Tujuh Anak Papua Korban Eksploitasi Kerap Diancam Terduga Pelaku

Tujuh Anak Papua Korban Eksploitasi Kerap Diancam Terduga Pelaku

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait bersama orangtua korban dalam konfrensi pers pengungkapan dugaan prkatik eksploitasi anak-anak dari sebuah rumah penampungan illegal di Jalan Intisari Raya, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Konfrensi pers digelar di kantor Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timut, Minggu (19/2) | Fachri Fachrudin

Metro Merauke – Ketua Komisi Nasional Perlindunga Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mengatakan, tujuh anak asal Papua yang ditemukan di penampungan illegal di Jalan Intisari Raya, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur selama ini tidak diperbolehkan keluar rumah. Rumah penampungan itu dikelolah SK (35). Arist mengatakan, pihaknya mendapat keterangan tentang keberadaan anak-anak itu dari tetangga dan ibu RT setempat.

Kalaupun anak-anak itu keluar rumah, mereka dipekerjakan untuk meminta sumbangan. “Tidak sampai keluar, tapi ditempatkan ke penampungan, tapi harus cari bantuan sosial. Ke tujuh orang ini dititipkan di tetangga, atau kadang-kadang di kunci di rumah penampungan,” kata Arist dalam konfrensi pers di Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (19/2).

Arist melanjutkan, anak-anak itu juga diperintahkan untuk meminta uang kepada orang tua mereka. Alasannya, untuk biaya sekolah. Arist menambahkan, di rumah penampungan itu salah satu dari tujuh anak tersebut kerap disuruh untuk membersihkan rumah. Anak tersebut adalah yang paling dewasa dibandingkan anak-anak lainnya di tempat itu, usianya 13 tahun.

Jika tidak bekerja sesuai yang diinginkan, SK tidak segan-segan mengancam anak tersebut. Ancamannya antara lain disuruh minum air pel, dihukum dengan cara mulut menganga dari pagi hari hingga esok harinya dengan batang lidi berdiri tegak di mulutnya, termasuk diancam diperkosa. Tak jarang, SK juga membenturkan kepala korban ke tembok. “Karena dia paling besar, diancam kamu nanti akan ada laki-laki (memperkosa), ya seperti itu. Kemudian tidurnya di lantai. Bentuk-bentuk kekerasan fisiknya seperti itu. Akibatnya, karena mengalami kekurangan makan, mandi kurang dan lain sebagainya, kulit macam luka-luka,” kata Arist.

Kasus eksploitasi anak itu terbongkar Jumat lalu. Dari ketujuh anak tersebut, empat diantaranya sudah diketahui identitasnya. Satu anak sudah dikembalikan keluarganya ke Semarang, Jawa Tengah. Tiga anak lainnya akan dibawa pihak keluarganya ke Timika Papua malam ini. Sementara tiga anak lainnya masih diidentifikasi. Ketiganya saat ini sudah berada di rumah aman milik Kementerian Sosial (Kemensos).

Untuk merekrut anak-anak itu, SK datang langsung ke Timika, Papua. Pelaku menemui orangtua korban kemudian menjanjikan bahwa anaknya akan dimasukkan ke seminari atau ke sekolah Katolik di Jakarta. Tersangka pelaku kini ditahan di Polres Jakarta Timur. Polisi masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap tersangka. (Fachri Fachrudin)

Sumber: Kompas.com

Advertisement