Ya Ampun… SMA Negeri Senayu KBM di Halaman dan Tempat Parkir Sekolah Dasar

Ya Ampun… SMA Negeri Senayu KBM di Halaman dan Tempat Parkir Sekolah Dasar

Para guru SMA Negeri Satu Atap Senayu Merauke mengerjakan dua ruang kelas sekolah itu

Metro Merauke – Potret pendidikan di daerah paling timur Indonesia, Kabupaten Merauke, Papua masih sangat memprihatinkan. Apa yang dijumpai di Kampung Senayu, Distrik Tanah Miring bisa jadi cermin ‘buram’ pendidikan di daerah ini.

Setahun sudah, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Satu Atap Senayu meminjam salah satu ruangan Sekolah Dasar (SD) Inpres Senayu. Namun belakangan ini, siswa-siswi SMA harus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di halaman maupun di tempat parkir SD tersebut.

Salah seorang guru sekaligus penggagas SMA Negeri Satap Senayu, Nikson T. Notanubun mengatakan, Dinas Pendidikan dan Pengajaran Merauke mengeluarkan izin operasional sekolah itu pada tahun 2014 lalu. “Tahun 2015-2016 kami pinjam ruang kelas SD Senayu, tapi sudah dipakai kembali oleh sekolah itu. Maka kami pinjam halaman dan tempat parkir untuk KBM sementara waktu,” ungkap Nikson, kemarin.

Dia mengungkapkan, sekolah itu nyaris tidak diperhatikan pemerintah daerah. Bangunan sekolah tidak ada, sarana prasarana tak memadai, tenaga guru kurang maupun gaji para gurunya rendah.

Karena sudah tak memiliki tempat yang nyaman lagi, pihak SMA Satap Senayu mulai membangun 2 ruang belajar, konstruksinya dari kayu. Dana pembangunan pun dikumpulkan secara swadaya, juga dibantu oleh kepala kampung setempat.

“Guru-guru saling men-support. Ada yang memberikan sumbangan baik bahan bangunan maupun uang semampunya,” ungkap Nikson yang juga Kepala Sekolah SMP Negeri Satap 4 Merauke.

Dalam keterbatasan, Nikson optimistis proses belajar mengajar sekolah itu tetap berjalan. Baginya, kekurangan fisik sekolah bukan sebuah hambatan untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada generasi muda. “Uang yang dikumpul dari guru-guru dan bantuan dari kepala kampung, kami manfaatkan untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan. Para guru sendiri yang mengerjakan bangunan itu,” ungkapnya lagi.

Awal beroperasional, kata Nikson, jumlah siswa SMA Negeri Satap Senayu sebanyak 40 orang. Namun sekarang tersisa 18 orang, karena kondisi sekolah yang kurang sarana prasarana. “Saya membuka sekolah ini atas permintaan masyarakat. Tapi itu sudah, banyak kekurangan yang kami alami,” tuturnya.

Ia menambahkan, tenaga guru honor di sekolah itu hanya dibayar Rp500.000/bulan. Meski hak yang diterima tak sesuai pengorbanan, mereka tetap melaksanakan tugas untuk mendukung visi misi pemerintah. “Ada 2 guru PNS dan sisanya guru honor yang mengajar di SMA Negeri Satu Atap Senayu,” pungkasnya. (Getrudis/Emanuel)

Advertisement