bukan sekedar karena resign lagi trend, atau karena kecengan sekantor Anda mengajak Anda resign, dan Anda ikut begitu saja.

Ingat, setelah resign, Anda masih harus menyesuaikan diri terhadap hidup baru Anda, yang, seperti putus cinta juga, bikin galau di bulan- bulan pertama, khawatir bahwa pekerjaan ini , mungkin tidak lebih baik dari pekerjaan sebelumnya.

Saat yang tepat untuk resign
Lebih dari sekedar karena ‘bosan’, bosnya ‘nyebelin’, Annie si seksi udah resign sehingga saya pengen ikut resign juga, ingin bisnis tapi belum tahu apa, ribut sama satpam, atau diajak tetangga, ada beberapa hal yang menurut saya, merupakan tanda- tanda yang lebih PASTI, yang menunjukkan bahwa saatnya telah tiba untuk Anda dengan serius mempertimbangkan diri untuk resign.

Tanda- tanda ini adalah sinyal, bahwa saat resign, mungkin telah tiba.

Tanda Satu – Pekerjaan Membuat Anda Menderita Mental Secara Konstan
Ketika pekerjaan Anda mulai membuat Anda menderita secara mental, dan dalam frekuensi yang konstan dan terus menerus, ini adalah tanda bahwa Anda perlu mencari pekerjaan lain. Tentu namanya pekerjaan, tekanan dan stressor akan selalu ada. Ini tidak perlu ditakuti.

Tapi saat tekanan ini membuat jiwa Anda terganggu secara rutin, misalnya, Anda terus menerus merasa depresi, Anda terus menerus merasa stress dan tertekan, dan menemukan diri Anda menangis atau meledak emosinya berkali- kali dalam seminggu atau sebulan, dan menjadi sulit mengatur emosi Anda dalam berbagai kondisi, Anda harus berhati- hati. Pekerjaan ada banyak, nyawa Anda cuma satu. Pekerjaan bisa dicari, kewarasan jiwa harus Anda yang jaga.

Tanda Dua – Pekerjaan Membuat Anda Sakit- Sakitan Secara Konstan
Dari kesehatan mental, ke kesehatan fisik. Buat apa Anda bekerja? Agar bisa membeli makan, menaungi atap di atas kepala Anda, dan menjaga kualitas hidup Anda menjadi lebih baik. Jadi saat pekerjaan Anda membuat Anda terus menerus sakit, Anda perlu mulai mewaspadainya, karena pekerjaan Anda mulai ‘gagal’ memberikan apa yang Anda butuhkan untuk menjaga kualitas hidup Anda.

Sakit karena terlalu banyak lembur, sakit gastritis akut karena pekerjaan Anda membuat Anda stress dan tidak ada waktu untuk makan, jantung dan Kolesterol karena pola kerja yang tidak memberikan waktu untuk pola hidup sehat dan olahraga, dan sebagainya. Kesehatan adalah nomor satu. Tanpanya, uang dari pekerjaan Anda hanya akan plas plos dengan biaya merawatnya. Saat ini terjadi terus menerus, mulai pertimbangkanlah status pekerjaan Anda.

Tanda Tiga – Saat Masalah Kantor Menyebabkan Keributan Konstan di Rumah
Tinggalkan masalah di kantor, dan jangan lampiaskan pada keluarga Anda di rumah. Ini adalah aturan dasar terbaik untuk menjaga keseimbangan hidup antara pekerjaan dan kehidupan Anda di luar kantor. Kantor sudah mendominasi sepertiga (bahkan lebih) dari jumlah waktu Anda dalam sehari, jadi jangan biarkan masalah- masalahnya merebut waktu sisanya juga, yang seharusnya untuk keluarga!

Jadi ketika waktu rumah Anda mulai direbut oleh waktu kantor secara konstan, dan Anda menemukan diri Anda sering ribut dengan pasangan, marah ke anak karena masalah pekerjaan, atau semakin lama semakin berkurang dalam porsi dan kualitas waktu bersama keluarga, Anda punya pertanyaan penting yang harus dijawab.

“Apa saya akan terus membiarkan ini terjadi pada keluarga saya?”

Dan mungkin pertimbangkan baik- baik, apakah kantor ini masih ideal untuk Anda.

Tanda Empat – Saat Opportunity Cost Terus Bertambah Mahal
Opportunity cost, (nilai yang kita lewatkan atau peluang alternatif yang terpaksa kita abaikan karena aktivitas yang kita lakukan. Dalam hal ini, kantor kita) adalah ‘biaya’ mempertahankan aktivitas kita saat ini. Jadi saat kita menemukan bahwa peluang- peluang besar yang potensial, lebih memiliki masa depan atau jenjang jelas, dan mungkin lebih sesuai dengan impian kita terus menerus melewati kita, dan kita tidak dapat mengembangkan diri kita karena ‘nyangkut’ di pekerjaan ini, mungkin ini tanda bahwa kita perlu mempertimbangkan untuk resign, dan menyambut peluang berikutnya dan say goodbye pada si bos.

Tanda Lima – Saat Passion dan Mimpi Tidak Terpenuhi, dan Kepuasan Penting Untuk Anda
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah pembuktian diri dan pencapaian. Karena itu, bila kepuasan bekerja dan pembuktian diri ini penting untuk Anda, dan pekerjaan Anda telah Anda jalani beberapa saat tanpa memberikan Anda hal tersebut, dan khususnya bila Anda tahu persis apa mimpi dan passion Anda, dan Anda ingin membangunnya segera, maka ini mungkin saatnya untuk Anda mempertimbangkan diri untuk mempersiapkan masa resign Anda.

Dalam poin ini, saya menyarankan untuk TIDAK langsung loncat tanpa perencanaan.

Passion dan mimpi adalah masalah hati, tapi dibangun dengan logika. Buatlah batas waktu, buatlah rencana, buatlah percobaan- percobaan, dan siapkan diri Anda dalam passion Anda, dan meloncatlah saat saatnya tiba.

Demikianlah beberapa tanda yang menunjukkan bahwa saatnya telah tiba untuk Anda mempertimbangkan untuk resign dari pekerjaan Anda.

Kapan saat terbaik dan tepat untuk resign dari pekerjaan Anda? Hanya Anda yang dapat merasakan dan memutuskannya! (Penulis adalah Passion coach yang juga penulis best seller dari buku Lakukan Dengan Hati, Ini Cara Gue, dan Passion!–Ubah Hobi Jadi Duit. Gaya penulisan dan gaya panggungnya jenaka, nyeleneh, blakblakan, kreatif, dengan materi praktikal. Biasa dipanggil Coach D, ia adalah anggota dan coach tersertifikasi dari ICF (International Coach Federation), yang memusatkan diri pada pengembangan passion dan profesi)

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement