Spesies anjing purba ditemukan hidup di dataran tinggi Papua

Spesies anjing purba ditemukan hidup di dataran tinggi Papua

Salah satu jenis anjing paling purba di dunia, ditemukan di dataran tinggi Papua | Foto: © New Guinea Highland Wild Dog Foundation

Metro Merauke – Untuk pertama kalinya setelah lebih dari setengah abad, para peneliti berhasil menemukan spesies anjing purba yang ternyata masih berkeliaran di dataran tinggi Papua. Demikian dikabarkan situs New Guinea Highland Wild Dog Foundation (NGHWDF).

Highland Wild Dog (HWD) hidup, menurut GMA News Online (28/3), ditemukan pertama kali pada 1897 oleh Charles Walter De Vis. Spesimen anjing itu kemudian pernah ditemukan juga pada 1956 dan 1976. Setelah itu tak ada lagi yang bisa menemukan mereka sehingga HWD dianggap punah.

Namun, dua buah foto anjing tersebut sempat beredar pada 2005 dan 2012. Masalahnya, foto-foto tersebut tidak bisa dijadikan sebagai bukti ilmiah dari keberadaan hewan itu.

Oleh karena itu, NGHWDF, yayasan yang mengkhususkan diri mencari dan meneliti anjing-anjing yang hidup di dataran tinggi Papua –yang masuk wilayah Indonesia maupun Papua Nugini, memulai pencarian hewan tersebut pada 2016 di Propinsi Papua.

Tim yang dipimpin ahli zoologi James K McIntyre itu lalu bertemu dengan para peneliti dari Universitas Papua (Unipa) yang tengah melakukan pencarian serupa. Mereka kemudian bekerja sama dan mendapat bantuan tambahan dari PT Freeport Indonesia serta Southwest Pacific Research Foundation.

Pada September 2016, upaya mereka membuahkan hasil dengan ditemukannya jejak kaki anjing pada ketinggian antara 3.460-4,400 meter di atas permukaan laut, dalam kawasan Puncak Jaya, Papua. Mereka lalu memasang kamera di daerah tersebut dan berhasil memotret sedikitnya 15 anjing berbeda, baik jantan maupun betina, termasuk anjing betina bersama anaknya yang berusia antara 3-5 bulan.

Seekor anjing liar dataran tinggi Papua tampak berkeliaran bersama anaknya | Foto: © New Guinea Highland Wild Dog Foundation

Walau termasuk spesies purba, penampakan anjing-anjing tersebut tak jauh berbeda dengan yang biasa dipelihara manusia saat ini. Ekornya berbentuk seperti kail dan telinga bagian atas menyerupai segitiga yang berdiri tegak. “Penemuan dan konfirmasi keberadaan anjing liar dataran tinggi untuk pertama kalinya dalam setengah abad ini tidak hanya menarik, tetapi juga menjadi kesempatan luar biasa bagi ilmu pengetahuan,” tulis NGHWDF dalam laporannya.

“Ekspedisi 2016 bisa menemukan, mengamati, mengumpulkan dokumentasi dan sampel biologi, serta mengonfirmasi melalui tes DNA bahwa setidaknya beberapa spesimen masih hidup di dataran tinggi Papua.”

Hasil tes DNA menunjukkan bahwa HWD memang jenis anjing tertua yang ada saat ini dan, ternyata, memiliki hubungan darah dengan dingo Australia (Canis dingo) dan anjing bernyanyi Papua Nugini (Canis hallstromi). Canis hallstromi juga baru ditemukan kembali pada 2012 setelah menghilang selama 23 tahun.

Mengutip Science Alert (27/3), fosil yang ditemukan mengindikasikan bahwa HWD sudah hidup di tanah Papua sejak 6.000 tahun yang lalu. Mereka diyakini datang bersama manusia yang bermigrasi ke daerah tersebut. Namun, bukti terbaru menunjukkan mereka mungkin tidak bermigrasi bersama manusia.

NGHWDF menyatakan studi terhadap anjing-anjing dataran tinggi HWD dan anjing bernyanyi sangat penting untuk mengetahui evolusi mereka, perkembangan hubungan anjing dan manusia dalam evolusi dan migrasi, serta perkembangan ekologi pemukiman manusia yang dihasilkan dari studi evolusi anjing tersebut.

Keberadaan HWD di Papua, menurut mereka, secara tak sengaja terlindungi oleh perusaha-perusahaan tambang yang berada di sekitar itu karena mereka diwajibkan untuk menjaga ekosistem di sekitar perusahaan. NGHWDF menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan penelitian sekaligus membantu melindungi spesies anjing purba ini agar tidak punah karena peluang hidup mereka masih cukup tinggi. (Sandy Pramuji)

Sumber: beritagar.id

Advertisement