Teknologi Sistem Navigasi BPPT Diterapkan di 6 Bandara Papua

Teknologi Sistem Navigasi BPPT Diterapkan di 6 Bandara Papua

Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Informasi Energi Material (TIEM), Hammam Riza | Berita Satu/Whisnu Bagus

Metro Merauke – Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan sistem navigasi pesawat komersial yang telah disertifikasi Kementerian Perhubungan (Kemhub). Untuk tahap awal, sistem yang disebut Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) Ground Station ini akan diaplikasikan pada enam bandara di Papua.

“Air Nav Indonesia sebagai perum lembaga yang bergerak di bidang pelayanan navigasi akan menerapkan di bandara Papua,” kata Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Informasi Energi Material (TIEM), Hammam Riza saat bincang dengan media di Jakarta, Selasa (21/3).

Hammam mengatakan, ADS-B yang dikembangkan BPPT dan diproduksi PT INTI ini merupakan perangkat surveillance atau pengawasan lalu lintas penerbangan yang dipakai Air Traffic Controller untuk mengawasi jarak aman antar pesawat. “Dalam proses sertifikasi ini BPPT melakukan supervisi pada PT INTI sesuai standar regulasi ICAO (The International Civil Aviation Organization),” kata dia.

Foto: Berita Satu

Hammam mengatakan, sistem ADS-B bisa diterapkan pada bandar udara (bandara) yang belum memiliki sistem radar atau bersifat voice. “Dengan ADS-B, data penerbangan yang ditangkap tidak hanya dalam bentuk suara, melainkan melalui visual sehingga lebih bagus untuk keselamatan. Akan terlihat titiknya, pesawat dimana,” kata dia.

Hammam mengatakan, dari total 295 bandara di Indonesia, sebanyak 255 bandara non-radar yang mengandalkan voice. Pasar ini yang membutuhkan perangkat ADS-B. “Tidak semua bandara ada radar, hanya bandara-bandara besar saja, karena mahal.
ADS- B, fungsinya mirip radar. Saat ini Indonesia baru terpasang 31 stasiun darat ADS-B yang yang semuanya produk impor,” kata dia.

Hammam mengatakan, ADS-B yang diproduksi delama negeri dibanderol berkisar R 2 miliar, sementara jika membeli dari luar negeri alias impor sekitar Rp 10 miliar. “Dengan diproduksi di dalam negeri, harapannya bisa lebih murah,” kata dia.

Selain itu, kata dia, kelebihan sistem ADS-B dibandingkan dengan sistem radar adalah kemampuan untuk mendeteksi pesawat pada area tertentu yang tidak terjangkau radar sehingga data penerbangan seperti identitas, koordinat, ketinggian, atau kecepatan akan menjadi relatif lebih banyak. Di samping itu, biaya pengadaan peralatan, pengoperasian dan pemeliharaan sistem ADS-B juga relatif lebih murah. (Whisnu Bagus Prasetyo/WBP)

Sumber: beritasatu.com

Advertisement