Perang, Perdamaian, dan Kemakmuran: Tiga Generasi Dinasti Baja Bac Ninh

Perang, Perdamaian, dan Kemakmuran: Tiga Generasi Dinasti Baja Bac Ninh

Tiga generasi dalam keluarga Tr?n V?n Q?y di upacara tradisional Vietnam | KARIM RASLAN
 Oleh: Karim Raslan

“Saya mengalami dua masa peperangan – melawan Perancis dan Amerika. Perang dimulai ketika saya baru saja berusia 8 tahun. Itulah mengapa saya tidak pernah bersekolah.” “Kami lebih menderita ketika berperang melawan Perancis: mereka membunuh para pria dan memperkosa kaum wanita. Perang melawan Amerika berbeda. Kami tidak pernah melihat mereka. Namun, tiba-tiba mereka menjatuhkan bom.” “Tetapi orang Prancis membakar habis rumah keluarga kami. Tiga puluh dua orang tewas seketika karena meriam yang mereka tembakkan ke desa. Anak-anak kecil belum mengenal rasa amarah namun mereka sudah tahu rasa ketakutan dan saya dulu merasa sangat takut.”

Saat ini, Tran Van Quy berusia delapan puluh dua tahun dan dengan terbata-bata dia mengisahkan masa lalunya. Dia dilahirkan di tengah keluarga yang cukup berada dan mempunyai lahan keluarga sendiri. Dia mengingat masa kecilnya sebelum perang terjadi sebagai masa yang indah: bisa berlari mengelilingi rumah keluarganya yang besar, mengurus kerbau, dan makan nasi setiap hari.

“Namun ketika revolusi terjadi, tanah kami disita. Saya sangat marah pada waktu itu. Saya menulis surat kepada para pejabat tetapi mereka tidak pernah memberikan jawaban – jadi saya bertekad untuk membeli kembali properti kami. Pada 1968, saya membeli sebidang tanah dari properti lama kami, sebuah lahan yang berada dekat dengan bengkel kami sekarang.” Upaya land reform yang buruk pada pertengahan 1950-an membawa dampak buruk bagi sebagian besar lahan di lembah Sungai Merah Vietnam: hasil panen menurun dan lumbung padi pun lenyap karena petani mengurangi penanaman padi.

Tran menggelengkan kepalanya dan suaranya pun tercekat: “Tidak ada pekerjaan waktu itu dan hidup kami menjadi sangat miskin. Tetapi setidaknya desa kami, Da Hoi, memiliki tradisi mengolah logam meskipun produksi berjalan lambat dan melelahkan. Itulah sebabnya mengapa saya memutuskan untuk belajar teknik mengolah logam.” Da Hoi, yang terletak sekitar 20 kilometer dari Hanoi, telah lama terkenal sebagai tempat pengolahan besi – yang tersebar di antara belantara sawah dan kebun sayuran.

Namun, setelah bertahun-tahun dan terutama munculnya pabrik manufaktur raksasa Samsung di dekat Bac Ninh, seluruh warga di Da Hoi mengalami kemajuan pesat. Hanya saja, ekspansi yang terjadi begitu cepat membuat Da Hoi tampak berantakan, dan terus-menerus diselimuti debu dan tanah. Transformasi di Da Hoi terjadi dengan biaya yang sangat tinggi. Tran hampir tidak mengakui adanya polusi tersebut ketika dia membicarakan bisnisnya.

“Kami dulu mengirimkan produk akhir ke Hanoi. Kami membuat kerangka jendela, baja untuk konstruksi dan bagian-bagian sepeda. Kami juga membuat kisi-kisi logam untuk ruko. Sekarang, karena ada begitu banyak kegiatan konstruksi, kami semua menjadi sangat sibuk.” Meski sudah tua, Tran tetap menjadi seorang pria yang memiliki tekad sekuat kerangka baja, yang dia telah produksi selama empat dekade terakhir. Tran sangat bangga dengan perjalanan keluarganya yang kembali pada kemakmuran, dengan mengatakan, “Saya punya empat belas anak. Mereka semua kaya dan menjabat sebagai CEO. ‘Keberuntungan’ telah kembali kepada kami.”

