AJI Kecam Ancaman Pembunuhan Reporter RRI saat Pilkada Kota Jayapura

AJI Kecam Ancaman Pembunuhan Reporter RRI saat Pilkada Kota Jayapura

Ilustrasi

Metro Merauke – Salah seorang wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) Jayapura, Papua, Lina Umasugi mendapat ancaman pembunuhan dan larangan meliput proses Pilkada Kota Jayapura oleh sekelompok orang di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 30, Komplek Hanyaan, Entrop, Kota Jayapura, Rabu (15/2).

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura menyesalkan dan mengecam tindakan dan perlakuan terhadap jurnalis ini. “Tindakan intimidasi dan ancaman dengan kata-kata yang keras serta makaian terhadap jurnalis yang sedang melakukan kegiatan jurnalistik bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers,” tegas Ketua AJI Kota Jayapura, Eveerth Joumilena dalam rilisnya, Rabu (15/2).

Sesuai penyampaian Lina, kata Eveerth, perlakukan intimidasi yang dialaminya sesudah ia mewawancarai Ketua Panitia Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) setempat terkait pemilih yang diperbolehkan menyalurkan hak suara, tanpa mengantongi surat undangan dari penyelenggaran Pilkada.

Tiba-tiba, salah seorang pria datang dan langsung mengusir reporter tersebut agar tak meliput. Pria itu mengikuti Lina dan mengancam akan membunuhnya jika tidak segera meninggalkan tempat itu. “Kamu dari RRI ya? Keluar dari sini, cepat ko keluar dari sini jika tidak kamu mati nanti. Tidak boleh ada wartawan di sini,” kata Eveerth mengutip apa yang disampaikan Lina.

Reporter RRI ini pun mengikuti perintah pria tersebut. Namun ketika hendak meninggalkan lokasi, lelaki yang mengusirnya itu terus membuntuti sambil marah-marah. Selain itu ada juga sejumlah perempuan ikut marah-marah dengan makian yang kurang pantas kepadanya. “Saya jalan sambil tunduk, dan cuma bilang terima kasih kepada mereka,” kutip Eveerth lagi.

Ditegaskan, tindakan intimidasi dan ancaman pembunuhan terhadap jurnalis jelas melawan hukum dan mengancam kebebasan pers. Tujuan dari peliputan Pilkada Kota Jayapura oleh wartawan RRI, Lina Umasugi adalah untuk sebuah pemberitaan laporan pandangan mata terhadap proses demokrasi yang sedang berlangsung, Rabu (15/2).

AJI Jayapura, tambah Eveerth mendorong jurnalis yang menjadi korban intimidasi untuk melaporkan kasus kekerasan ini ke kepolisian setempat untuk diusut. Apalagi setelah ada ancaman pembunuhan.

“Tindakan kekerasan ini mencerminkan pelaku tidak menghargai dan menghormati profesi jurnalis. Pasal 8 UU Pers dengan jelas menyatakan dalam melaksanakan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum. Pers juga mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial, seperti yang diatur dalam pasal 3 undang-undang tersebut,” jelasnya. (Emanuel)

Advertisement