Hidup Sendirian, Pria Meninggal di Tumpukan 6 Ton Majalah Porno

Hidup Sendirian, Pria Meninggal di Tumpukan 6 Ton Majalah Porno

Takada pernah mengurus jenazah pria usia 50-an tahun di Prefektur Kanagawa yang meninggal di atas tumpukan koleksi majalah porno | Foto: liputan6.com

Metro Merauke – Jakarta Menjalani masa tua sendirian hingga ajal menjemput. Suram, bukan masa tua yang menyenangkan untuk dibayangkan, ‘kan? Namun menurut sebuah penelitian, angka kematian dalam kondisi sendirian–atau disebut kodokushi–meningkat tiga kali lipat di Jepang dalam satu dekade terakhir. Lantas bagaimana dengan jasad orang-orang yang memilih tinggal sendiri itu? Mind, sebuah perusahaan jasa membersihkan rumah individu yang tinggal sendirian ketika mereka meninggal menjadi jawabannya. Tak hanya membersihkan tempat tinggal orang yang meninggal, Mind juga secara diam-diam membantu “mengeyahkan” barang-barang yang dianggap berpotensi membuat malu mendiang jika ketahuan oleh keluarganya.

Melansir laman Rocketnews24, sebuah situs Jepang–Nikkan Spa!–mewawancarai salah seorang pekerja Mind, Takada, mengenai pengalamannya mengurus jenazah pria yang meninggal di atas tumpukan majalah porno. Ya, Takada pernah mengurus jenazah seorang pria usia 50-an tahun yang tinggal di Prefektur Kanagawa. Menurut Takada, pria yang disebut Joji itu ditemukan meninggal di antara tumpukan majalah dewasa di apartemen dua kamarnya. Tak hanya majalah, rupanya Joji juga mengoleksi kliping erotis dan seluruh koleksinya memiliki berat sekitar enam ton.

Joji dikenal jarang bersosialisasi jadi tak heran bila tak ada yang mencurigai keberadaannya yang tak terlihat selama beberapa hari. Tampaknya Joji meninggal akibat serangan jantung dan jatuh terkubur di antara tumpukan kliping serta majalah pornonya.

Koleksi itu bisa dibilang turut “menyelamatkan” keberadaan jasad Joji untuk terakhir kalinya. Menurut Takada, jasad akan mengeluarkan cairan secara alami setelah beberapa hari. Dalam beberapa minggu, jasad itu akan membusuk dan tak akan mampu menampung cairan tubuh. Bila jasad tak juga ditemukan, terkadang cairan tersebut akan merembes ke lantai, tak jarang menetes ke ruangan di bawahnya. Kondisi inilah yang seringkali jadi petunjuk “kematian sendirian” akan individu yang tinggal sendiri, seperti Joji, bagi orang-orang di sekitarnya.

Namun, tak demikian halnya dengan kasus Joji. Cairan tubuhnya terserap oleh tumpukan koleksi majalah pornonya sehingga tak sampai mengotori lantai apalagi merembes ke ruangan di bawahnya. Ketika ditemukan oleh pemilik tempat tinggal yang akan menagih uang sewa, jasad Joji nyaris tak dapat dikenali karena bisa dikatakan hanya berupa tulang-belulang. (Dyah Puspita Wisnuwardani)

Sumber: liputan6.com

Advertisement