Lagi, Tokoh Agama Merauke Desak Pasar Malam Ditutup

Lagi, Tokoh Agama Merauke Desak Pasar Malam Ditutup

Ulama Muslim Merauke, Ustad Abdul Kadir Arif

Metro Merauke – Desakan agar aktivitas pasar malam di Jalan Seringgu, Merauke, Papua ditutup kembali diserukan oleh tokoh agama, karena diduga sarat perjudian. Sebelumnya, disoroti seorang imam Katolik, kali ini salah seorang ulama Muslim Merauke, Ustad Abdul Kadir Arif.

Ditegaskan Ustad Abdul, yang namanya perjudian sangat diharamkan dalam ajaran agama Islam. Pihaknya sangat menyesalkan jika pemerintah terkesan ‘memelihara’ perjudian di Merauke.

“Pemerintah dan aparat sebaiknya ambil sikap tegas dan mencegah. Pada prinsipnya, perjudian dilarang baik oleh regulasi maupun agama. Karena sangat besar mudaratnya,” kata Ustad Abdul kepada wartawan, kemarin.

Ia mengaku telah mendapat informasi jika aktivitas pasar malam tersebut ditunggangi permainan-permainan yang bersifat judi. “Ustad, mubalik bersama pendeta, pastor maupun tokoh agama lainnya, saya rasa sama menentang dan sangat antipati terhadap perjudian,” ujarnya.

Ustad Abdul meminta aktivitas dalam pasar malam itu sebaiknya ditutup jika ada perjudian di dalamnya. “Judi menjadi akar dari segala persoalan, seperti KDRT, pencurian dan jambret. Karena perbuatan yang satu ini banyak memicu. Jadi jangan kita berdiam diri,” tegasnya.

Ia menambahkan generasi bangsa akan rusak kalau diracuni dengan berbagai penyakit sosial, seperti perjudian. “Kami sesalkan ini. Apapun namanya tetap ini adalah suatu hal yang tidak sesuai dengan undang-undang serta ajaran agama,” pungkasnya.

Sebelumnya, salah seorang imam di Keuskupan Agung Merauke, Pastor Anselmus Amo MSC, mengkritik kinerja kepolisian setempat terkait aktivitas perjudian di pasar malam yang berlokasi di Jalan Seringgu, Merauke.

“Semua agama melarang dan pemerintah melarang. Saya meragukan orang-orang yang menamakan diri beragama itu masuk atau terlibat dalam perjudian. Itu jelas merusak,” ujarnya.

Pastor Amo meminta Polres Merauke sebaiknya menutup stand-stand judi di pasar malam. Jika tidak bertindak, kinerja kepolisian patut dipertanyakan. Dari aspek agama dan sosial perjudian menjadi penyakit masyarakat.

“Efek dari judi banyak sekali, efek sosial dan hukum tentunya. Judi itu sudah penyakit yang merusak mental. Kalau bilang perputaran ekonomi di situ, tentunya yang dihendaki adalah perputaran ekonomi yang sehat, bukan perjudian,” tandasnya. (Nuryani/LKF/Emanuel)

Advertisement