Pembaharuan Diri Melalui Pantang dan Puasa

Pembaharuan Diri Melalui Pantang dan Puasa

Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC

Metro Merauke – Dalam ajaran Kristen Katolik, berpuasa dan berpantang merupakan karunia dari Tuhan kepada manusia. Ini dipercaya umat Katolik sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Manusia bisa mengendalikan diri melalui pikiran, perkataan, perbuatan dan keinginan duniawi agar semua terkontrol dan tidak diperbudak dosa.

Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC mengatakan, puasa dan pantang adalah langkah menuju pertobatan. Tidak ada orang yang bisa bertobat karena kekuatannya sendiri. Melainkan bantuan rahmat Allah dan dukungan sesama orang beriman.

“Karena itu, mintalah kekuatan kepada Allah agar kita mampu menjalankan masa pertobatan selama 40 hari ini dengan baik,” kata Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC, Selasa (7/3).

Menurutnya, ada dua perbedaan antara pantang dan puasa. Puasa berarti tidak boleh makan kenyang atau makan banyak, terutama pada Rabu Abu dan Jumat Agung (hari wafatnya Isa Almasih).

Ini dimaksudkan agar kita menyisakan sebagian dan berbagi kepada sesama. Terutama mereka yang susah, miskin dan menderita dalam hal barang, makanan atau uang.

“Pantang adalah tidak boleh memakan daging, jajan, rokok atau kebiasan memakan pinang. Tidak boleh sementara waktu. Dengan menjalani pantang dan puasa, manusia mampu mengendalikan dirinya dari berbagai perbuatan dosa,” ujarnya.

Katanya, ini akan lebih memudahkan manusia melakukan pertobatan. Melalui pengendalian diri tersebut, kita dapat menghindari perbuatan zinah, kata-kata kotor, memfitnah, gosip, korupsi, minuman keras, narkoba, judi, malas dan mencari keuntungan diri.

“Umat Katolik wajib mengikuti prosesi jalan salib setiap Jumat dalam masa Pra Paskah. Tujuannya, mengenang kisah sengsara Tuhan dan maknanya mengajarkan umat Allah untuk tidak takut ketika hidup dalam penderitaan. Sengsara membina orang menuju ketabahan tidak mudah putus asa,” katanya.

Selain itu lanjutnya, kita juga diwajibkan mendoakan sesama manusia, terutama doa silih bagi orang berdosa agar bertobat. Tobat yang sempurna adalah menyelamatkan diri sendiri dan orang lain dari hukuman dosa. (Getrudis/Arjuna)

Advertisement