Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gangguan Pendengaran

Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gangguan Pendengaran

Ilustrasi | Foto: Shutterstock

Metro Merauke – Jangan anggap sepele masalah pendengaran. Gangguan pendengaran bisa berupa gangguan ringan, yakni menurunnya fungsi pendengaran, tetapi masih bisa berkomunikasi dengan baik. Bisa juga gangguan sangat berat atau mengalami tuli total, yakni tidak bisa mendengar sama sekali meskipun ada yang berteriak. Ketua Komite Nasional Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) dr Damayanti Soetjipto, SpTHT-KL(K) mengatakan, gangguan pendengaran sering luput dari perhatian karena tidak terlihat secara fisik.

Meski demikian, gangguan pendengaran tak bisa dianggap sepele karena bisa menurunkan kualitas hidup. Untuk itu, bertepatan dengan Hari Pendengaran Sedunia pada 3 Maret mari kenali beberapa penyebab gangguan pendengaran.

Tuli sejak lahir
Tuli sejak lahir atau kongenital di Indonesia diperkirakan terjadi pada 6500 anak setiap tahunnya. Tuli sejak bayi bisa mengganggu kemampuan bicara anak dan bisa berpengaruh pada pendidikannya.

Maka anak baru lahir seharusnya diperiksa dengan alat OAE (Oto-Aacoustic Emission). Bila ada indikasi masalah pendengaran, usia 3 bulan kembali menjalani pemeriksaan secara lengkap. “Kalau bayi tidak bisa mendengar, sebelum usia 6 bulan dipasang alat bantu dengan supaya kemampuan bicaranya nanti juga bagua, ” kata Damayanti.

Infeksi telinga tengah
Infeksi telinga tengah juga dapat terjadi pada anak-anak. Umumnya masalah ini ditandai dengan batuk, pilek, atau radang tenggorokan. Bila tidak segera diatasi, infeksi bisa menjalar ke telinga tengah melalui saluran yang menghubungan hidung dan telinga. Pada tahap lanjut bisa menyebabkan pecahnya gendang telinga. “Jadi saat anak sering batuk, pilek, periksa juga kesehatan telinganya,” kata Damayanti.

Kotoran telinga
Menumpuknya serumen atau kotoran telinga bisa menyebabkan gangguan pendengaran ringan. Bila telinga kemasukan air, serumen dapat mengembang dan terasa telinga seperti tertutup. Hindari membersihkan telinga sendiri dengan menggunakan korek kuping. Kebiasaan itu malah bisa mendorong serumen lebih dalam ke telinga.

Tuli akibat bising
Siapa sangka, paparan suara bising yang terlalu keras dalam waktu lama pun dapat merusak pendengaran bahkan bisa sampai menyebabkan ketulian. Damayanti mengungkapkan, batas aman tingkat kebisingan bagi pendengaran adalah tak lebih dari 80 desibel. Bila terlalu sering mendengar suara bising di atas 80 desibel, fungsi telinga bisa rusak.

Damayanti mengatakan, suara bising yang keras bisa dijumpai pada pusat permainan anak di mal, saat nonton konser musik, hingga bengkel mesin di sekolah menengah kejuruan jurusan teknik. Untuk mencegahnya, hindari paparan bising yang keras dan terlalu lama.

Tuli pada usia lanjut
Proses penuaan juga terjadi pada telinga. Biasanya penurunan fungsi pendengaran terjadi pada usia di atas 65 tahun. Lansia jadi sulit mendengar lebih baik dari biasanya.

Pada lansia kesulitan mendengar bisa menyebabkan emosi tidak stabil, pemarah, komunikasi dengan keluarga terganggu, hingga depresi. (Dian Maharani)

Sumber: kompas.com

Advertisement