Sejenak dia berhenti, lalu menambahkan, “Iya, kebaikan telah datang kembali.” Anak perempuannya, Mrs Loi, tidak memiliki rasa percaya diri seperti ayahnya. Dengan ekspresi sedikit cemas, Loi, yang sekarang berumur empat puluh lima tahun, tumbuh dewasa di tengah-tengah masa kehancuran pada era 1980-an – ketika Vietnam berjuang melawan ketidakefisienan dari sebuah ekonomi yang dikontrol ketat oleh pemerintah.

Dapat bertahan hidup sudah merupakan suatu keberhasilan.

Tran Th? Loi di bengkel produksi baja miliknya dimana telah memproduksi bahan konstruksi dari besi batangan. Mesin di sebelahnya dibeli seharga 350.000 dollar AS atau Rp 4.550.000.000 | KARIM RASLAN

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah – suatu hal yang jarang terjadi pada saat itu – dia segera terjun dalam bisnis keluarga. “Saya tidak pernah memiliki mimpi yang besar. Saya terbiasa menjalani hidup yang keras. Semua yang saya inginkan hanyalah menyediakan makanan di atas meja.” Elektrifikasi terjadi pada 1991 dan mengubah segala sesuatu, tak terkecuali di Da Hoi.

Meski demikian, persaingan dengan Taiwan dan China sangat sulit bagi pemain bisnis kecil di Vietnam seperti bisnis milik keluarga Tran. Produk-produk Taiwan dan Cina memiliki kualitas baik tetapi harganya tinggi – dan inilah dimana para kompetitor di Asia Tenggara berusaha untuk mengalahkan mereka. Sebaliknya, anak perempuan Loi, Yeen – yang berusia delapan belas tahun dan kuliah Bahasa Spanyol di Universitas Hanoi – mempunyai semangat yang tinggi dan tekad yang kuat, tidak seperti ibunya yang cenderung waspada.

Berbicara di sebuah kedai kopi terkenal di luar kampusnya, Yeen memperlihatkan energinya yang meluap-luap. Dia juga memiliki senyum yang lebar yang mampu menyetrum jantung hingga berhenti berdetak. “Saya adalah yang pertama di keluarga yang bisa kuliah di universitas. Saya merasa sangat istimewa dan saya menerima banyak dukungan dari orang tua saya. Ibu saya ingin saya pulang setiap akhir pekan tapi saya punya mimpi lain. Saya ingin menyelesaikan kuliah saya dan jalan-jalan ke daerah lain. Saya memiliki kesempatan untuk menghabiskan sembilan bulan di Valladoid atau Santiago de Chile.”

“Tetapi saya sangat suka pergi ke bengkel dan melihat ibu saya mengelola segala sesuatu -. berbicara dengan klien dan stafnya. Dan kemudian melihat bagaimana proses sebuah logam dibentuk dan diolah menjadi berbagai bentuk lain. Pemandangan terbaik dari itu semua adalah ketika mereka menuangkan air ke besi panas dan kemudian meletup!” Ketika saya bertanya tentang apa yang dia rasakan mengenai semua penderitaan yang ibu dan kakeknya telah lalui, dia menjawab, “Kami sungguh dapat merasakan kepedihan yang dialami generasi tersebut. Dibandingkan dengan kami, mereka melewati hidup yang jauh lebih keras.”

“Namun saya berpikir sekarang adalah waktu yang sangat baik untuk tinggal di Vietnam – jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Saya bisa mengejar mimpi saya dan membuat diri saya menjadi lebih baik.” (Karim Raslan adalah kolumnis dan pengamat ASEAN. Dia telah menulis berbagai topik sejak 20 tahun silam. Kolomnya  CERITALAH, sudah dibukukan dalam “Ceritalah Malaysia” dan “Ceritalah Indonesia”. Kini, kolom barunya CERITALAH ASEAN, akan terbit di Kompas.com setiap Kamis. Sebuah seri perjalanannya di Asia Tenggara mengeksplorasi topik yang lebih dari tema politik, mulai film, hiburan, gayahidup melalui esai khas Ceritalah. Ikuti Twitter dan Instagramnya di @fromKMR)

Sumber: kompas kolom

Advertisement