Lelaki yang Teguh

Lelaki yang Teguh

Teguh Esha | Foto: Antara

Oleh: Jodhi Yudono

aku percaya,
kamu tak kan pernah mati
meski tubuhmu dilanda lara, dilanda lara
yang menjadikamulah itu,
jiwa yang merdeka
pantang menyerah dihadang badai,
diterjang badai kehidupan

aku berguru padamu, lelaki yang teguh
setia slalu pada sikap dan perbuatan
kamu adalah cahaya itu
sinari jalanan kota ini

kamu adalah mata air
sirami jiwa-jiwa yang sunyi… sepi
(Lelaki yang Teguh, syair dan lagu Jodhi Yudono)

Lagu dan syair di atas saya buat pada awal tahun 2008, saat saya mendapatkan persetujuan dari Mas Teguh Esha untuk menghibur beliau yang kala itu baru keluar dari RS Fatmawati setelah menjalani perawatan karena sakit diabetes mulanya, tapi kemudian merambah ke organ lainnya, di antaranya hyper thyroid. Melalui syair lagu di atas, saya hanya ingin mengatakan kepada Teguh, bahwa seniman semacam dirinya tidak akan pernah mati, bahkan jika pun maut menjemputnya kelak. Sebab karya-karyanya akan terus dikenang orang sepanjang masa.

Syair lagu di atas juga isyarat kekaguman saya kepadanya. Ya ya, dalam ketidakberdayaannya lantaran sakit fisik dan psikis, Teguh tetap tegar. Dia tetap menjadi cahaya yang memberi terang kepada kawan-kawannya yang redup semangat hidupnya. Di lain sisi, Teguh adalah juga mata air yang darinya meruah kasih sayang untuk anak-anak jalanan dan kawan-kawan seniman, khususnya di kawasan Bulungan.

Ketegaran itu bukan saja saat dirinya ditonjok oleh nasib yang kurang baik. Sejarah juga mencatat, betapa Teguh tak goyah atas keyakinan yang dipeluknya meski harus berhadapan dengan pengadilan.Saya sungguh bersyukur dan berterimakasih karena Mas Teguh memberi kesempatan kepada saya, Irul (pemain biola), dan Yoga (putera saya), untuk beribadah melalui musik dengan menghibur beliau.

Beberapa tahun setelahnya, kesehatan Teguh juga pasang surut. Akhir tahun lalu gula darah Teguh naik hingga 600. Tak lama kemudian dia masuk rumah sakit. Sebelum masuk rumah sakit, saya sempat menjenguknya sekedar menghibur beliau dengan memberinya semangat. Tradisi menghibur kawan-kawan yang sedang sakit ini adalah komitmen saya dengan diri saya sendiri untuk berbagi kebaikan melalui musik, dengan cara mendatangi kawan-kawan yang sedang sakit dan berdialog dengan mereka melalui musik dan lagu.Akhirnya kami pun sepakat menentukan tanggal untuk acara yang saya beri judul “Konser untuk Teguh Esha”.

Pada sebuah Minggu sore di bulan Januari, itu pun saya datang bertiga ke rumah Teguh Esha. Di sana sudah ada Teguh Esha sekeluarga, serta kawan-kawan yang sengaja kami undang untuk menyemangati Mas Teguh. Dua kawan saya, Nelden Dalisay Djakababa dan Benny N Juwono juga turut serta dalam penghiburan itu.

Mendapati Teguh Esha dalam kondisi sakit kala itu, sungguh bukan pemandangan yang menyenangkan. Tubuhnya kurus kering dengan bola mata yang membesar. Sambil menahan kesedihan, saya pun memulai acara dengan menyanyikan lagu-lagu karya saya sendiri dengan diselingi cerita dan guyonan. Interaksi antara saya dengan Teguh Esha serta yang hadir sungguh membuat senja di bulan Januari itu terasa indah.

Ada alasan kenapa saya dengan senang hati menghibur Teguh Esha. Pertama, tentu saja alasan memenuhi komitmen untuk “berbagi melalui musik”. Kedua, karena sejak remaja saya memang telah mengagumi penulis novel “Ali Topan” ini. Sebuah novel yang sedikit banyak telah memberi warna bagi perjalanan hidup saya, sehingga saya kini jadi wartawan.Sedemikian kagumnya saya kepada Ali Topan dan penulisnya, sehingga saya nyaris mengenal sosok keduanya secara rinci, baik dari orang lain maupun dari Teguh Esha sendiri.

Ya, ya… Teguh Esha dan Ali Topan adalah dua sosok yang tak terpisahkan. Cerita “Ali Topan Anak Jalanan” yang melegenda pada tahun 1972 ditulis oleh Teguh Esha pertama kali dalam bentuk cerita bersambung pada majalah STOP, dan pada tahun 1977 novel ini dibukukan. Kemudian, Cerita Ali Topan difilmkan dua kali 1972 dan 1978, dan diproduksi dalam bentuk Sinetron Serial yang ditayangkan SCTV pada tahun 1995. Ali Topan adalah seorang anak jalanan yang cerdas, punya prinsip, berani dan punya solidaritas tinggi pada sesama.

