Asa bagi Para Lentera Cilik

Asa bagi Para Lentera Cilik

Ilustrasi | Foto: kompas.com

Oleh: Laraswati Ariadne Anwar

Bocah lelaki usia lima tahun berinisial 0K tampak berjinjit. Tangannya menggapai pistol mainan di atas lemari di pojok ruangan berukuran 3 meter x 3 meter itu. Kemudian, ia bergabung dengan dua teman sebayanya, MJ (5) dan EK (5). Mereka berlari sambil tertawa dan berseru, “Dor! Dor! Dor!”

Tiga bocah yang mengidap AIDS itu tampak sehat dan ceria. Itu mematahkan anggapan anak dengan AIDS (ADA) pucat dan tak berdaya.

“Ada sebelas anak berusia 3-14 yang kami asuh. Mereka mengidap AIDS stadium 2 sampai 4,” ujar Puger Mulyono, salah satu pendiri Yayasan Lentera Surakarta (YLS), di Kota Solo, Jawa Tengah, belum lama ini.

Di pangkuan Puger, EK yang sudah bosan bermain kejar-kejaran duduk dan menggambar. “Bapak, lihat,” ucapnya sambil memperlihatkan gambar lemari yang ia buat dengan pensil.

Puger bersama empat rekan pengurus YLS dan tiga pengasuh berusaha memberi kasih sayang kepada anak-anak itu. Di usia amat muda, anak-anak YLS mengalami kekerasan sosial, verbal, dan fisik karena ketidakpahaman masyarakat terhadap penyakit yang mereka idap.

Anak-anak itu lahir dengan HIV-AIDS dan berasal dari berbagai pelosok Nusantara. Anak-anak itu tertular HIV dari orangtua mereka yang dulu berperilaku seksual tak aman ataupun pernah mengonsumsi narkoba suntik.

Setelah orangtua mereka meninggal, keluarga dan tetangga menolak mengasuh anak-anak itu. Warga mengira HIV menular melalui sentuhan, bahkan lewat udara.

MG (9) dari Kediri, Jawa Timur, misalnya, begitu tahu ia terinfeksi HIV, warga membakar barang miliknya. Kakek dan neneknya tak bisa membela diri. MG diamankan di balai desa sampai dijemput Puger beberapa hari kemudian.

Ada pula F (5) dari Ungaran, Jawa Tengah. Ia dulu diasuh kakek dan neneknya. Namun, warga mengusir mereka sehingga keluarga itu harus membuat gubuk di tengah hutan di ujung desa. Menurut Puger, saat dijemput, anak-anak itu tak menolak, seolah paham rumah baru memberi harapan baru.

Bertahun-tahun hidup tak layak membuat HIV di tubuh mereka memburuk. Apalagi, mereka terinfeksi berbagai penyakit karena hidup di tempat tak higienis, seperti di kandang ayam. Akibatnya, saat mendapat rumah baru bersama YLS, beberapa anak tak bisa ditolong.

“Kami berusaha membuat mereka senyaman mungkin. Namun, ada yang tubuhnya sudah tak bisa merespons terapi antiretroviral dan akhirnya meninggal,” ujar Puger.

Terus berjuang

Mengasuh ADA butuh perhatian khusus. Diet mereka diatur ketat. Susu sapi dan telur dihindari dikonsumsi karena berisiko alergi. Di ruang tamu YLS terpampang papan tulis menunjukkan jadwal anak-anak minum antiretroviral. Selain itu, mereka diberi pengobatan herbal dan terapi pernapasan.

Puger dan rekan-rekannya waspada saat anak-anak mengalami pilek atau demam. Penyakit yang sedikit mengganggu bagi orang sehat bisa berakibat fatal bagi ADA karena mereka tak punya ketahanan tubuh. “Untungnya ADA mendapat perawatan gratis jika ada surat pengantar dinas sosial,” kata Puger.

Anak-anak itu juga menempuh pendidikan formal meski sempat ditolak orangtua murid lain. Menurut Puger, stigma jadi tantangan terberat mereka. Lokasi YLS dua kali berpindah tempat karena penolakan dari tetangga.

Bahkan, Wali Kota Solo FX Rudiyatmo pernah didemo karena akan memberi YLS tempat di dekat permukiman.

Kepala Bidang Sosial Budaya Badan Perencana Pembangunan Daerah Solo Sumilir mengatakan, ada sekitar 1.900 kasus HIV-AIDS di Solo. Daerah itu memiliki pengidap HIV-AIDS kedua terbanyak di Jateng setelah Semarang. Penyebab utamanya ialah jarum suntik.

Terkait hal itu, Pemkot Solo tahun 2015 membuat program Warga Peduli AIDS di 51 kelurahan untuk sosialisasi pencegahan dan penanganan HIV-AIDS serta menumbuhkan kepedulian pada orang dengan HIV-AIDS. “Melawan mitos butuh waktu,” ucapnya.

Selama itu berlangsung, YLS memberi rumah dan perhatian bagi anak-anak dengan AIDS agar semangat mereka tetap menyala seperti lentera. (Lusia Kus Anna)

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement