Kabupaten Puncak Papua Punya Pusat Grosir, Harga Sembako Jadi Murah

Kabupaten Puncak Papua Punya Pusat Grosir, Harga Sembako Jadi Murah

Peresmian Pusat Grosir oleh Bupati Puncak, Willem Wandik | Foto: Ist

Metro Merauke – Pemerintah terus berusaha menekan harga kebutuhan pokok di Kabupaten Puncak, Papua, mengingat selama ini harga-harga di wilayah tersebut bisa dibilang ‘selangit’. Setelah ada Pom bensin, kini di Puncak juga punya pusat grosir harga murah. Pusat grosir di Kabupaten Puncak didirikan di wilayah ibu kota, Distrik Ilaga. Peresmian dilakukan oleh Bupati Puncak, Willem Wandik, Minggu (26/3) kemarin. Pembukaan pusat Grosir ini untuk menekan harga-harga yang mahal di pegunungan kabupaten Puncak.

“Puji Tuhan akhirnya pemerintah Kabupaten Puncak bisa membuka pasar grosir bagi masyarakat pegunungan kabupatan puncak. Kami menyediakan barang-barang semurah mungkin, yaitu 30 % lebih murah dari harga aslinya,” ujar Willem dalam keterangannya kepada detikcom, Senin (27/3). Seperti diketahui, Kabupaten Puncak merupakan salah satu daerah yang harga-harga kebutuhan di wilayahnya sangat mahal. Karena menggunakan pesawat perintis, harga-harga kebutuhan pokok, dan bahan bangunan, serta BBM di Kabupaten Puncak pun melambung sangat tinggi.

Untuk semen saja, harga satu sak-nya bisa mencapai Rp 2 juta. Minyak goreng kemasan 1 liter dibanderol Rp 50 ribu. Air mineral kemasan yang kecil Rp 15 ribu, ukuran sedang Rp 25 ribu, dan yang besar Rp 60 ribu. Sementara ayam 1 ekor Rp 90 ribu, telur Rp 5 ribu per butir, ikan lema Rp 70 ribu per kilogram. Gula pasir Rp 30 ribu per 6 ons, dan beras Bulog Rp 500 ribu per 15 kilogram, serta mie instan Rp 5.000 per bungkus. Harga cabai di Ilaga tergolong sangat tinggi, yakni Rp 150 ribu per kilogram.

Namun Kabupaten Puncak mulai berjuang keluar dari keterisolasian. Bupati Willem pernah datang ke Istana dan beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo mengenai ketimpangan harga di daerah Pegunungan Papua dengan wilayah lain. Senada dengan visi misi Presiden Jokowi yang menginginkan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia, Kabupaten Puncak mulai keluar dari keterisolasian.

Selain pembangunan yang berkelanjutan, kini Ilaga tengah menantikan dibukanya jalur darat Trans Papua. Presiden Jokowi sendiri meminta agar jalur ini bisa dibuka pada tahun 2017. Pembangunan jalan Trans Papua dan perbatasan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi itu saat ini sudah memperlihatkan progres yang signifikan. Jalan Trans Papua juga nantinya akan terhubung dengan Tol Laut.

Harga BBM di Puncak, Papua, sebelumnya juga menjadi masalah. Bayangkan saja, BBM jenis Premium per liter hingga beberapa waktu lalu dibanderol dengan harga Rp 50 ribu. Harga solar, dan minyak tanah pun sama, Rp 50 ribu per liter. Begitu pula dengan harga-harga bahan bangunan yang selangit. Sangat jauh berbeda dengan kondisi di Jawa dan wilayah barat Indonesia.

Namun tahun lalu, tepatnya pada peringatan HUT RI ke-71, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dibangun di Ilaga. Dengan adanya SPBU itu, harga premium yang sebelumnya Rp 50 ribu per liter kini turun menjadi Rp 6.500 per liter. Sementara harga solar menjadi Rp 5.500 per liter. Saat ini warga Bumi Cenderawasih yang berada di pedalaman bisa benar-benar merasakan subsidi dari pemerintah. Bupati Willem menyebutnya sebagai bukti nyata negara hadir di Tanah Papua.

Tak berhenti sampai situ, Pemda Puncak Papua di bawah kepemimpinan Willem Wandik terus berupaya untuk menciptakan meratanya kesejahteraan bagi warga. Sebuah pesawat kargo dibeli untuk mengatasi keterisolasian serta tingginya harga BBM dan sembako.

Pesawat tersebut dikhususkan untuk mengangkut logistik dan tidak dikomersilkan. Pesawat DHC-4T turbo Caribou tersebut mempunyai daya angkut 4 ton, jauh lebih besar dibandingkan dengan pesawat perintis yang biasa ada di pegunungan tengah yang daya angkutnya 1.3 ton. Tak hanya itu, pesawat Caribou ini juga istimewa, karena mampu mendarat di landasan sepanjang 300 meter.

Tentu saja itu sangat membantu mengingat saat ini Bandara Ilaga hanya memiliki landasan sepanjang 600 meter. Walaupun beberapa waktu lalu Kemenhub sudah berkomitmen akan memperbaiki landasan di sejumlah wilayah di Papua, termasuk Ilaga. Dengan adanya pesawat ini, harga-harga pokok di Puncak, Papua, sempat turun dan jauh lebih murah. Sayangnya, karena cuaca dan medan menuju wilayah Puncak yang cukup terjal, pesawat ini mengalami kecelakaan. Harga-harga di Puncak, Papua, kembali melambung tinggi.

Namun komitmen untuk mengatasi keterisolasian, percepatan pembangunan, serta perbaikan perekonomian di wilayah Puncak, Papua, tidak berhenti dan terus dilakukan. Dengan dibukanya pusat grosir di Ilaga, harga-harga kebutuhan pokok pun dipastikan akan turun. “Apalagi menjelang Lebaran, kehadiran Grosir ini tentu saja diharapkan dapat meringankan beban masyarakat, karena harga di pegunungan Papua ini sangat tinggi,” kata Willem.

Harga yang mendapatkan 30% lebih murah itu adalah 9 bahan pokok utama, yakni beras/sagu, gula, sayuran, daging, minyak goreng, susu, telur, minyak tanah dan garam. Untuk harga beras, kata Willem, dari yang awalnya seharga Rp 800 ribu kini berkurang menjadi Rp 560 ribu untuk satu karung berisi 18 kg. Lalu untuk air mineral 600 ml, dari yang awalnya Rp 25 ribu saat ini harganya Rp 17.500. Material bangunan juga turun 30% dan tentunya akan sangat berdampak pada pembangunan di wilayah pegunungan Papua itu.

“Tentu saja kita mengharapkan agar harga ke depannya dapat terus ditekan semurah mungkin agar pemerataan harga terjadi di kabupaten Puncak ini. Tak lepas ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung program nawacita Presiden Jokowi,” ucapnya. Berbagai upaya pemerataan di Puncak, Papua, akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, cita-cita pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan semakin cepat terealisasi. (ear/rvk)

Sumber: detik.com

Advertisement