Dampak El Nino, Festival Budaya Asmat Ditunda Tahun Depan

Dampak El Nino, Festival Budaya Asmat Ditunda Tahun Depan

Zem Irianto Padama (kiri) didampingi Darmawan (kanan) ketika menjelaskan wilayah yang terkena dampak badai El nino kepada wartawa di Kota Jayapura, Kamis | Foto: Jubi/Munir

Metro Merauke – Kekeringan sebagai dampak badai El Nino yang berkepanjangan dirasakan di wilayah Papua bagian selatan, salah satunya Kabupaten Asmat. Akibat kekeringan tersebutfestival budaya Asmat yang sedianya digelar bulan ini akhirnya ditunda hingga awal tahun depan. Sejak Juli 2015, menurut pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di daerah selatan dan Pegunungan Papua dampak Elnino tersebut sudah mulai kelihatan, seperti kekeringan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Asmat Simon Junumpit kepada wartawan melalui sambungan telepon selulernya mengatakan bahwa pihaknya dengan terpaksa harus menunda jadwal festival karena dampak kekeringan yang berkepanjangan di wilayah tersebut. “Sesuai jadwal tahunan, Festival Budaya Asmat digelar setiap tanggal 8-13 Oktober, tetapi karena kekeringan sejak Maret 2015, maka Festival Budaya Asmat tahun 2015 diundur sampai Januari 2016,” katanya.

Dikatakan Junumpit, kekeringan tahun ini paling parah. Biasanya kekeringan atau hujan tidak turun paling lama satu bulan. Untuk kebutuhan air minum saja menurutnya masyarakat harus mendatangkan dari luar Asmat. “Kapal disediakan oleh Pemda untuk mengangkut air yang dilakukan tiap tiga hari sekali. Air itu gratis untuk masyarakat dan dibagikan ke semua warga sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan agar bulan November hujan bisa turun sehingga masyarakat dapat mendapatkan air lebih dan tidak menunggu hingga ada bantuan dari Pemda per tiga hari tersebut. Terkait dengan festival budaya tersebut, pihaknya sudah mendapatkan laporan bahwa sudah ada dua warga asing, yaitu dua orang warga Prancis, yang berkunjung ke Asmat untuk menyaksikan festival budaya Asmat.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa BMKG Wilayah V di Jayapura, Papua, Zem Irianto Padama menuturkan bahwa dampak kekeringan yang disebabkan oleh badai El Nino hanya dirasakan di wilayah Selatan Papua, seperti Merauke, Asmat, Tanah Merah dan Pegunungan Papua, seperti Wamena dan lain sebagainya.

“Untuk perkiraan kami di wilayah Merauke baru akan terjadi musim hujan mulai Desember. Walaupun musim kemarau, tapi bukan berarti di wilayah tersebut tidak ada hujan, ada hujan tapi intensitas hujannya sangat rendah sekali atau di bawah normal,” kata Zem Irianto. Pada tangga 12, 13 dan 14 September 2015 lalu di wilayah Merauke terjadi hujan, tetapi intensitasnya hanya 0.3 milimeter sesuai yang terukur pada alat BMKG dan sangat rendah sekali. (Roy Ratumakin)

Sumber: tabloidjubi.com
Berita lama yang diposting ulang

Advertisement