Siswa Tak Bisa Balistung Perlu Penanganan Khusus

Siswa Tak Bisa Balistung Perlu Penanganan Khusus

Kepala Sekolah SD Impres Nasem, Merauke, Papua, Mike Leopold

Metro Merauke – Siswa yang tak bisa membaca, menulis dan menghitung (balistung) butuh penanganan khusus.  Jika tidak, dikhawatirkan jumlahnya akan selalu bertambah.

Penyebabnya, bukan hanya kesalahan guru di sekolah, namun juga minimnya perhatian orang tua di rumah. Termasuk peran pemerintah dalam menekan jumlah siswa yang tak bisa balistung.

“Saya merencanakan akan membuat sekolah khusus siswa yang belum bisa membaca, menulis dan menghitung. Ada jam tambahan supaya mereka dibimbing dengan pola berbeda. Dengan begitu, mereka bisa cepat mengerti,” kata Kepala Sekolah SD Impres Nasem, Merauke, Papua, Mike Leopold, Selasa (21/3) di ruang kerjanya.

Tak dipungkiri, hingga kini masih banyak generasi masa depan, terutama di kampung-kampung di Merauke, yang tak dapat menulis dan membaca. Ini bencana dalam dunia pendidikan. Perlu segera solusi dan penanganan serius dari pihak sekolah maupun pemerintah.

“Hanya saja niat itu tidak didukung kehadiran guru. Hanya sebagian kecil guru yang dan aktif melaksanakan tugas. Ada yang hanya aktif terima gaji. Tidak menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pendidik,” ujarnya.

Ia telah mengadukan masalah keaktifan guru kepada Dinas Pendidikan Merauke. Dinas telah menahanan gaji guru malas. Namun guru yang bersangkutan protes kepada Mike.

“Kalau mau dibilang, guru kelas tidak ada. Hanya ada satu guru yang mengajar 140 siswa. Masalah lainnya, di ruang belajar kelas I dan II tidak ada kursi dan meja,” katanya.

Selama setahun, siswa duduk di lantai ketika proses belajar mengajar. Pihak sekolah sudah pernah menyampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, namun belum ada jawaban. Dalam menangani semua permintaan, dinas melakukannya bertahap.

“Kami butuh penambahan guru kelas dan peralatan untuk kelas yang masih kosong. Somoga secepatnya kami dapat bantuan dari pemerintah,” ucapnya penuh harap. (Getrudis/Arjuna)

Advertisement

1 komentar

  1. Dalam hal balistung bagi sebagian besar siswa terutama diwilayah pedalaman Papua, meskipun itu tanggung jawab semua pihak namun hal ini lebih pada tanggung jawab guru karena para orang tuapun sebagian besar tidak bisa balistung. Terbatasnya guru memang menjadi kendala namun juga perlu dilihat apakah penugasan guru sudah merata hingga wilayah pedalaman. Jangan-jangan sebagian besar berada dikota dan enggan ke pedalaman. Untuk sarana pendidikan, seharusnya ada keterlibatan swasta. Mereka jangan hanya mengeruk sumber daya alam yang ada tanpa perhatian untuk pendidikan anak-anak. Di Merauke setiap tahun ada lulusan sarjana keguruan dari UNMUS yang cukup banyak, apakah mereka tidak menjadi guru? atau hanya mau menjadi guru bila ditempatkan dikota saja.

    balas