RS Waa Banti, Fasilitas Kesehatan Lengkap di Kaki Pegunungan Papua

RS Waa Banti, Fasilitas Kesehatan Lengkap di Kaki Pegunungan Papua

Dokter Toni sedang berbincang dengan pasien di RS Waa Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua | Foto: Kompas.com/Lusia Kus Anna

Metro Merauke – Walau letaknya terpencil di kaki pegunungan, namun RS Waa Banti di Distrik Tembagapura, Papua, memiliki fasilitas yang lengkap. Tenaga medis di rumah sakit ini juga tersedia, mulai dari bidan, dokter anak, sampai dokter bedah.

Berdiri sejak tahun 2002, fasilitas kesehatan RS Waa Banti (RSWB) memberi layanan gratis bagi warga sekitar yang merupakan tujuh suku asli di wilayah itu, yaitu Amungme, Kamoro, Damal, Ekari, Moni, Dani, dan Mee. Terletak sekitar 4 kilometer dari Kota Tembagapura, lokasi perumahan dan kantor PT Freeport Indonesia, RSWBB dibangun dari dana kemitraan PT Freeport Indonesia yang dikelola Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK).

Nuansa Papua sangat kental di rumah sakit ini, misalnya saja papan petunjuk nama ruangan di buat dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Suku Amungme. Demikan pula dengan ruang makan pasien yang dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, seperti budaya orang Papua. Menurut dr.Toni Kustolani, Koordinator RSWBB, rumah sakit ini memiliki 3 dokter umum, 19 perawat, dan 1 bidan. “Ada dokter spesialis yang melakukan kunjungan seminggu sekali, yakni dokter bedah, dokter anak, dan terapis fisioterapi,” katanya saat menerima kunjungan beberapa media baru-baru ini.

Rumah Sakit Waa Banti, termasuk dalam rumah sakit tipe D. Terdapat 60 tempat tidur yang tersedia dengan tingkat keterisian sekitar 20-40 persen. Tersedia juga ruang isolasi untuk pasien tuberkulosis yang dahaknya masih positif mengandung bakteri. Mereka akan dirawat di sini, bisa sampai berbulan-bulan, sampai dinyatakan sembuh dan tidak menularkan TB lagi.

Keunikan lain dari rumah sakit ini adalah memiliki fasilitas yang tak kalah dengan rumah sakit di pusat kota. Sebut saja fasilitas ruang gawat darurat yang bisa menangani hampir semua kegawatan, sampai fasilitas radiologi dan USG. Tersedia juga fasilitas untuk melakukan tindakan bedah minor. “Dokter di UGD ini bisa memberikan basic life suport. Kalau harus ada yang dirujuk ke RS di Tembagapura, bisa distabilkan dulu di sini,” kata dr.Toni. Selain itu, RSWB juga memiliki laboratorium yang lengkap. Pemeriksaan urine, darah, termasuk cek malaria atau tuberkulosis, juga bisa dilayani di sini.

Dalam seminggu, RSWB melayani sampai 500 pasien yang berasal dari tiga desa, yakni Waa Banti, Arwanop, dan Tsinga. Meski begitu, seringkali pasien berasal dari kabupaten berbeda, seperti dari distrik Ilaga atau Sugapa yang jauh dari sarana kesehatan seperti puskesmas. Untuk menjangkau RSWBB, warga yang tinggal di pegunungan, harus berjalan berjam-jam sampai Waa Banti. Menurut dr.Milka Tiandra, ahli kesehatan masyarakat di RSWB, untuk pasien yang dalam kondisi darurat, misalnya patah tulang, ibu hamil, atau kegawatan lain, akan dijemput dengan helikopter milik PT Freeport Indonesia.

“Kami bekerja sama dengan puskesmas atau kader kesehatan di kampung-kampung. Nanti mereka yang akan menilai apakah perlu dijemput helikopter atau tidak. Kalau darurat, langsung menghubungi kami dan dijemput untuk dibawa ke RSWB atau RS Tembagapura,” kata dr.Milka. Walau begitu, kondisi cuaca terkadang membuat helikopter tidak bisa terbang. “Pernah ada pasien yang berjalan kaki lebih dari 6 jam untuk melahirkan. Sampai rumah sakit sudah bukaan lengkap,” katanya.