Cuma sayang, bayangan saya atas sosok Ali Topan justru rusak ketika dilayar-lebarkan dan disinetronkan. Boleh jadi, lantaran para pemerannya tidak mewakili benar karakter Ali Topan. Atau, bisa jadi juga karena imajinasi itu memang lebih luas cakrawalanya ketimbang penglihatan mata. Entahlah. Saya juga tahu, selain Ali Topan, hampir semua cerita novel Teguh Esha berkisah tentang wartawan. Seperti “Penembak Bintang” dan “Dewi Besser”. Sebuah pilihan yang tepat saya kira, lantaran dengan demikian Teguh cukup mengeksplor semua hal di sekitar kehidupannya sendiri sebagai seorang wartawan.

Teguh Esha, ya Teguh Slamet Hidayat Adrai, lahir di Banyuwangi, 8 Mei 1947, dan dibesarkan di kampung ayahnya di Bangil, Jawa Timur. Masa kecilnya diisi dengan membaca komik silat, komik wayang R.A. Kosasih, dan novel-novel detektif. “Kalau saya mengirim surat ke saudara saya di Jakarta, saya suka memakai nama samaran dari komik, seperti Beruang Merah,” kata Teguh di rumahnya di Bintaro, Jakarta Selatan.

Menurut penuturannya, selepas kelas V sekolah dasar, dia pindah ke Jakarta atas permintaan kakak iparnya, Mohamad Saleh, diplomat dan bapak sutradara Rizal Mantovani. “Dia yang menyekolahkan saya dan saudara saya,” kata Teguh. Dia dan saudara-saudaranya tinggal di Jalan Jati, Petamburan. Setamat SMA IX, dia kuliah di Fakultas Teknik Sipil Universitas Trisakti pada 1966, tapi hanya bertahan dua semester.

Di mata saya, Teguh adalah seorang provokator ulung, yang mampu meyakinkan lawan bicaranya sedemikian rupa agar mengikuti saran atau kemauan dirinya. Berkali-kali, sejak saya bertemu dengan Teguh di awal tahun 90an, saya diintimidasi agar keluar dari pekerjaan sebagai seorang wartawan dan total menjadi seniman. Untunglah saya masih kuat “iman”, hehehe, sehingga tidak terperdaya untuk meninggalkan pekerjaan tetap saya sebagai wartawan. Maklumlah, saya harus berhitung cermat untuk menggangtungkan hidup sebagai seniman. Sebab di belakang saya ada istri dan tiga anak.

Pertama bertemu di awal tahun 90an, di Gedung Wanita Pertamina Simprug. Kami sama-sama menjadi juri sebuah lomba cipta lagu. Pada perjumpaan pertama itu, saya langsung terkesima oleh gaya bicaranya yang ceplas-ceplos. Begitu tahu minat saya terhadap musik tradisi, Teguh pun memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang musik tradisi. Nyaris lupa bagaimana saya menjawab pertanyaan-pertanyaan Teguh, tapi dari matanya saya tahu, Mas teguh telah “jatuh cinta” kepada saya.

Yang saya ingat, saya hanya bercerita tentang beberapa observasi saya mengenai musik-musik etnik Jawa dan musik pesisiran, serta tentu saja kegemaran saya bermusik. Itulah sebabnya, saat bertemu kembali di ruang tamu kantor Tabloid Citra Musik, Teguh Esha yang baru menyimak permainan musik saya langsung memprovokasi saya, “Sudah, jadi seniman aja, ngapain jadi wartawan segala.”Kekuatan “meyakinkan” atau memprovokasi itulah yang rupanya justru menjadi modal Teguh dalam menulis. Bayangkanlah, bagaimana Teguh bisa membangun karakter pemuda Ali Topan yang urakan dan jauh dari “pemuda idaman” kala itu yang harusnya menurut kata orang tua dan guru, menjadi idola anak muda seluruh Indonesia.

Saya ingat betul, betapa anak-anak seusia saya yang kala itu masih SMP, berlomba-lomba menjadi manusia merdeka, semau gue, tapi sekaligus pintar. Maka diam-diam, saya pun merahasiakan waktu dan tempat belajar saya agar semua orang mengira saya tak pernah belajar tapi pintar, ya mirip si Topan itulah. Kepada saya Teguh juga pernah bercerita, di awal kariernya sebagai penulis, sebetulnya bermula dari semacam kesombongan dirinya yang menilai “jelek” atas sebuah cerita pendek yang dimuat di koran “Utusan Pemuda”.

Kepada Pemimpin Redaksi Utusan Pemuda Dadi Honggowongso, Teguh mengatakan, “Cerpen jelek ini kok dimuat?” Terang saja, Dadi bertanya seraya menantang Teguh, “Eh elu bisa bikin enggak?” Konon, semalam suntuk Teguh menulis cerpen “tantangan” itu. Setelah jadi, cerita itu dia serahkan kepada Dadi, yang ternyata memuatnya pada edisi Minggu. “Itu cerpen pertama saya. Judulnya lupa. Temanya tentang detektif. Pokoknya tokoh saya hitam-putih saja,” kata Teguh.

Semenjak itulah, Teguh terpacu untuk terus menulis. Terlebih, Djoko Prajitno dan Kadjat Adrai, dua kakaknya yang sudah jadi wartawan, mendorong Teguh jadi penulis. Teguh pun bekerja sebagai wartawan di Utusan Pemuda, yang terbit dua kali seminggu. Dia lantas memperdalam jurnalistik di Fakultas Publisistik Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), tapi tak tamat juga. Semangat Mas, semoga Tuhan memberimu kesehatan dan kebahagiaan. (EDITOR KOMPAS.com/Jodhi Yudono)

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement