Cerita Dokter Soal Kepercayaan Darah Kotor Tak Boleh Mengendap di Tubuh

Cerita Dokter Soal Kepercayaan Darah Kotor Tak Boleh Mengendap di Tubuh

Ilustrasi luka | Foto: Thinkstock

Metro Merauke – Beberapa masyarakat masih ada yang memiliki kepercayaan terkait kesehatan. Misalnya, darah kotor jangan sampai mengendap di tubuh karena itu tidak baik bagi tubuh.

Nah, suku di Papua yang tinggal di pegunungan masih memiliki kepercayaan seperti itu. Sehingga, mereka menyayat kulitnya (tak terlalu lebar) sampai keluar darah walau sedikit. Tenaga kesehatan misalnya yang ada di RS Wa Banti di desa Banti, Tembagapura pun berusaha memberi edukasi terkait risiko di balik praktik itu. Namun, pastinya itu bukan hal yang gampang.

“Jadi orang di sini itu masih banyak yang suka menyayat misalnya pusing, disayat itu di pelipisnya. Memang nggak terlalu lebar sayatannya. Makanya jangan heran kalau lihat orang di sini di wajahnya banyak bekas luka sayat,” kata dr Toni Kustolani, MM, koordinator RS Wa Banti.

dr Toni mengatakan prinsipnya, saat sakit mesti ada darah yang dikeluarkan meski sedikit karena dianggap darah kotor. Bahkan, di tahun 2007 ketika ada perang suku, pernah ada warga yang terkena panah di bagian tengkuk tapi beberapa area tubuhnya disayat. Kemudian, warga yang diketahui sebagai panglima perang itu meninggal.

“Bisa aja kan dia mengalami perdarahan. Ada juga yang kena panah di dada terus disayat di bagian perut bawah, pinggang. Padahal itu kan bisa berisiko perdarahan bahkan sampai infeksi. Waktu sakit kepala sudah disayat tapi nggak hilang, mungkin aja itu karena migrain misalnya,” kata dr Toni.

Kepercayaan agar jangan sampai ada darah kotor yang mengendap juga dilakukan ketika warga sudah mendapat jahitan di lukanya. Sepulang dari RS, benang jahitan sudah dibuka sendiri dan dibungkus menggunakan daun-daunan, bahkan kantong kresek yang dibungkus karet gelang. Sebab, mereka yakin dengan begitu darah kotor akibat luka yang dialami tidak terendap.

Padahal, akibatnya luka justru melebar, tidak segera kering atau bahkan terjadi infeksi. Jika begitu, dr Toni dan dokter lain di RS Wa Banti memberi tahu warga bahwa apa yang dilakukan justru berisiko untuk mereka. Meski harus berkali-kali diedukasi, masyarakat lambat laun ada juga yang paham bahwa menyayat kulit dengan prinsip mengeluarkan darah kotor berisiko.

dr Toni menambahkan, praktik menyayat ini juga terkait dengan risiko HIV-AIDS di desa Banti dan sekitarnya. Bagaimana tidak, dalam praktik menyayat warga umumnya menggunakan satu silet secara bergantian. Nah, di tahun 2008 awal pasca terjadinya perang antar suku, dr Toni mulai memberi tahu warga untuk tidak menggunakan silet bergantian.

“Memang agak susah ya kalau mengubah apa yang sudah mereka percaya. Sehingga kita kasih edukasi bahwa toh mau menyayat jangan pakai silet bergantian. Jadi setelahnya kalau ada yang disayat, saya tanya pakai apa katanya pakai silet sendiri terus dibuang. Itu kan berarti ada kemauan masyarakat untuk berubah. Kalau dilihat memang masyarakat di sini itu cukup patuh dan mau berubah setelah diedukasi karena mereka sadar akan pentingnya hidup sehat,” pungkas dr Toni. (rdn/vit)

Sumber: detik.com

Advertisement