Ruang UGD di RS Waa Banti, Distrik Tembagapura, yang lengkap | Foto: Kompas.com/Lusia Kus Anna

Ubah perilaku
Dari data RS Waa Banti, ada lima penyakit utama yang diderita pasien di distrik ini, antara lain infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), diare, malaria, tuberkulosis, penyakit otot, tulang dan persendian, serta penyakit gigi. “Diare disebabkan karena gaya hidup yang kurang bersih. Sementara itu ISPA karena budaya orang Papua tinggal di honai untuk menghangatkan diri. Mereka masak dan tidur di sana, terkadang ada 20 orang dalam satu honai. Ini memperberat ISPA dan penyakit paru lainnya,” kata dr.Toni.

Ia menjelaskan, kebanyakan penyakit tersebut bisa dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Karenanya, sejak tahun 2006 dibentuk program kesehatan masyarakat untuk 3 kampung yang masuk dalam binaan LPMAK dan dipimpin oleh dr.Milka. Fokus utama program tersebut adalah kesehatan ibu dan anak, edukasi penyakit menular seperti diare, cacingan, tuberkulosis dan HIV. “Terutama tentang cara penularan, pencegahan, dan pengobatan,” kata dr.Milka.

Secara teratur, dr.Milka dan timnya berkeliling ke kampung-kampung untuk memberikan penyuluhan kesehatan dan membentuk kader di tiap kampung. Selain kader posyandu, dibentuk juga pengawas minum obat untuk pasien TB dan HIV untuk mengingatkan anggota keluarga atau kerabatnya agar rajin minum obat atau kontrol kesehatan. “Dalam satu kali kunjungan, saya bisa ke tiga desa. Kami naik helikopter sampai titik tertentu, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki, naik turun bukit dan menyebrang sungai. Kalau cuaca buruk, terpaksa kami harus menginap lebih lama di satu kampung karena helikopter yang akan menjemput tak bisa mendarat,” katanya.

Perlahan tapi pasti, perilaku masyarakat mulai berubah. Menurut dr.Milka, beberapa tahun lalu masih banyak ditemui orang dewasa yang ingusan seperti anak-anak, sekarang tidak lagi.”Sampai dengan tahun 2007, dulu pasien yang datang berobat di RSWB harus disuruh mandi dulu, tapi sekarang tidak lagi. Anak-anak juga sudah sadar pentingnya cuci tangan sebelum makan,” ujarnya.

RS Waa Banti, fasilitas kesehatan yang lengkap di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua | Foto: Kompas.com/Lusia Kus Anna

Tim Mimika Sehat
Ketergantungan warga di pegunungan pada fasilitas kesehatan milik PT Freeport Indonesia memang besar. Selain faktor medan yang sulit dijangkau, pemerintah juga kesulitan mencari tenaga kesehatan yang mau bertugas di tempat terpencil.

Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, saat ini ada 13 puskesmas di wilayah terpencil Kabupaten Mimika, yakni 5 di pegunungan dan 8 di daerah pesisir. “Kebanyakan puskesmas itu diisi oleh perawat dan bidan saja. Kami memang masih banyak dibantu oleh Freeport untuk meminjam helikopter untuk mengirimkan dokter ke puskesmas,” kata Reynold.

Ia mengakui sulit merekrut dokter, apoteker, atau tenaga laboratorium, untuk ditempatkan di puskesmas di daerah terpencil. Untuk menyiasatinya, dalam waktu dekat pemerintah Kabupaten Mimika akan mengirimkan tenaga Mimika Sehat. “Kami meniru program Nusantara Sehat Kementrian Kesehatan. Satu tim akan terdiri dari dokter, bidan, ahli gizi, dan sebagainya, untuk ditempatkan di wilayah-wilayah terpencil,” katanya. (Lusia Kus Anna)

Sumber: kompas.com

Advertisement